Analisis Isi (Content Analysis) dalam Penelitian Kualitatif

Analisis Isi atau sering disebut sebagai “Content Analysis” merupakan salah satu metode penelitian yang sangat penting dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Ia berusaha memahami isi teks dengan melihatnya sebagai gejala simbolik, bukan sekadar kumpulan ceritera atau peristiwa yang satu dengan lainnya tidak saling berhubungan.  Secara lebih spesifik, analisis isi digunakan untuk menganalisis pesan teks secara utuh dengan penekanan pada bagaimana simbol-simbol yang ada pada komunikasi terbaca dalam interaksi sosial.

 

Dilhat dari sejarahnya, analisis isi sebenarnya sudah sangat lama digunakan untuk memahami teks, bahkan dianggap sebagai metode tertua dalam studi atau analisis teks. Secara lebih ekstrim analisis isi sudah ada sejak manusia ada dan mulai berkomunikasi. Logikanya ketika manusia berkomunikasi di dalamnya ada pesan yang hendak disampaikan. Kamus bahasa Inggris Webster’s Dictionary of English Language memuatnya baru tahun 1961. Dalam perkembangannya, analisis isi juga digunakan untuk penelitian di bidang-bidang ilmu sosial lainnya seperti sosiologi, antropologi, psikologi,  sejarah, bahasa, pendidikan, bahkan agama.

Berawal dari logika bahwa setiap peristiwa komunikasi selalu ada pesan yang hendak disampaikan oleh pembicara kepada lawan bicaranya, metode analisis isi merupakan proses intelektual dengan membuat kategori data kualitatif ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki ciri-ciri yang sama atau mirip, atau kategori konseptual untuk mengidentifikasi pola-pola yang konsisten dan hubungan antar-variabel atau tema. Analisis isi digunakan  untuk menganalisis data teks seperti transkrip wawancara, obervasi terekam, narasi, teks pidato, dan media.

Semula analisis isi digunakan untuk penelitian kuantitatif, sebagaimana dinyatakan Julien (dalam Given, 2008: 120)  dan Berelson (dalam Bungin, 2008: 153) bahwa “content analysis is a research technique for the objective, systematic, and quantitative description of the manifest content of communication”. Menurut Krippendorff (1993: xi) secara mendasar, analisis isi berorientasi empirik, bersifat menjelaskan (bukan memahami), berkaitan dengan gejala-gejala nyata, dan bertujuan prediktif terhadap dampak suatu komunikasi. Jika ditarik ke belakang, akar-akar filosofis analisis isi menggunakan logika Aristotelian dengan paradigma positivistik.

Pada praktiknya  proses dan prosedur metode analisis isi sama dengan proses dan prosedur metode kuantitatif pada umumnya. Berelson menekankan analisis isi dengan metode deskriptif kuantitatif. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa analisis isi merupakan metode penelitian bersifat ganda, artinya bisa digunakan dengan cara kuantitatif maupun kualitatif, tergantung mana yang dipilih oleh peneliti tergantung tujuan penelitian yang hendak dilakukan.

Menariknya, metode analisis isi dapat menggunakan data kuantitatif dan data kualitatif secara bersamaan. Data kuantitatif digunakan untuk menjawab pertanyaan “apa”, sedangkan data kualitatif untuk menjawab pertanyaan “mengapa” dan menganalisis persepsi orang terhadap suatu informasi yang tertulis dalam teks. Tugas peneliti analisis isi ialah mengungkap pesan-pesan yang disadari dan yang tidak disadari yang dibawa oleh teks, baik yang tertulis secara eksplisit maupun implisit. Untuk dapat memperoleh pesan tersebut peneliti tentu harus membaca teks berulang kali.

Seorang analis isi memandang teks sebagai sesuatu yang terbuka untuk dipahami secara subjektif, merefleksikan aneka ragam makna dan sangat tergantung pada konteks. Analisis isi dengan menggunakan metode kualitatif,  oleh Julien disebut sebagai “latent content analysis”, berproses secara deduktif, dimulai dari pembacaan teks secara cermat dan mendalam dan berusaha menemukan isi teks yang  masih samar-samar atau tersembunyi. Jika menggunakan pendekatan secara kuantitatif, analisis isi berproses secara secara deduktif, untuk memperoleh frekuensi kategori-kategori yang telah diseleksi atau nilai terkait dengan variabel-variabel tertentu.

Seperti metode-metode penelitian lainnya, analisis isi juga mengandalkan validitas dan reliabilitas data untuk memperoleh hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Peneliti analisis isi hendaknya memperoleh kepercayaan (trusthworthiness) dan kredibilitas melalui analisis interaktif, menemukan contoh-contoh yang kontras atau negatif, mencari data yang shahih melalui triangulasi metodologi, dan memberikan contoh-contoh pendukung untuk menarik kesimpulan. Misalnya, menggunakan lebih dari satu orang peneliti untuk menganalisis data yang sama dan mencari persetujuan di antara peneliti yang berbeda-beda untuk mengindentifikasi isi adalah cara yang sangat lazim digunakan untuk meningkatkan kepercayaan hasil penelitian. Menurut Julien (Given, 2008: 121) dalam analisis isi kualitatif, angka keefisien 60 (misalnya, 60 % setuju di antara para analis) dianggap sangat bisa diterima kebenarannya.

Yang wajib diperhatikan oleh peneliti teks adalah karena makna itu sangat tergantung pada konteks dan subjektif, sebuah teks sederhana berupa kata, misalnya, secara kualitatif dapat diinterpretasikan dengan bermacam-macam makna oleh peneliti berbeda. Di sini keandalan penilaian oleh peneliti sangat penting. Di sini harus sadar dengan perspektif yang digunakan dalam analisis. Analisis isi ialah proses intelektual, tetapi hasil pemikiran itu harus terekam. Secara praktis, analisis isi dapat dilakukan dengan menggunakan alat sangat sederhana, seperti pensil, kertas, pensil berwarna dan lain. Beberapa program seperti Nvivo sangat bermanfaat untuk menganalisis data kuantitatif berjumlah besar.  Program ini dapat membantu peneliti mengorganisasikan pekerjaan dengan  cepat. Sebagai metode analisis,  analisis isi sangat fleksibel dalam praktik, dapat digunakan untuk menganalisis data longitudinal dan menunjukkan perubahan yang terus terjadi dan tidak mengganggu.

Wal hasil, analisis isi merupakan metode untuk menganalisis isi teks secara fleksibel. Disebut fleksibel karena dapat digunakan dengan pendekatan kuantitatif atau kualitatif. Lazimnya istilah analisis isi (content analysis) menggunakan metode kuantitatif, sedangkan  yang menggunakan metode kualitatif disebut analisis isi kualitatif (qualitative content analysis). Metode analisis isi tidak terikat dengan perspektif teoretik seperti  fenomenologi atau grounded research. Salah satu keunikan metode analisis isi adalah dapat digunakan untuk mengevaluasi temuan-temuan yang dihasilkan oleh analisis itu sendiri.   

Karena tujuan utama analisis isi ialah untuk mengungkap makna yang terkandung di dalam teks, maka pembacaan teks secara cermat dan berulang-ulang wajib dilakukan. Selain itu, perlu disadari oleh peneliti atau pengkaji teks karena makna teks tidak pernah tunggal dan sangat tergantung konteks, maka munculnya makna teks yang tidak sama oleh peneliti yang berbeda menjadi perhatian serius. Di sini expertise seorang peneliti dipertaruhkan. Karena kebenaran merupakan sesuatu yang diperjuangkan oleh setiap ilmu pengetahuan, maka adalah kewajiban peneliti untuk berusaha keras memperolehnya atas dasar cara dan prosedur ilmiah yang berlaku. Untuk itu aspek-aspek seperti validitas, kredibilitas, reliabilitas dan konfirmabilitas data mutlak diperlukan untuk memperoleh hasil yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

_________

Malang, 20 Desember 2018

Daftar Pustaka

Bungin, M.  Burhan. 2008. Penelitian Kualitatif. Komunikasi, Ekonomi,

Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Julien, Heidi. 2008. “Content Analysis”. Dalam Lisa M. Given (Ed.). The Sage

Encyclopedia of Qualitative Research Methods. Los Angeles, London New Delhi, Singapore: A Sage Reference Publication.

 

Krippendorff, Klaus. 1980. Analisis Isi: Pengantar Teori dan Metodologi (alih

bahasa oleh Farid Wajidi). Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Visits: 154
Today: 4

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *