Wajibkah Hipotesis dalam Penelitian?

A. Pengantar

Kita sering mendengar pertanyaan apa setiap penelitian memerlukan hipotesis? Atau dengan kata lain, apa semua penelitian selalu ada hipotesisnya? Pertanyaan tersebut penting dijawab untuk menghindari kesalahpahaman di kalangan para mahasiswa, dosen, dan peneliti sebagaimana selama ini terjadi. Sebelum diuraikan lebih lanjut, perlu diperjelas apa yang dimaksud “hipotesis”. Hipotesis berasal dari kata “hypo” yang artinya “di bawah”dan “thesis” artinya “ kebenaran”.

 

Secara literal, hipotesis berarti kebenaran yang masih berada di bawah (belum tentu benar) dan baru dapat dianggap menjadi kebenaran jika telah ada bukti secara empirik. Jadi hipotesis belum bersifat empirik karena masih berupa dugaan. Jika dugaan dapat dibuktikan atas dasar data, maka kata “hipo” (hypo) hilang dan tinggal “tesis” (thesis).  Itu sebabnya, penelitian — terutama penelitian murni (pure research) biasanya diakhiri dengan “thesis statement”, yakni sebuah pernyataan pendek tentang kebenaran ilmiah yang menjadi  temuan penelitian. Bagian ini akan menjelaskan arti hipotesis dan perlu tidaknya hipotesis dalam penelitian.

B. Makna Hipotesis

Ada beberapa definisi tentang hipotesis di kalangan para ahli. Creswell (2008: 122) mengartikan hipotesis sebagai “statements in quantitative research in which the investigator makes a prediction or a conjecture about the outcome of a relationship among attributes or characteristics. Traditionally used in experiments, they serve, like research questions, to narrow the purpose statement to spesific predictions”. Definisi Creswell mempertegas pendapat selama ini bahwa hipotesis hanya digunakan di dalam penelitian kuantitatif, karena memang berasal dari penelitian eksperimen.

Davis (dalam GiIven, 2008: 408) mendefinisikan hipotesis sebagai “prediction or tentative statement  about the relationship between variables”. Hipotesis adalah sebuah dugaan atau pernyataan tentatif mengenai hubungan dua atau lebih variabel. Dengan demikian, perlu tidaknya hipotesis dalam penelitian tergantung pada jumlah variabelnya. Penelitian yang memiliki lebih dari satu variabel pasti memerlukan hipotesis, seperti penelitian korelasi atau penelitian komparasi. Di dalam penelitian korelasi dan korelasi terdapat lebih dari satu variabel, sehingga diperlukan hipotesis.

Sebaliknya, jika sebuah penelitian hanya memiliki satu variabel tidak memerlukan hipotesis. Tetapi ada sebagian ahli yang menyatakan bahwa walau hanya terdapat satu variabel, penelitian boleh menggunakan hipotesis, tetapi tidak wajib. Penelitian kualitatif lazimnya hanya memiliki satu variabel, sehingga tidak memerlukan variabel. Kalaupun ada, namanya bukan  variabel, melainkan “asumsi dasar penelitian” atau “hipotesis kerja” (working hypothesis). Rahardjo (2005) menyebutnya sebagai “temuan terprakira”. Asumsi itu apa? Latief (2012: 54) mengartikan  asumsi sebagai keyakinan yang dimiliki seseorang sebagai syarat orang tersebut memutuskan untuk melakukan suatu kegiatan. Tanpa asumsi orang tidak akan memutuskan untuk melakukan sesuatu perbuatan.

Apa gunanya tujuan ? Tujuan hipotesis ialah  agar dalam proses penelitian peneliti bisa fokus pada pokok bahasan,  sehingga kajian atau studi bisa lebih mendalam. Menurut Arikunto (1989: 53) hipotesis semacam itu diperlukan dengan tujuan agar peneliti bisa memusatkan perhatian pada isu atau informasi yang menjadi fokus penelitian.

Ahli yang lain seperti Sutrisno Hadi (2015: 85) memberi batasan mengenai hipotesis sebagai “pernyataan yang merupakan konklusi yang bersifat sementara, sehingga mungkin benar dan mungkin salah. Dia akan ditolak jika salah dan akan diterima jika fakta-fakta membenarkannya. Penolakan dan penerimaan hipotesis sangat tergantung pada hasil penelitian atas fakta-fakta yang dikumpulkan”.

Sedangkan Suhardjono (1992: 67) menjelaskan hipotesis pada hakikatnya merupakan suatu pernyataan (thesis) yang masih kurang lengkap (hypo) kebenarannya. Kebenaran pernyataan itu masih memerlukan pengujian. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah penelitian.

Mengapa penelitian kuantitatif memerlukan hipotesis? Sebagaimana diketahui penelitian kuantitatif berangkat dari paradigma positivistik bersifat nomotetik  yang menganggap realitas bersifat objektif dan dapat diukur di mana prediksi atau dugaan sebuah kebenaran dapat diuji. Nomotetik artinya menyangkut studi hal-hal yang bersifat makro kemudian dijabarkan pada hal-hal yang bersifat khusus. Peneliti kuantitatif mengukur perilaku orang dari luar dirinya (dari sudut pandang peneliti). Karena seluruh proses penelitian dilakukan atas dasar pengujian dugaan yang dibuat, maka penelitian kuantitatif sangat tergantung pada pengendalian penelitinya. Menurut Davis (Given, 409) paradigma positivistik menganggap bahwa realitas itu objektif, karena itu bisa diwakilkan, diprediksi, diuji, diukur dan dikontrol. Temuan diperoleh lewat proses deduktif, dan penelitian mengukur persamaan dan perbedaan antara perilaku atau tindakan yang diukur dengan yang diprediksi. Pengetahuan diperoleh dari uji hipotesis.

Sebaliknya mengapa penelitian kualitatif  tidak memerlukan hipotesis? Alasannya ialah sebagaimana diketahui penelitian kualitatif berdasar atas paradigma interpretif yang menganggap realitas itu kompleks, bersifat ideografik, dan karena itu tidak bisa diwakilkan dan diukur.  Ideografik artinya menyangkut hal-hal yang bersifat mikro, unik, khusus, dan individual kemudian darinya ditarik kesimpulan secara umum. Yang dilakukan peneliti ialah mencari makna dari kompleksitas realitas tersebut, bersifat eksploratif, dan lebih mementingkan kedalaman daripada keluasan pembahasan.

Selanjutnya realitas yang kompleks itu dideskripsikan, dipahami, dan dijelaskan keberadaannya secara alamiah. Pemahaman diperoleh dari sisi pelaku peristiwa atau dari sudut pandang pelaku, bukan dari sudut pandang peneliti. Karena penelitian kualitatif mengasumsikan temuan bisa muncul tiba-tiba (emergent), maka pendekatan penelitian ini sangat tergantung pada fleksibilitas, refleksivitas, dan keterbukaan terhadap temuan. Jenis-jenis penelitian yang biasanya tanpa menggunakan hipotesis ialah antara lain: penelitian deskriptif, penelitian historis, penelitian filosofis, penelitian pelacaan, penelitian evaluasi, dan penelitian tindakan.

Penelitian kualitatif dengan satu isu atau persoalan (saya menghindarkan diri dari penyebutan variabel untuk penelitian kualitatif), misalnya, seorang peneliti sosiologi pedesaan melihat adanya sikap skeptis masyarakat terhadap rencana pembangunan sebuah proyek perluasan jalan di desa. Untuk memperoleh jawabannya, peneliti tidak gegabah, tetapi ingin memperoleh bukti melalui penelitian, sehngga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian yang akan dilakukan peneliti hanya memiliki satu isu, yakni pemahaman masyarakat terhadap rencana pembangunan perluasan jalan.

Sebagaimana diuraikan di atas agar penelitian bisa fokus pada isu yang diangkat, peneliti boleh membuat hipotesis. Misalnya, hipotesisnya berbunyi “Masyarakat desa kurang apresiatif terhadap rencana pembangunan  perluasan jalan”.  Dengan hipotesis tersebut sebagai titik tolak, peneliti dapat memusatkan perhatian untuk mengumpulkan data yang mendukung dugaan bahwa masyarakat desa kurang apresiatif terhadap rencana pembangunan perluasan jalan. Untuk itu,  peneliti melakukan wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat, kepala desa dan seluruh perangkatnya, melihat desain pengembangan perluasan jalan, mewawancarai pelaksana proyek, dan sebagainya.

Untuk penelitian dengan dua atau lebih variabel, hipotesis wajib dibuat. Tetapi perlu diketahui bahwa hipotesis yang merupakan hubungan dua atau lebih variabel tidak selalu dalam hubungan sebab akibat. Menurut Arikunto (1989) setidaknya terdapat tiga hubungan antarvaraibel dalam penelitian. Pertama hubungan sejajar tidak timbal balik, kedua hubungan sejajar timbal balik, dan ketiga hubungan sebab-akibat tetapi tidak timbal balik.

Arikunto  memberi contoh variabel sejajar tetapi tidak timbal balik. Misalnya, hubungan antara kemampuan siswa di bidang matematika dengan IPA. Biasanya dalam proses penjurusan, siswa yang memiliki nilai matematika baik dimasukkan ke jurusan IPA, sedangkan siswa yang nilai matematika rendah dimasukkan ke jurusan IPS atau bahasa.

Nilai matematika memiliki hubungan sejajar dengan nilai IPA, tetapi tidak merupakan hubungan sebab akibat. Nilai matematika yang tinggi tidak menyebabkan nilai IPA yang tinggi, sebaliknya nilai IPA yang tinggi bukan sebagai penyebab tingginya nilai matematika. Hubungan di antara keduanya mungkin disebabkan kebiasaan siswa berpikir logis sehingga mengakibatkan adanya hubungan sejajar di antara keduanya.

Contoh lain, misalnya, peneliti dalam bidang bahasa Inggris menemukan siswa yang nilai gramatika (gramar) tinggi umumnya memiliki kemampuan membaca (reading comprehension) yang baik, dan sebaliknya. Nilai gramatika dan kemampuan membaca merupakan dua variabel yang sejajar, tetapi tidak saling mempengaruhi. Nilai gramatika yang tinggi bukan menjadi penyebab tingginya kemampuan membaca. Bisa jadi mahasiswa memiliki kemampuan membaca yang baik karena rajin membaca.

Kedua adalah hipotesis dengan variabel sejajar dan timbal balik. Arikunto (1989) memberi contoh menarik untuk hal ini. Misalnya, hubungan antara tingkat kekayaan dan kelancaran berusaha. Seseorang yang memiliki modal yang cukup usahanya berjalan lancar. Dengan usaha atau bisnis yang lancar, maka modal bertambah terus. Dua variabel, yaitu “tingkat kekayaan” dan “kelancaran berusaha” berkedudukan timbal balik bagaikan lingkaran setan (vicious circle). Kedua variabel, yaitu “tingkat kekayaan” dan “kelancaran berusaha” dapat berkedudukan sebagai variabel bebas dan variabel tergantung atau variabel terikat secara bergantian. Itu yang disebut variabel dalam hubungan timbal balik (reciprocal).

Ketiga ialah hipotesis dengan variabel dalam hubungan sebab akibat, tetapi tidak timbal balik. Misalnya, hubungan antara aktivitas belajar dengan prestasi belajar. Jika seseorang aktif belajar, maka prestasi belajarnya baik. Variabel “aktivitas belajar” merupakan variabel penyebab bagi variabel “prestasi belajar”. Hipotesisnya ialah “Semakin seseorang aktif belajar, semakin tinggi prestasi belajarnya”. Variabel “aktivitas belajar” lazim disebut  variabel independen atau variabel bebas (independent variable). Sedangkan “prestasi belajar” disebut variabel tergantung atau terikat (dependent variable). Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dapat dikatakan sebagai hubungan pengaruh.

C. Penutup

Demikian sajian mengenai hipotesis dalam penelitian. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis hanya digunakan di dalam penelitian yang memiliki lebih dari satu variabel, atau dalam metode penelitian kuantitatif. Namun tetapi, dalam  penelitian yang hanya  memiliki satu variabel seperti dalam penelitian kualitatif peneliti boleh menggunakan hipotesis.  Tetapi hipotesis yang dimaksudkan ialah hipotesis kerja (working hypothesis) yang tujuannya bukan untuk dibuktikan, melainkan untuk memusatkan perhatian peneliti pada isu atau masalah yang menjadi fokus penelitian.

_________

Malang, 19 Desember 2018

 

 

 

Daftar Pustaka:

Arikunto, Suharsimi. 1989. Manajemen Penelitian. Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidiikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan  Tenaga Kependidikan.

Creswell, John W. 2008. Educational Research: Planning, Conducting, and

Evaluating Quantitative and Qualitative Research.  New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Davis, Christine S. 2008. “Hypothesis”. Dalam Lisa M. Given (Ed.). The Sage

Encyclopedia of Qualitative Research Methods. Los Angeles, London New Delhi, Singapore: A Sage Reference Publication.

Rahardjo, Mudjia. 2005. Bahasa dan Kekuasaan: Studi Wacana Politik

Abdurrahman Wahid dalam Perspektif Hermeneutika Gadamerian. Disertasi Program Doktor Ilmu Sosial, Pascasarjana, Universitas Airlangga.

Latief, Mohammad Adnan. 2012. Tanya Jawab Metode Penelitian

Pembelajaran Bahasa, Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang (UKM Press).

Suhardjono. 1992. Pengantar Metode Penelitian. (Diktat Penunjang Kegiatan

Perkuliahan Metode Penelitian). Institut Teknologi Nasional Malang.

Sutrisno Hadi. 2015. Metodologi Riset. Yogyakarta: Pustaka pelajar.

Visits: 92
Today: 0

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *