Penjual Kue Sang Pekerja Keras

Penjual Kue Sang Pekerja Keras

Oleh Mudjia Rahardjo

 

“Kue — kue”, ‘Kue-kue”, “Nasi kuning”, “Kue—mbaaak”, begitulah suara yang diucapkan dengan lantang oleh seorang ibu setengah baya penjual kue keliling kampung dengan naik sepeda pancal. Dia berdandan rapi, pakai jilbab dan tidak ketinggalan mengenakan topi seolah menjadi ciri khasnya. Sasaran pembelinya adalah para ibu-ibu dan mahasiswa yang tinggal di rumah-rumah kos. Hampir dapat dipastikan pukul 6 00 setiap hari ibu itu sudah berada di lingkungan kami.

Saya tidak tahu kapan ibu itu memulai menjajagan kue di kampung kami, tetapi setahu saya sejak saya mulai tinggal di tempat itu  sekitar 15 tahun lalu dia sudah ada. Kue yang dijual pun bermacam-macam kue tradisional, ada onde-onde, lemper, kue lapis, kue pukis, pohong goreng, dadar gulung, kue lumpur, nagasari, donat kentang, dan tentu nasi kuning. Sesekali pembantu saya membeli kue kesukaannya.

Dia sangat ramah dan percaya diri melayani pembeli yang umumnya para mahasiswa itu. Ada ungkapan khas yang selalu dia sampaikan ke pembeli “gak tambah lagi mbak. Ini lho juga enak sambil menunjuk beberapa kue yang ia tawarkan. Kalaupun tidak ada yang tambah beli lagi, dia tetap melayani dengan ramah. Dia selalu senyum dan selalu tampil ceria. Jika para pelanggan datang, dia menunjukkan kebolehannya menawarkan dagangannya dengan mengucap “kue-kue”, “ayo yang mau beli”, “nasi kuning” sebagai ciri khasnya. Ketika ada pembeli yang bayar, dia selalu ucapkan “alhamdulillah, laris-laris”. Ucapan “kue-kue”, “nasi kuning”, alhamdulillah laris” seolah menjadi ucapan ritual.

Saya tidak tahu siapa nama ibu itu, dari mana, dan di mana tempat tinggalnya. Warga yang menjadi pelanggan kuenya memanggilnya “Mbak Kue”. Tetapi hal yang saya dapat tangkap dari ibu penjual kue itu ialah dia pekerja keras, tidak mengenal lelah, konsisten dengan waktu dan tempat berjualan, pintar membaca peluang, karena di wilayah kami tinggal banyak sekali mahasiswa, terutama mahasiswi, kos, sehingga menjadi pelanggan setia. Dari logat suara dan bicaranya, saya memastikan ibu itu bersuku Madura. Sebagaimana kita semua tahu suku Madura memiliki kelebihan dibanding suku-suku yang lain di Indonesia. Satu di antaranya ialah pekerja keras dan ulet. Di manapun berada, mereka bisa hidup dan memanfaatkan kondisi apapun untuk bekerja menyambung hidup, tanpa mengenal sungkan dan malu. Selain ulet, rajin merupakan salah satu ciri etos kerja orang Madura yang telah dikenal luas.

Ibu penjual kue itu barangkali bisa menjadi eksemplar atau contoh kerasnya kehidupan di tengah-tengah masyarakat kota yang sedang tumbuh pesat dengan jumlah penduduk demikian padat. Di daerah yang padat penduduk tentu di dalamnya ada aneka ragam manusia dengan berbagai kepentingannya. Semua berebut ingin mempertahankan hidup. Maka, kompetisi tdak bisa dihindari. Jika tidak punya ketrampilan, seseorang akan bekerja apa adanya dan akhirnya bisa tergilas dalam persaingan.

Ibu itu tidak menyia-nyiakan waktu dan peluang yang ada untuk bekerja keras. Walau mungkin hasilnya tidak banyak, tetapi dia tidak putus asa. Buktinya dia terus bekerja, tiap hari tanpa absen. Itu artinya ia untung. Jika tidak beruntung atau merugi, tentu dia telah berhenti menjual kue dan beralih ke profesi lain. Dia bekerja keras dengan berpeluh keringat untuk menghidupi keluarganya. Warga sekeliling kami juga memiliki kesan yang sama tentang “Mbak Kue” itu.

Saya pun memberikan penilaian positif ke warga, setidaknya karena mereka tidak perlu tahu hal-hal privat tentang ibu penjual kue itu, mulai tinggalnya di mana, berapa jumlah anggota keluarganya, siapa suaminya, berapa penghasilannya, sukunya apa, bahkan namanya saja banyak yang tidak tahu. Bukan karena mereka acuh, tetapi tidak perlu mengusik privasi orang dan mereka menghargai bahwa “menjual kue” itu sebuah profesi.

Saya mencoba memahami peristiwa ibu penjual kue itu dengan mengelaborasinya lebih  dalam. Ibu yang dengan suara lantang menjajagan dagangannya “kue-kue” sebenarnya tidak hanya ingin kuenya laku dibeli para pelanggan setianya, tetapi ada “bahasa” yang dalam hati ibu itu untuk diperhatikan. Ibu itu memanggil untuk diperhatikan bahwa dia telah datang dengan kuenya, pelanggan bisa memilih kue apa saja yang mereka mau, dia satu-satunya penjual kue di limgkungan itu yang tidak punya kompetitor, dia tidak merasa rendah diri, dan hampir tidak pernah sakit.

Bahasa memang tidak sekadar ucapan verbal, tetapi seluruh gerak ibu penjual kue itu sejatinya juga bahasa. Dia sudah bertahun-tahun berjualan kue keliling kampung, datang tepat waktu tiap hari hampir tidak pernah absen. Saya tidak tahu cita-cita dia dulu apa, tetapi rasanya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang penjual kue keliling kampung tiap pagi. Mungkin dia tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi, karena berbagai keterbatasan. Bisa saja dia korban kebijakan sehingga ada hambatan atau rintangan untuk bersekolah.

Pertanyaannya sampai kapan dia kuat bertahan dengan pekerjaan seperti itu? Apa selamanya dia memiliki kemampuan fisik prima sehingga tetap bisa bersuara lantang “kue-kue”, “kue-kue”, “nasi kuning” tiap pagi hari? bukankah era ini sudah serba on line, kita bisa tetap di kamar tidur dan pesan makanan yang kita inginkan. Hanya dalam beberapa menit, makanan yang kita pesan itu akan diantar petugas dan kita tinggal bayar. Kita ini hidup benar-benar dimanjakan oleh keadaan. Kita tidak pernah membayangkan hidup di era seperti ini, serba on line.

Saya hanya berpikir berapa tahun lagi ibu penjual kue itu bisa bertahan dengan model jualan keliling kampung seperti itu. Mampukah dia bersaing dengan teknologi on line di hampir semua lini kehidupan seperti ini? Jika tidak, lalu apa pekerjaan yang akan dia lakukan?  Dan, bagaimana dia akan menghidupi keluarganya? Cara yang paling mudah ialah dia tetap berjualan kue tetapi tidak perlu keliling kampung tiap pagi. Dia bisa menggantinya dengan jualan kue sistem on line. Orang bisa memesannya tanpa harus mendatanginya. Tetapi yang pasti hilang ialah suara lantang “kue-kue”, “kue-kue”, “nasi kuning-nasi kuning”, yang tiap pagi dapat kita dengarkan akan hilang.

Itulah perubahan. Perubahan adalah sebuah keniscayaan, tak terkecuali dalam hidup kita. Kita yang dulu gagah perkasa, makan apa saja tidak ada yang melarang, kerja berjam-jam kuat, keliling pergi ke mana saja dengan gampang dilakukan, tetapi seiring dengan perjalanan waktu semua berubah. Badan menjadi ringkih, mudah sakit, tidak kuat berlama-lama bekerja, tidak bisa makan sembarang makanan, dan sebagainya. Di setiap perubahan akan ada yang hilang dan pergi, tetapi ada yang baru yang datang.

___________

Surabaya, 4 November 2019

 

 

Visits: 254
Today: 2

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *