Bagaimana Membaca Hasil Survei?

  1. A. Pengantar

Menyusul kejatuhan Orde Baru 21 Mei 1998 dan bangsa Indonesia memasuki era sistem politik baru,  keterbukaan menjadikan ruang demokrasi yang semakin lebar,  disusul suasana euforia hampir di semua bidang kehidupan. Dalam bidang politik lahirlah Undang-Undang No. 32 tahun 2004 yang mengatur pemilihan langsung, baik di tingkat daerah, provinsi maupun pusat  sejak 2005.  Melalui undang-undang itu  praktik perpolitikan nasional berubah drastis dari sistem konsensus menjadi kompetisi antarelit.

 

Terkait pemilihan langsung tersebut, bermunculan lembaga-lembaga survei yang mengukur  tingkat elektabilitas calon pemimpin politik. Jumlah lembaga survei itu kini mencapai puluhan. Mereka saling berlomba untuk memperoleh hasil terbaik di setiap kontestasi politik.  Secara keilmuan, gejala demikian sangat baik demi pengembangan ilmu, khususnya metodologi penelitian kuantitatif. Dampak lain secara praktis ialah  para calon dapat memanfaatkan hasil survei; yang masih tertinggal elektabilitasnya bisa bekerja lebih keras untuk mengejar ketertinggalan, dan yang elektabilitasnya tinggi dapat mempertahakannya. Dampak negatifnya adalah  ada lembaga-lembaga survei yang dituduh tidak independen (netral) dan bekerja karena melaksanakan tugas dari pihak sponsor atau yang  membayarnya. Masalah lainnya ialah ketika hasil survei meleset dari hasil pemungutan suara, maka tuduhan negatif ke lembaga survei tak dapat dihindari. Lembaga survei tak jarang memperoleh hujatan dari pihak yang merasa dirugikan.  Tulisan pendek ini membahas bagaimana sejatinya membaca hasil survei secara jernih.

B. Survei dan Kendalanya

Ada berita menarik dari Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon beberapa waktu lalu bahwa dia tidak lagi percaya pada lembaga survei yang menurutnya  tidak  independen,  sudah menjadi lembaga survei bayaran yang pura-pura independen.  Karena itu, bisa diduga hasil survei tergantung pada siapa yang membayarnya. Dia memberi contoh hasil survei di Pilkada DKI dan Jawa Barat yang meleset. Mengapa survei bisa meleset di dua lokasi itu? Menurutnya metodologinya sudah usang di era media sosial. “Harusnya lembaga2 spt ini membubarkan diri ketika hasil survei mrk meleset jauh” tulis Fadli Zon melalui Twitternya.

Mengapa Fadli bereaksi keras seperti itu? Sebelumnya LSI pimpinan Denny JA merilis hasil survei terbarunya tentang kontestasi Pilpres 2019, yang dilakukan mulai 10 sampai 19 November 2018. Berdasarkan hasil survei LSI elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin lebih unggul dari pasangan Prabowo-Sandi. Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin memperoleh 53,2%, sedangkan pasangan Prabowo-Sandi memperoleh 31,2%. Sebagai pendukung berat pasangan Prabowo-Sandi, Fadli Zon rupanya kecewa berat dengan hasil tersebut, karena dianggap bias dan bisa berdampak buruk bagi pasangan yang didukung.

Apalagi dari hasil beberapa kali survei sebelumnya elektabilitas pasangan yang didukung Fadli Zon masih  rendah, sehingga andai pilpres diadakan saat survei dilakukan pasangan itu diprediksi akan kalah. Sangat wajar jika Fadli Zon kecewa dan menuduh lembaga-lembaga survei itu sudah bermuatan kepentingan dan tidak lagi independen. Sebab, dalam politik hasil survei dapat dipakai sebagai alat kampanye dan legitimasi untuk mendukung pasangan calon.

Menanggapi tudingan Fadli Zon, Yunarto Wijaya pendiri Lembaga Survei Charta Politika tak tinggal diam.  Melalui Twitternya, Yunarto menulis “Kalau quick count yang terbukti menipu (bukan salah) anda percaya? Coba check dulu intelektualitas anda yang sudah usang jangan2?”. Perang wacana antara politisi dan peneliti melalui media sosial pun tak terhindarkan. Untuk memperkuat argumennya, Yunarto menyampaikan bukti bagaimana hasil ribuan survei yang telah dilakukan pada pilkada 2005 dan pilpres 2014 yang hasilnya tidak meleset. Hasil ribuan  survei sebelumnya di luar Pilkada DKI dan  Jawa Barat tidak beda jauh dengan hasil hitungan pemilihan yang sebenarnya.

Bagaimana mestinya menyikapi hasil survei atau hasil penelitian pada umumnya? Sebagaimana diketahui survei adalah salah satu jenis penelitian kuantitatif. Jenis lainnya ialah eksperimen, korelasi, penelitian ex post facto, sensus, termasuk quick count. Survei itu apa? Menurut Singarimbun (1989: 3) survei ialah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Menurut Creswell (2008: 388) survei ialah penelitian yang digunakan untuk memperoleh gambaran tentang perilaku, pendapat, persepsi atau karakteristik secara umum dari suatu populasi. Survei mengumpulkan data melalui kuesioner yang dikirim ke responden secara elektronik dan interviu langsung kepada informan kemudian menganalisisnya secara statistik untuk melihat kecenderungan respons jawaban responden dan menguji pertanyaan penelitian atau hipotesis yang diajukan. Berbeda dengan sensus yang informasinya dikumpulkan dari seluruh populasi, survei adalah penelitian yang basis datanya diambil dari sampel.

Dalam survei, objek utamanya sebagai sumber data ialah manusia yang disebut responden. Kepada responden ditanyakan tentang persepsi atau preferensinya terhadap sebuah hal, misalnya tentang calon dalam pilkada, pileg, pilpres atau tentang kebijakan publik yang dilakukan pemerintah. Jadi dalam survei yang ditanyakan ialah tentang persepsi subjektif individual terhadap sesuatu. Karena responden itu manusia, dan salah satu sifat dasar manusia mudah berubah, maka sangat mungkin persepsi ketika mengisi jawaban angket atau saat wawancara dengan keputusan akhir ketika memberikan suaranya di TPS berbeda.

Pergeseran waktu dan tempat survei juga dapat mengubah keputusan akhir suatu pilihan. Itu sebabnya di setiap survei biasanya diikuti pernyataan “Andai pemilu atau pilkada diadakan saat ini (saat survei dilakukan), siapa pemenangnya”.  Tempat menjawab kuesioner atau tempat wawancara yang berbeda dengan saat pemilihan bisa juga mengubah preferensi seseorang terhadap calon. Itu artinya hasil survei  fluktuatif. Bisa saja seseorang unggul dalam survei tetapi ternyata kalah di saat pemilihan karena pergeseran waktu.

Karena survei pada hakikatnya adalah penelitian sampel, maka peran sampel sangat penting. Dari sampel inilah kebenaran atau kesalahan hasil survei akan ditentukan. Syarat utama sampel adalah keterwakilan (representativeness) yang diperoleh secara random atau acak. Sampel harus mewakili populasi (walaupun dalam tradisi penelitian kualitatif “wakil” tidak akan pernah sama dengan “yang diwakili”). Misalnya, survei tentang sikap politik masyarakat Indonesia terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2019, maka masyarakat (penduduk) Indonesia sebagai populasinya. Karena tidak mungkin menyebarkan angket ke semua penduduk Indonesia yang jumlahnya saat ini sudah lebih dari 260 juta, maka peneliti mengambil sampel. Menurut  Creswell  (2008:  394) agar sampel bisa menyamai populasi, maka gunakan sampel sebanyak-banyaknya.

Bagaimana  cara memperoleh sampel dalam penelitian survei? Menurut Purnamasari (2018) dalam  penelitian survei dikenal banyak macam metode pengambilan sampel, tetapi yang paling banyak digunakan ialah stratified random sampling dan multistage random sampling. Dalam stratified random sampling, sampel diambil dari kategori-kategori yang telah ditentukan dengan karakteristik yang sama. Misalnya, kategori demografi, jenis kelamin, usia, pendapatan, pekerjaan, pendidikan, pengalaman memilih, etnik, agama dan sebagainya. Sedangkan dalam multistage random sampling, sampel diambil secara bertingkat. Misalnya, pada survei Pilgub Jatim sampel diambil dari tingkat kabupaten/kota di Jawa Timur, dilanjutkan ke tingkat kecamatan, hingga desa/kelurahan. Semua tingkatan daerah terbagi habis.

Selain kuesioner sebagai instrumen utama perolehan data, dalam peneliti survei juga menggunakan  wawancara atau sering disebut survei interviu. Jika kuesioner yang disebar ke responden sudah berisi pilihan jawaban yang telah disediakan peneliti dan responden tinggal memilih di antara jawaban tersebut, maka dalam wawancara peneliti mencatat jawaban yang diberikan oleh responden. Peneliti bertanya pertanyaan atas dasar pedoman wawancara, mendengarkan mereka, mengamati perilaku dan mencatat respons mereka.

Wawancara dalam survei (quantitative survey interviews) tidak sama dengan wawancara yang lazim digunakan dalam penelitian kualitatif. Dalam wawancara survei peneliti menggunakan wawancara terstruktur atau semi-terstruktur yang berisi pertanyaan tertutup (close ended questions), memberikan pilihan jawaban kepada informan dan mencatat respons mereka. Sedangkan wawancara dalam penelitian kualitatif, peneliti bertanya dengan pertanyaan terbuka (open-ended questions) tanpa pilihan jawaban atau respons. Peneliti mendengarkan dan mencatat respons informan. Kuesioner dan wawancara bisa dalam bentuk surat menyurat (mailed questionnaires), elektronik (electronic questionnaires), wawancara langsung, wawancara melalui kelompok diskusi (focus group discussion), atau wawancara melaui telepon. Masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya.

Apa gunanya wawancara dalam survei? Wawancara survei dilakukan untuk memperoleh data secara cermat dan terstruktur. Dalam wawancara survei kesamaan suatu jenis informasi sangat diutamakan. Informasi temuan  dibuat dalam bentuk numerik, frekuensi,rata-rata dan sebagainya.

Meminta responden atau sampel menjawab pertanyaan dalam kuesioner atau diajak wawancara bukan pekerjaan gampang. Ada jenis responden atau informan yang sangat sibuk sehingga sulit ditemui. Ada yang bisa ditemui tetapi tidak bersedia diajak wawancara. Ada yang bersedia menjawab pertanyaan  wawancara, tetapi menjawabnya sekenanya. Apa yang dilakukan seorang surveyor ketika menemui responden semacam itu? Ketika responden atau sampelnya sulit diakses, maka peneliti atau surveyor mencari responden atau sampel pengganti. Misalnya, karena respondennya kebetulan orang sibuk dan jarang ada di rumah, maka sebagai gantinya peneliti meminta anggota keluarga lainnya yang ada.

Pendiri SMRC, Saiful Mujani memberi contoh mengapa hasil survei Pilkada DKI meleset. Salah satu sebabnya ialah sulitnya mengakses responden. Responden yang terpilih sulit ditemui dan jika didatangi yang keluar dari rumah ialah anjing atau pembantunya. Dari pada susah-susah, peneliti memanfaatkan orang yang ada sebagai responden pengganti untuk mengisi angket atau menjawab wawancara. Selain bergantinya responden, penyebab kesalahan lainnya adalah karena data tidak valid, sampel tidak mewakili populasi, analisis yang tidak tepat, adanya responden yang masih menjadi “swing voters” ,  dan penelitinya kurang kompeten. Semakin besar jumlah “swing voters atau massa mengambang, semakin besar peluang terjadinya perbedaan antara hasil survei dengan hasil pemilihan.

Mengapa responden pengganti menjadi salah satu penyebab kesalahan dalam survei?. Karena preferensi responden semacam itu bisa jadi tidak sama dengan responden asli yang datang ke TPS untuk memberikan suaranya. Sebagaimana dinyatakan di muka bahwa pengganti tidak akan sama dengan yang diganti, atau wakil tidak akan  sama dengan yang diwakili.

Jika jumlah responden pengganti semacam itu banyak, maka hampir pasti hasil survei tidak akan sama dengan hasil akhir pemilihan. Selain itu, dalam penelitian survei selalu ada populasi yang belum menentukan sikap pilihan. Jika jumlah yang belum menentukan ini juga banyak, maka sangat besar peluang mengubah hasil survei. Itu sebabnya, dalam survei selalu ada bagian “margin of error”, yakni peluang terjadinya kesalahan akibat sampel yang tidak tepat (sampel tidak mewakili populasi). Semakin kecil “margin of error”, semakin besar peluang hasil survei benar dengan hasil pemilihan yang sebenarnya, dan sebaliknya.

Mengambil sampel agar dapat mewakili keseluruhan populasi diakui sangat sulit. Itu sebabnya diperlukan tingkat toleransi dari kesalahan sampel supaya bisa mendekati populasi. Disebut “mendekati” karena mewakili populasi secara mutlak tidak mungkin terjadi.

Menyikapi hasil survei terkait Pilpres 2019, Fadli Zon mestinya bisa bertanya ke penanggung jawab  survei apakah  datanya valid, metode dan analisisnya benar, dan penelitinya kompeten. Jika semuanya benar dan hasil survei dapat dipertanggungjawabkan, maka Fadli Zon mestinya justru berterima kasih kepada penyelenggara survei. Dia tidak perlu emosi dengan meminta lembaga-lembaga survei dibubarkan. Dia  mestinya juga berpikir apa jadinya jika hasil survei mengunggulkan pasangan yang didukung sehingga dia senang dan ternyata survei itu salah atau sengaja dibuat salah. Betapa fatalnya kebijakan yang akan diambil atas dasar hasil survei.

Dari hasil survei yang belum memuaskan, Fadli Zon dan timnya bisa bekerja lebih keras mengejar pesaingnya. Dari waktu yang tersisa, dia dan kawan-kawan bisa melakukan analisis mengapa tingkat elektabilitas calon yang didukung masih rendah. Hasil analisis digunakan untuk mengambil strategi mendekati pemilih.

Sebaliknya, bagi pasangan yang diunggulkan dalam survei tidak boleh membusungkan dada dan merasa terlalu konfiden bisa memenangkan pemilihan. Sebab, hasil survei bisa berbeda dengan hasil pemungutan suara karena sebab-sebab sebagaimana diutarakan di muka. Sikap hati-hati, tidak menyakiti hati rakyat sebagai pemilih, strategi berkampanye yang tepat dengan memberi harapan yang lebih baik kepada masyarakat, dan merangkul semua golongan  merupakan modal utama memenangkan Pilpres yang akan datang.

C. Penutup

Penelitian apapun jenis dan metodenya adalah produk pemikiran manusia, sehingga  tidak lepas dari kesalahan atau  kelemahan. Penelitian kuantitatif,  seperti survei, yang sering disebut paling objektif sekalipun, tidak lepas dari kelemahan atau kekurangan. Karena itu, jika hasil survei di beberapa tempat ada yang meleset sangat bisa dimaklumi. Dibanding hasil yang benar yang mencapai ribuan, yang salah itu tidak seberapa.

Penelitian hakikatnya upaya manusia yang dilakukan secara sistematis, sistemik, terencana dan terkontrol untuk memperoleh kebenaran secara ilmiah. Kebenaran ilmiah bukan  kebenaran mutlak, atau absolut. Kebenaran absolut satu-satunya adalah kebenaran agama. Sebagaimana dinyatakan Popper kebenaran secara ilmiah diterima sepanjang belum ada teori lain yang menyalahkannya, yang dilazim disebut sebagai falsifikasi. Dengan kata lain, kebenaran ilmiah bersifat tentatif.

Karena sehebat apapun kerja ilmiah tetap ada sisi kekurangannya, maka tersirat sebuah pesan moral yang menyadarkan kita betapa sesungguhnya tak ada yang bisa disombongkan dari pengetahuan yang dimiliki manusia. Apalagi mengklaim sebagai orang yang menguasai ilmu pengetahuan sampai puncak, orang lain dianggapnya salah atau bodoh, dan merasa dirinya paling benar.

Salah satu tugas ilmuwan adalah mencari kebenaran ilmiah. Islam mengajarkan kita karena manusia diberi akal sebagai anugerah Allah swt yang luar biasa, maka melalui akalnya manusia disuruh berijtihad untuk memikirkan dunia dan seluruh isinya dengan membaca ayat-ayat qauniyyah. Andai saja dalam pencarian kebenaran itu salah, penghargaan masih layak diberikan kepada pencari kebenaran karena upayanya. Yang tidak patut diberi penghargaan adalah jika ilmuwan/peneliti itu melakukan kebohongan dengan memanipulasi data dan membuat simpulan yang menyesatkan. Dari sini tragedi kemanusiaan bermula.

Lima bulan lagi, tepatnya pada 17 April 2019, kita akan menyaksikan apakah hasil survei salah atau benar serta tidak independen, seperti yang dituduhkan Fadli Zon. Kita akan melihat apakah para surveyor itu ilmuwan pragmatis atau ilmuwan politisi, yang bekerja karena pesanan politik tertentu. Kita semua berharap mereka adalah peneliti/ilmuwan sejati yang karyanya berguna bagi kemaslahatan masyarakat luas!.

_________

Malang, 28 November  2018

Daftar Pustaka

Creswell, John W. 2008. Educational Research: Planning, Conducting, and

Reavaluating Quantitative and Qualitative Research. New Jersey: Perarson Education Ltd.

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi (ed.). 1989. Metode Penelitian Survai.

Jakarta: LP3ES.

Saiful, Mujani. 2018. News/Metropolitan, Suara. Com.

Purnamasari, Dinda. 2018.  “Memahami Margin of Error dan Metode Sampling

Pada Survei”. (Tirto.id – din/zen)

Visits: 142
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *