Berbahasa itu Bagaimana? Benar tapi tidak lazim, atau Salah tapi umum

Di dalam perkuliahan filsafat bahasa program magister, seorang mahasiswa bertanya kepada saya “Dalam berbahasa itu kita ikuti kaidah umum tapi salah atau menggunakan kaidah yang benar walau mungkin terasa asing?”.”Mana yang mesti kita pilih?”, tanyanya lebih lanjut.  Awalnya, mahasiswa itu menggunakan  kata yang benar menurut kaidah bahasa (Indonesia), yaitu kata “manajemen” sebagai terjemahan dari kata bahasa Inggris “management”. Dia mengatakan kuliah di program studi “manajemen” pendidikan. Dia konsisten mengucapkan kata “manajemen” sebagai terjemahan “management”. Kawan-kawannya menertawakan dan membentulkannya menjadi “menejemen”.

 

Saya sampaikan kepada mahasiswa itu bahwa dialah yang benar. Sedangkan teman-temannya yang seolah membetulkan ucapannya sambil menertawakannya itu malah yang salah. Dalam berbahasa (lisan maupun tulis) dalam bahasa apapun kita gunakan prinsip “kebenaran” sesuai kaidah dalam bahasa yang dipilih, walau terasa asing. Karena asing, mungkin ditertawakan oleh yang mendengarnya. Hindari hal-hal yang salah, walau banyak orang menggunakannya.   Sebab,  kebenaran dalam berbahasa tidak ditentukan banyak atau sedikitnya pengguna, tetapi lebih pada kaidah yang telah dibuat para ahli. Bisa saja orang yang menertawakan itu pada akhirnya malu setelah menyadari kesalahannya. Jangan ikut-kutan mengucapkan atau menulis kata yang salah walau yang melakukannya itu banyak.

Di dunia ini ada bahasa yang sudah mapan (established), seperti bahasa Inggris dan bahasa-bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan ada bahasa yang belum mapan. Bahasa Indonesia itu tergolong bahasa yang belum mapan,  baik dari sisi kosakata maupun aturan-aturan atau gramatika. Dari sisi kosakata, bahasa Indonesia belum banyak, sehingga harus  menyerap kosakata dari bahasa apapun di dunia, tetapi  tulisan dan  ucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Misalnya kata “sukses” diambil dari bahasa Inggris “success”, “energi” berasal dari bahasa Inggris “energy”, “riset” dari kata “research”, dan seterusnya.

Mengutip wartawan dan sejarahwan terkenal dari Swiss, Herbert  Luethy, Anderson (dalam Latif dan Ibrahim, ed., 1996: 124) menyatakan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa “sintesis” yang meminjam secara terang-terangan dan tanpa pandang bulu semua terminologi teknis dan abstraksi ideologis dari dunia modern. Bahkan banyak terminologi itu yang tidak dimengerti secara jelas oleh penutur bahasa Indonesia sendiri. Ungakapan Anderson merupakan bukti bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa yang belum “jadi”, atau dalam proses menuju “jadi”, sehingga penyerapan kosakata dari bahasa-bahasa lain tak dapat dihindari.

Bahasa Indonesia juga memiliki kaidah yang berbeda dengan bahasa lainnya, misalnya bahasa Inggris, Arab, dan seterusnya. Dalam bahasa Indonesia ada kaidah  penulisan atau pengucapan kata jamak tidak boleh diawali dengan kata “para” atau “banyak”. Misalnya, “para murid-murid”, atau “para orangtua-orangtua siswa”, dan sebagainya.  Kaidah ini bertolak belakang dengan kaidah dalam bahasa Inggris di mana kata jamak harus diikuti bentuk jamak dar kata benda yang disebut. Misalnya, “many children” , “many wives”, “some criteria”, dan sebagainya. “children” merupakan bentuk jamak dari kata “child”,  “wives” dari “wife”, dan “criteria” dari “criterion”.

Di acara-acara rapat, atau pertemuan-pertemuan formal, kita sering mendengar ucapan dari pembawa acara (master of ceremony) sebagai kalimat pembuka seperti “Para bapak-bapak/ibu-ibu, dan hadirin yang berbahagia …..”. Sekilas pada kalimat itu tidak ada yang salah, karena saking seringnya kita mendengar atau membacanya. Padahal, di dalamnya terdapat kesalahan sangat serius. Lebih parah lagi, kalimat yang sama juga diucapkan atau ditulis seorang pejabat yang berpendidikan tinggi. Bisa jadi karena para pejabat sudah menggunakannya, kalimat yang salahpun dianggap benar. Di masyarakat kita,  orang sering meniru apapun tindakan pemimpinnya, termasuk dalam berbahasa. Itu sebabnya pemimpin tidak boleh salah dalam semua hal.

Di mana kesalahan kalimat pembuka tersebut? Kata jamak “para” tidak perlu diikuti kata jamak “bapak-bapak dan ibu-ibu”. Mestinya cukup diucapkan “Para bapak dan Ibu”. Bagaimana dengan kata “hadirin”.  Samsudin Adlawi dalam (Tempo, 18/9/2016: 59) mengulas kata “hadirin”. Menurutnya kata “hadirin” merupakan serapan dari bahasa Arab dari akar kata “hadura”, yang artinya “menghadiri”. “Hadirin” sendiri merupakan  “ism fa’il” (kata benda pelaku) berbentuk jamak (plural).  Bentuk tunggalnya “hadir” (seorang yang hadir/menghadiri). Ketika orang yang menghadiri lebih dari dua atau bahkan tak terhingga, sebutan yang tepat untuk mereka adalah “hadirin” atau “hadirun”. Begitu juga kata “hadirat”, dalam KBBI (2001: 380) artinya adalah “semua yang hadir (perempuan)”. Menyebut “hadirin  dan hadirat” sudah tepat, tidak perlu “para hadirin dan hadirat”.

Dengan menggunakan kata “para” berarti kata benda pelaku yang mengikutinya lebih dari satu. Karena kata “para” merupakan kata penyerta yang mengacu pada kelompok, maka terjadi kesalahan serius jika diucapkan atau ditulis “Para bapak-bapak, ibu-ibu, dan hadirin yang berbahagia …”.  Ucapan atau tulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah “Para bapak, ibu dan hadir yang berbahagia …”. Mungkin orang yang mendengar atau membaca kalimat itu akan tertawa karena dianggap aneh, khususnya pada kata “hadir”, karena jarang kita dengar. Tetapi jika suka dengan kata “hadirin”, maka penggunaan yang tepat ialah “Bapak-bapak, ibu-ibu dan hadirin yang berbahagia…”, tanpa kata depan “para” .

Selain kata “hadirin “ yang sering disalahgunakan penggunaannya, ada kata lain, yaitu “ulama”. Menurut Adlawi, sama seperti “hadirin” yang merupakan serapan dari bahasa Arab, kata “ulama” juga kata serapan yang berarti “orang berilmu”. Kata “ulama” merupakan bentuk jamak dari kata “alim”. Karena itu tidak perlu mengucapkan  atau menulis “para ulama” . Atau kalau tetap menggunakan kata “para”, maka kata yang tepat bukan “ulama”, melainkan “alim”, sehingga ungkapan yang benar adalah “Para alim yang kami hormati…”.

Dalam berbahasa masyarakat kita terkenal latah. Kita sering mendengar ucapan  “Para alim yang terhormat…” (dan itu benar menurut kaidah bahasa Indonesia), masih ditambah dengan “ulama”, sehingga kalimatnya menjadi “Para alim ulama yang terhormat…”. Ungkapan “para alim” sudah betul, sehingga tidak perlu tambahan “ulama”.

Kata pembuka juga yang sering salah penggunaannya ialah “berbahagia”. Misalnya, seorang pejabat memberi sambutan dengan kalimat “Dalam kesempatan yang berbahagia ini, ….”.  Kata “berbahagia” dalam KBBI (2006: 87) artinya 1). dalam keadaan bahagia, 2). menikmati kebahagiaan.  “Kesempatan “ adalah kata benda (bukan orang), sehingga tidak bisa “bahagia”. Yang bisa bahagia atau berbahagia ialah orang.  Kalimat pembuka itu mestinya berbunyi “Dalam kesempatan yang membahagiakan ini….”,

Selain latah, gejala lain dalam masyarakat kita dalam berbahasa ialah ceroboh atau tidak cermat. Kata yang ejaannya sudah dibakukan dalam bahasa Indonesia dengan jelas pun sering diucapkan salah. Selain kata “manajemen” di atas, kata yang sering disalahucapkan  ialah kata “pasca”. Sesuai kaidah bahasa Indonesia, ucapan sama dengan tulisannya, maka ucapan yang benar ialah “pasca”, bukan “paska”. Anehnya,  yang membuat kesalahan itu tidak hanya mahasiswa pasca yang baru masuk, tetapi para dosen yang notabene berpendidikan tinggi (S3), malah ada yang sudah bergelar profesor.

Mengucapkan “para bapak-ibu” “para hadir”, “para hadirat”, “para alim” “manajemen”, “pasca”, “kesempatan yang membahagiakan …”, dan sebagainya terasa lebih efektif, walau mungkin terdengar asing di telinga kita. Terasa asing atau aneh karena kita sudah terbiasa menggunakannya dengan salah. Mulailah sesuatu yang benar, walau mungkin menjadi orang asing di tengah-tengah keramaian, yang dalam sosiologi dikenal dengan istilah “stranger in the crowds”.

Gunakan prinsip berbahasa yang baik dan benar.  Berbahasa yang baik artinya sesuai konteks penggunaannya. Sedangkan berbahasa yang benar ialah mengikuti semua kaidah dalam bahasa itu. Jika berbahasa Indonesia, gunakan kaidah bahasa Indonesia, jika berbahasa Inggris atau Arab, gunakan kaidah bahasa Inggris atau Arab. Jangan berbahasa Indonesia tetapi menggunakan  kaidah bahasa  asing (Arab dan Inggris) seperti kasus di awal tulisan ini

Bahasa adalah citra diri. Setiap orang tentu ingin citra dirinya baik di depan orang lain. Karena itu, menjaga citra diri itu penting dalam kehidupan. Tetapi sering terjadi citra diri seseorang rusak bukan oleh orang lain, tetapi justru oleh dirinya sendiri. Salah satu sebabnya ialah karena kecerobohan, ketidakcermatan, dan kelatahan berbahasa. Sayang kan?

________

Malang, 2 Desember 2018

Visits: 87
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *