Antara Teks, Penulis, dan Pembacanya (Sebuah Tinjauan Hermeneutika)

A. Pengantar

Di sebuah acara bedah buku, terjadi debat sangat menarik antara para peserta, penyanggah, dan sang penulis buku. Saya memperhatikannya dengan saksama. Penyanggah berargumentasi bahwa isi buku yang dibedah itu kontras dengan pendapat para ahli yang sudah menulis sebelumnya, sehingga dikhawatirkan isi buku itu bisa membingungkan pembaca. Atau secara lebih ekstrim bisa menyesatkan. Tak ketinggalan penulis juga menyampaikan bahwa apa yang ia tulis benar, karena berdasarkan literatur-literatur yang daftarnya bisa dilihat di daftar pustaka sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Para peserta juga memiliki pandangan yang berbeda dengan penulis dan penyanggah. Semakin lama diskusi semakin panas dan masing-masing tetap kokoh pada pendiriannya. Rupanya sang moderator kebingungan bagaimana ‘melerai’ pertikaian akademik tersebut. Sebagai salah seorang yang ikut dalam diskusi, saya mencoba memahami apa yang sejatinya sedang terjadi.

 

Pangkal persoalan diskusi panas itu ialah pendapat masing-masing pihak yang berbeda satu dengan lainnya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka selama ini yang diperoleh dari pembacaan literatur. Saya menilai diskusi itu positif karena argumen yang mereka berikan ada landasan akademiknya. Mereka tidak asal ngomong dan asal beda. Karena  itu, kalau  ingin dicari mana pendapat yang paling benar di antara ketiga pihak tinggal diuji secara ilmiah. Sajian ini tidak untuk menguji kebenaran pendapat atau argumentasi para pihak yang terlibat dalam diskusi, melainkan ingin menjelaskan apa yang terjadi ketika seseorang berhadapan dengan teks. Dengan kata lain, peserta diskusi, penyanggah dan penulis buku itu sejatinya saling berebut makna yang ada dalam teks. Teks yang dimaksud bisa berupa buku, makalah, koran, majalah, jurnal, dan lain-lain.

B. Relasi Teks, Pengarang dan Pembaca

Sebelum  membahas lebih lanjut relasi antara teks, pengarang dan pembaca, perlu diperjelas lebih dulu apa yang disebut ‘teks’. Menurut  Titscher et. al, (2000: 32), teks sering dipandang sebagai tulisan yang panjang dan menghadirkan bayangan tentang buku, surat, atau surat kabar. Padahal tulisan pendek seperti prasasti di sebuah batu nisan, sebuah bentuk atau bagian dari percakapan atau artikel di surat kabar juga disebut teks. Bagaimana manusia berelasi dengan teks dijelaskan lebih jauh di bawah ini.

Sebagaimana diketahui manusia ialah makhluk pengguna simbol (homo symbolicum). Selain sebagai pengguna simbol, meminjam istilah Riyanto (2018), manusia adalah juga makhluk relasional. Sebagai makhluk relasional, manusia senantiasa hidup berhubungan dengan orang lain dalam proses sosial, seperti musyawarah, rapat, debat, ceramah, diskusi, upacara adat yang di dalamnya ada tempat, waktu, masalah yang dibahas, peserta, dan bentuk interaksi sosialnya telah membentuk suatu konfigurasi kontekstual atau konfigurasi makna yang membatasi atau menentukan penggunaan bahasanya. Konteks yang secara langsung melingkupi kejadian proses sosial disebut konteks situasi, sedangkan bahasa yang sedang digunakan untuk mengekspresikan proses sosial dengan fungsi dan tatacaranya yang muncul pada konteks disebut teks.

Menurut Santoso (2003 :43 ) keberadaan bahasa sebagai teks selalu dikelilingi oleh lingkungannya, baik fisik maupun non-fisik yang secara langsung mendukung keberadaan teks. Dengan kata lain, teks selalu berada di dalam konteksnya, baik konteks situasi maupun konteks kultural. Sebagai contoh, di dalam musyawarah masyarakat tradisional Jawa konteks situasi berupa ‘rembug desa’ atau ‘rapat desa’ dengan peserta atau partisipan para penggede dan tokoh desa untuk membahas pembangunan di desa. Sedangkan konteks kulturalnya ialah nilai-nilai gotong royong, dan harmoni yang melatarbelakangi musyawarah tersebut.

Di dalam musyawarah itu ada bahasa yang beroperasi yang disebut teks. Teks tidak ditentukan oleh panjang pendeknya berdasarkan jumlah kata, kalimat dan paragraf yang dimiliki teks. Atau teks juga tidak bisa ditentukan oleh ekstensi atau perluasan dari bentuk-bentuk gramatikal (kumpulan kata, kalimat, dan paragraf). Teks bisa berupa hanya sebuah kata, satu kelompok kata, satu kalimat, satu paragraf, tetapi juga bisa berupa naskah panjang bahkan buku. Yang menentukan bahasa menjadi teks ialah ketika ia hadir bersama konteksnya dan membawa fungsi sosial tertentu.

Santoso (2003) memberi contoh sebuah papan bertuliskan ”bahaya” yang dipasang pada gardu listrik di pinggir jalan. Lingkungan fisik teks berupa gardu, tiang listrik, kabel dan lingkungan non-fisik berupa tegangan arus listrik yang mengalir di dalam kabel listrik. Siapapun yang membaca tulisan “bahaya” tersebut akan berhati-hati jika melewati tempat itu. Lain halnya ketika tulisan “bahaya” itu dilepas dan dibuang di keranjang  sampah atau diletakkan di dalam gudang, orang tidak akan takut memegangnya, walau ada tulisan “bahaya”.  Kata “bahaya” itu bukan lagi teks, karena tidak berada dalam konteks yang sebenarnya.

Sama halnya dengan tulisan yang ada dalam buku masih disebut teks apabila masih berada dalam lingkungannya. Tetapi ketika tulisan itu dalam bentuk serpihan atau digunakan pembungkus barang atau makanan, maka tulisan itu tidak lagi bisa disebut sebagai teks. Dengan demikian dapat diambil pengertian bahwa teks ialah bahasa yang sedang melaksanakan tugas untuk mengekspresikan fungsi atau makna sosial dalam suatu konteks situasi dan konteks kultural.

Ketika berhubungan dengan teks sebagaimana disebut di atas, disadari atau tidak sedikitnya terdapat tiga subjek yang terlibat dalam membangun makna yang masing-masing memiliki dunianya sendiri. Menurut Hidayat (2011: 63) tiga subjek itu ialah teks itu sendiri, pengarang, dan pembaca (the text, the author, and the reader). Masing-masing merupakan titik pusaran tersendiri, meskipun kesemuanya saling mendukung— bisa saja malah menyesatkan — pihak pembaca dalam memahami teks. Mengapa teks bisa disebut menyesatkan? Karena ketika seorang menuangkan gagasan atau pikirannya dalam tulisan, tak bisa dihindari dia memilih kata dan kalimat yang dianggap sesuai dengan dunia pembacanya. Proses memilih kata atau susunan kalimat yang tepat sesuai pembacanya itu mengandung makna “menyisihkan”, sehingga terdapat gagasan yang tersembunyi.

Masalah selanjutnya yang muncul akibat pilihan kata atau kalimat ialah apakah benar semua pikiran atau gagasan seseorang dapat dituangkan dalam kata atau kalimat secara utuh? Utuh maksudnya tidak ada sedikitpun realitas yang tertinggal atau tersisa. Kalaupun benar, seberapa besar derajat akurasi kebenarannya? Menggunakan perspektif Michael Polanyi, bukankah manusia adalah makhluk dengan bergelimang pengetahuan (surplus of knowledge), sehingga yang dia ucapkan — apalagi  yang ditulis — sejatinya hanya sebagian kecil dari pengetahuan yang ia miliki? Juga perlu disadari ketika sebuah gagasan atau pikiran masih berada dalam otak, kemudian diucapkan, dan terakhir ditulis terdapat jarak (distance) yang memungkinkan pembaca hadir dengan makna yang dibawanya.

Sebagai contoh sejak seseorang bangun tidur di pagi hari hingga tidur lagi di waktu malam berapa banyak pengetahuan yang dia peroleh selama sehari itu. Tetapi seberapa banyak yang mampu ia tuliskan dalam kata-kata atau kalimat sehingga menjadi teks. Tentu masih banyak informasi tentang pengetahuan hari itu yang tersisa. Mengapa tersisa? Karena kata atau kalimat tidak akan pernah mampu mewakili realitas pengetahuan seseorang.

Belum lagi melihat kenyataan bahwa ide yang masih ada dalam pikiran belum tentu sama ketika diucapkan, apalagi ditulis. Itu artinya, paham makna sebuah teks tidak serta merta dapat menjawab berbagai persoalan yang tertuang di dalam teks. Filsafat hermeneutika menganjurkan betapa pentingnya bagi setiap pembaca teks untuk mengenali semua unsur yang terlibat dalam kehadiran teks, mulai dari teks itu sendiri, penulis, bahasa, konteks kultu  ral dan historis yang melatarbelakanginya.

Pertanyaan selanjutnya ialah dengan meminjam pemikiran Saussure, bisakah sebuah kata sebagai realitas simbolik yang hadir sebagai penanda (signifier) mewakili sesuatu yang ditandai (signified) secara utuh? Seberapa  seringkah kita mengganti atau manghapus kata yang kita tulis karena dirasa itu tidak tepat? Makna kata tidak pernah tunggal. Itu artinya kata bersifat polisemik. Memilih kata yang dianggap paling tepat untuk mengungkapkan sebuah pikiran atau gagasan selalu meninggalkan kata lain dengan makna yang kurang lebih sama.

Menurut Ricoeur, sebagaimana ditulis Acep Iwan Saidi (Kompas, 24/10/2017) kata memiliki karakter yang multimakna (polisemik), jauh sebelum ia didudukkan di dalam kalimat, apalagi teks yang lebih lengkap. Dengan sifat polisemiknya, sangat dimungkinkan sebuah kata akan memiliki makna berbeda-beda di tangan pembaca yang berbeda.  Sebuat saja, misalnya, kata “demokrasi” ditulis oleh sepuluh orang akan memiliki kurang lebih sepuluh asosiasi makna tentangnya. Kata, lanjutnya, adalah maujud (entitas) yang memberi ruang terbuka bagi hadirnya sesuatu yang justru tidak tampak di dalam dirinya. Menurut Derrida, makna selalu tertunda sebab kata selalu menundanya. Hadirnya sesuatu yang baru menjadikan makna kata senantiasa terus bergeser.

Sebegitu jauh, kata dan teks, menurut Riyanto (2018: 14), bukan sesuatu yang hidup. Ia menjadi hidup karena ada pembacanya. Pembaca teks, dengan demikian, adalah subjek yang mencari kebenaran isi teks dan sekaligus pelaku yang membuat teks hidup. Kalau begitu kata atau teks bukan sesuatu yang otonom, sebagaimana dianut oleh para tokoh strukturalis dan pengikutnya. Dia entitas dinamis yang senantiasa bergerak, bergeser, bahkan berubah di tangan pembaca.

Memahami teks dalam perspektif hermeneutika masuk dalam wilayah kajian filsafat yang sungguh menguras energi. Para filsuf juga berbeda pandangan dalam menghadapi teks. Ada kelompok yang menganggap pembaca teks tidak perlu mengembara ke mana-mana selain fokus pada teks itu sendiri. Tugas pembaca teks ialah membuat teks bicara sendiri dan untuk memahami isinya tidak perlu mengaitkan dengan penyusunnya. Meminjam gagasan Barthes (1990) saat itu penulis telah mati (the author is dead), dan justru teks itu sendiri yang senantiasa akan selalu hidup. Gagasan demikian menjadikan pembaca teks larut dan tenggelam dalam sebuah teks tanpa pernah bertanya secara kritis, siapa pengarangnya dan kepada siapa teks ditujukan.

Teori tentang kematian pengarang (the death of the author) merupakan teori kritik yang dapat berlaku dalam sistem teks—yang membuka tabir masa silam dan menggantikannya kepada si pembaca dengan penemuan-penemuan terbarunya. Sekaligus pula dengan penemuan mekanisme pembacaan dan interpretasi, serta mekanisme pembentukan makna (Latief, 2000: 97).

Terkait matinya sang pengarang, menurut Hidayat (2011) sebuah teks sekali ditulis oleh pengarangnya dan diluncurkan ke tengah masyarakat, maka ia telah menjadi milik publik. Ia akan berbicara sendiri menyampaikan isinya melalui sistem tanda yang dimiliki, dalam wadah bahasa yang bersifat lokal. Asumsi demikian mengandung kebenaran, walau ada kelemahannya. Banyak di antara pembaca teks atau buku menghargai sebuah karya tulis sedemikian rupa sehingga mampu mempengaruhi jalan pikiran dan filsafat hidup mereka tanpa harus bertemu pengarangnya dan memikirkan kebenaran isi teks yang ditulis. Teks telah mampu menjelma diri sebagai guru kehidupan bagi pembacanya. Tidak sedikit karya agung para penulis hebat dan filsuf dapat mempengaruhi pikiran pembaca dan mengubah tata kehidupan manusia pada tingkat masyarakat hingga negara.

Selama ini dalam kajian teks terdapat anggapan bahwa pembacaan terhadap sebuah teks sering kali selesai dalam pemahaman. Artinya, begitu kita selesai membaca teks kemudian dapat memahaminya, maka tugas kita sudah selesai, walau yang dimaksud “memahami” itu sendiri apa. Hermeneutika Ricoeur tidak demikian dalam menghadapi teks. Menurut Riyanto (2011) teks adalah entitas yang tidak pernah habis dalam pemahaman. Sebab, pemahaman bukan kulminasi dari penziarahan subjek dalam teks. Teks ialah ruang penziarahan diri, sehingga subjek berhadapan dengan teks dan terus menerus melakukan pembaruan dirinya.

Teks tidak pernah habis atau selesai dalam pemahaman, tetapi justru berlanjut dalam penghayatan dan cara hidup baru yang lebih baik. Apa artinya seorang ahli tafsir teks (keagamaan, misalnya) jika hanya paham dan tahu arti  atau isi teks, tetapi justru kehidupannya melanggar atau bahkan berlawanan dengan isi teks yang dia tafsirkan. Itu sebabnya Ricouer mengajak setiap pembaca teks mengajukan eksistensi diri yang berproses dalam teks. Karena itu, pemahaman adalah sebuah proses, bukan titik kulminasi dari hasil pembacaan, dan untuk memperolehnya menurut Yanow (2005: 10) tidak mungkin pembaca berada di luar fokus kajian. Selain masuk dalam dunia batin pengarang, seorang pembaca teks hendaknya memiliki pengetahuan sebelumnya tentang teks sebagai jembatan untuk memperoleh pemahaman (prior knowledge is a mediating factor in sense making).

C. Memahami dan Menafsirkan

Tugas utama hermeneutika ialah menggapai pemahaman (understanding) isi teks. Teks bukan sekadar kumpulan kata-kata atau kalimat terstruktur yang dibuat oleh sang penulis. Lebih dari itu, teks merupakan medan untuk dijelajahi, dieksplorasi, dan digali maknanya oleh pembaca. Menurut Schleirmacher dari teks persoalan berawal. Masalahnya bukan karena orang tidak memahami isi teks, tetapi lebih karena orang salah paham terhadapnya (the talk is no longer of ‘not understanding’, but rather  of the natural priority of misunderstanding”. Jadi bukan ketidakpahaman yang menimbulkan masalah, melainkan kesalahpahaman.

Rumitnya, menurut Schleirmacher (dalam  Gadamer, 1976: xiii), makna teks sama sekali bukan sebagaimana yang tampak di depan kita (what the text really means is not at all what it “seems” to say to us directly). Makna ada di dalam teks dan harus ditemukan dengan cara merekonstruksi konteks sejarah lahirnya teks secara tepat. Hanya melalui penafsiran yang kritis secara metodologis, seseorang dapat memahami makna teks.

Pemahaman itu sendiri apa? Ada beberapa pandangan yang berbeda di antara para filsuf hermeneutika tentang arti pemahaman. Menurut Dilthey (dalam Makkreel and Rodi, 1996:  11) “to understand something is to grasp its individuality, there will be a limit to what can be understood. To understand everything would be to lose one’s own individuality”. Bagi Dilthey memahami sesuatu ialah menangkap sifat atau ciri khusus tentang sesuatu tersebut yang membedakan dengan yang lain, yang disebut “individuality”. Karena keterbatasan manusia dalam proses penangkapan individualitas, maka selalu ada sesuatu yang tersisa. Dapat memahami semuanya atas sesuatu justru menghilangkan individualitas seseorang.

Pemahaman bukan sekadar pikiran abstrak, tetapi ia melibatkan imajinasi pikiran pembaca. Sebagai sebuah proses, pemahaman itu ada tahapannya. Pembacaan pertama terhadap teks belum menghasilkan pemahaman, kecuali baru ide umum tentang teks. Dengan demikian, memahami bagi pembaca teks bukan sekadar menangkap makna umum dari kata-kata dalam teks dan juga bukan mengaktifkan kembali arti tertentu dari pengarang teks secara imajinatif, melainkan mengaktifkan pengertian konkrit yang dapat dihubungkan dengan pengalamannya saat ini.

Sejalan dengan Dilthey, Hidayat (2011: 241-242) menyatakan sebuah pemahaman, apapun objeknya, selalu mengasumsikan adanya daya kreatif dan imajinatif sebjek penafsir agar tidak mudah diperdaya oleh teks yang sedang dihadapi. Membaca untuk memahami berarti juga menafsirkannya. Lebih jauh lagi, membaca dan menafsirkan sesungguhnya juga “menulis ulang” dalam bahasa mental dan bahasa pikir sang pembaca yang hanya saja tidak dituliskan.

Teks itu sejatinya bagaikan benda mati. Hanya ketika pembaca hadir untuk memahaminya, teks menjadi hidup dan berbunyi dan dibangun makna atasnya berdasarkan sistem tanda yang ada. Jadi makna itu muncul dari pertautan antara teks, pikiran pengarang, dan benak pembaca. Setiap upaya pemahaman selalu diikuti upaya penafsiran. Karena penafsiran tidak pernah tunggal, maka tak terhindarkan terjadinya relativisme dalam pemahaman. Itu sebabnya, sebagai buah atau produk pemikiran manusia penafsiran tidak pernah menghadirkan kebenaran absolut.

Di hadapan teks, pembaca adalah subjek. Sebagai subjek, dia memiliki pengalaman dan pergumulan. Saat teks dipegang dan dibaca, pembaca melakukan juga imajinasi, di samping menyusuri kata dan frase teks. Di sini pembaca tidak hanya berusaha mengerti makna kata dan frase atau rangkaian kalimat, tetapi mengimajinasikan cerita, kisah, narasi. Imajinasi pembaca tentu akan mengembangkan, melebarkan  dan menggelembungkan  narasinya. Karena itu, makna datang seiring dengan aktivitas pembacaan teks melalui imajinasi.

Imajinasi pembaca teks dapat berbeda sama sekali dengan maksud pengarangnya. Sebab dunia imajinasi adalah dunia subjektivitas pembaca. Dunia subjektif berarti dunia pengalaman manusia yang tentu berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Menurut Riyanto (2018) imajinasi bukan dimaksudkan untuk mengganti makna teks, melainkan medan penziarahan subjek di dunia teks. Tanpa imajinasi pembacaan teks akan beku dalam doktrin dan dogma. Imajinasi pembaca dapat memberikan ruh dan daya dari sebuah teks.

Mengaitkan pertautan dengan sang pengarang (author) untuk memperoleh pemahaman, kita teringat hermeneutika romantisisme Schleiermacher (1768-1834) bahwa sebuah proses pemahaman menuntut agar pembaca berusaha untuk “reliving and rethinking the thoughts and feeling of an author”. Artinya, untuk dapat menangkap makna teks pembaca hendaknya berempati dan berimajinasi pada posisi kehidupan, pemikiran, dan perasaan dari sang pengarang agar memperpendek jarak antara dunia pembaca dan dunia pengarangnya.

Masalahnya bagaimana imajinasi pembaca dapat dibenarkan  berkaitan dengan  teks? Imajinasi tidak boleh menggusur narasi teks. Setiap teks memiliki pesan terdalam yang hanya bisa diperoleh lewat kajian mendalam. Imajinasi sebenarnya merupakan bagian dari eksistensi pembaca, tetapi bukan untuk menggantikan makna teks. Imajinasi memiliki ketidaksempurnaan. Karena itu, studi hermeneutika sangat penting untuk mengurai keterpautan antara pesan teks autentik dan pengalaman imajinatif pembaca.

Keyakinan  bahwa sebuah teks mengandung makna bahwa bahasa merupakan locus makna mengharuskan pentingya dialog antara penafsir dengan teks. Menurut Schleirmacher teks apapun hakikatnya adalah penjelmaan pribadi sang penulis. Teks sastra, misalnya, tidak lain merupakan penjelmaan pribadi seniman sebagai pengarang, sehingga membaca teks sebenarnya sama dengan berdialog  dengan si pengarang.

Agak berbeda dengan Schleirmacher dan Dilthey, Heidegger mengasumsikan pemahaman lebih dari  sekadar pengetahuan objektif; ia merupakan sesuatu seperti halnya partisipasi dalam sesuatu yang dipahami. Karena itu, bisa saja seseorang memiliki pengetahuan yang sangat luas dalam bidang tertentu, namun pemahamannya sedikit, karena pemahaman  seolah-olah menggapai ke dalam sesuatu yang esensial dan, dalam berberapa penggunaan, bersifat personal. Bagi Heidegger, pemahaman adalah kekuatan untuk memperoleh kemungkinan seseorang itu sendiri untuk berada, dalam konteks dunia hidup di mana seseorang itu berada (Palmer, 2005: 150).

Dari pandangan para filsuf hermeneutika di atas dapat ditarik kesimpulan  bahwa pemahaman mustahil dapat diperoleh tanpa dialog dan dialog meniscayakan adanya dua subjek yang saling bertukar cakrawala pemandangan dan pendirian. Menurut Hadi (2014: 19) teks adalah teman dialog. Dialog bisa terjadi jika ada komunikasi antara penafsir dan yang ditafsir secara dialektik dan terus menerus sehingga tercapai kebenaran. Kebenaran itulah sesuatu yang dicari oleh semua ilmu pengetahuan.

Proses perjalanan memperoleh pemahaman teks menurut Schleirmacher, Dilthey dan Betti mengasumsikan bahwa teks selalu ada pengarangnya (author). Bagaimana jika teks itu tanpa pengarang (anonim), seperti kitab suci al Qur’an atau kitab suci agama-agama samawi lainnya? Siapa teman yang diajak dialog oleh pembaca teks? Menghadapi teks yang pengarangnya ialah dzat yang ghoib (abstrak) yaitu Tuhan tentu diperlukan pendekatan berbeda dengan memahami teks buatan manusia.

Hidayat (2011) memberikan ulasan menarik terkait pendekatan hermeneutika untuk memahami al Qur’an. Ada dua pihak terkait turunnya al Qur’an, yaitu Tuhan sebagai pengarang dan Muhammad SAW yang diberi otoritas dan kapasitas ilahiah untuk menerjemahkan bahasa wahyu ke dalam bahasa kaumnya. Nabi Muhammad SAW sebagai penerima wahyu diyakini jauh dari distorsi dan deviasi terhadap wahyu karena dikawal malaikat jibril. Empat sifat Nabi Muhammad SAW, yakni shiddiq, amanah, fathonah, dan tabligh menjadi jaminan bahwa wahyu yang diturunkan itu sempurna, dalam arti tidak ditambah dan dikurangi. Saat menerima wahyu, peran Nabi Muhammad ialah mendengarkan, memahami dan membahasakannya ke dalam bahasa Arab. Mengapa bahasa Arab? Karena sebagai penerima wahyu, Nabi Muhamaad SAW berbahasa Arab dan pesan itu untuk pertama kali disampaikan kepada masyarakat yang berbahasa Arab. Kalau begitu menggunakan hermeneutika dalam memahami al Qur’an pengkaji memposisikan Tuhan dan Muhammad SAW kedua-keduanya sebagai pengarang teks (kitab suci).

 

________

Malang, 24 Desember 2018

 

Daftar Pustaka

Dilthey, Wilhelm. 1996. Hermeneutics and the Study of History. (in

Makkreel, Rudolf A. and Rodi, Frithjof , eds. ). Princeton, New      Jersey: Princeton University Press.

 

Gadamer, Hans-Georg. 1977. Philosophical Hermeneutics. (translated

and edited by David E. Linge). Berkeley, Los Angeles, London: University of California Press.

 

Hadi, Abdul. 2014. Hermeneutika Sastra  Barat dan Timur. Jakarta:

Sadra Press.

 

Hidayat, Komaruddin. 2011. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian

Hermeneutika. Bandung: Penerbit Mizan.

 

Latief, Hilman. 2000. Menggugat Otoritarianisme Interpretasi Teks

Keagamaan. (Naskah Buku). Yogyakarta.

 

Palmer, Richard E. 2005. Hermeneutika; Teori Baru Mengenai

Interpretasi. (Alih bahasa oleh Musnur Hery & Damanhuri Muhammed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

 

Riyanto, Armada. 2018. Relasionalitas – Filsafat Fondasi

Interpretasi:Aku, Teks. Liyan, Fenomen. Jakarta: Penerbit Kanisius.

Santoso, Riyadi. 2003. Semiotika Sosial: Pandangan terhadap Bahasa.

Surabaya: Pustaka Eureka dan JP Press Surabaya.

Titscher, Stefan, et al. 2000. Metode Analisis Teks & Wacana. (Alih

bahasa oleh Prof. Dr. Abdul Syukur Ibrahim). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yanow, Dvora. 2005. “Thinking Interpretively: Philosophical

Presuppositions and the Human Sciences” (dalam Dvora Yanow and Peregrine Schwartz-Shea (eds.). Interpretation and Method: Empirical Research Methods and Impretive Turn. Armonk, New York, London: M.E. Sharpe.

Visits: 25
Today: 0

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *