METODOLOGI PENELITIAN: Antara Rasionalisme dan Empirisisme

“Metodologi penelitian membuat ilmu menjadi ilmiah, dan memahaminya adalah sebuah keniscayaan

bagi setiap ilmuwan”

A. Konsep Dasar Metodologi Penelitian

Sebelum membahas paradigma dan metode penelitian, penting untuk dibahas lebih dahulu mengenai konsep dasar “metodologi penelitian” dari sisi bahasa, lebih tepatnya secara semantik. “Metodologi” berasal dari kata bahasa Inggris, yakni “methodology”. Kata “methodology” sendiri merupakan gabungan dari kata “method” yang artinya “cara”, dan “logy” atau “logos” yang berarti “ilmu”. “Metodologi” berarti ilmu tentang cara, cara melakukan sesuatu.

Sedangkan “penelitian” merupakan terjemahan dari kata bahasa Inggris “research” yang berasal dari kata “re” dan “search”. Secara harfiah, re diartikan kembali atau ulang dan search berarti mencari atau menemukan, sehingga kata “research” artinya mencari kembali. Sering kali kata “research” diterjemahkan menjadi “riset” dalam bahasa Indonesia dan maknanya sedikit bergeser. Sebab, “riset”, bukan dari “ri” dan “set”. Selain “penelitian”, banyak yang menerjemahkan kata “research” menjadi “penyelidikan” atau “pemeriksaan”. Di Indonesia untuk bidang-bidang ilmu tertentu kata “kajian” atau “studi” sering disepadankan dengan kata “penelitian”, yakni kegiatan yang berkaitan dengan mengumpulkan, memproses dan menginterpretasi data.

 

Dalam pengertian paling sederhana, penelitian (research) berarti melakukan pencarian ulang atau penemuan kembali atas sesuatu. Sesuatu itu apa? Sesuatu itu ialah pola, keteraturan, hukum, sistem, dalil, rumus, atau proposisi dari suatu fenomena atau peristiwa. Para peneliti yakin bahwa semua peristiwa di dunia ini, baik menyangkut peristiwa alam, sosial maupun kemanusiaan berjalan mengikuti keteraturan atau pola tertentu.

Secara nalar logis dapat dikatakan bahwa sesuatu yang dicari kembali atau ditemukan ulang itu adalah sesuatu yang sudah ada. Hanya belum diketahui atau belum ditemukan karena belum dicari. Atau kalau pun dicari, cara mencarinya dan alat yang dipakai salah, sehingga tidak bisa ditemukan. Bagi para pengikut aliran positivistik (yang akan dibahas selanjutnya), ilmu sosial tidak jauh berbeda dengan ilmu alam. Menurut mereka, gejala sosial atau kemanusiaan yang menjadi kajian utama ilmu sosial dan humaniora juga memiliki keteraturan atau pola yang terus berlangsung.

Metode penelitian itu dapat diibaratkan sebagai sebuah cara untuk mencari sesuatu. Agar sesuatu yang dicari itu dapat ditemukan, maka diperlukan alat dan cara menggunakannya dengan tepat. Jika alat dan caranya salah, maka upaya pencarian “sesuatu” itu akan sia-sia alias gagal. Sebagai contoh, orang ingin menangkap ikan dengan menggunakan gunting, atau menangkap burung dengan sarung. Atau, ingin mengetahui persepsi atau pendapat seseorang tentang sebuah kebijakan publik menggunakan observasi.

Contoh lainnya, misalnya seorang peneliti ingin mengetahui kompetensi orang dalam bidang tertentu dengan menggunakan wawancara. Itu semua merupakan contoh yang tidak tepat dalam menggunakan alat untuk mencapai tujuan tertentu. Wujud materi yang hendak dicari menentukan alat (materials determine a means), bukan sebaliknya. Dengan demikian dapat disimpulkan wujud sesuatu yang diteliti menentukan alat dan cara untuk menelitinya.

Penggunaan istilah “research” mengandaikan bahwa sebenarnya keteraturan, pola, kaidah, ataupun hukum yang mengatur jalannya fenomena alam (natural sciences), sosial (social sciences) dan kemanusiaan (humanity) sudah ada dan berlangsung. Prof. Soetandyo Wignjosoebroto menyebutnya sebagai “the pre-established order”, yang bertolak dari kehendak eksternal yang mencitrakan dan mencitakan hadirnya suatu keselarasan yang sempurna dan final.

Tugas peneliti adalah untuk menemukan keteraturan atau dalil untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan. Ini tentu tidak mudah, sehingga tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Selain didukung minat dan semangat yang tinggi, diperlukan pengetahuan dan ketrampilan yang memadai sebagai bekal bagi seseorang untuk menjalankan tugas penelitian (baca: menjadi peneliti). Berpikir sistematis, kritis, logis dan cermat juga merupakan syarat untuk dapat melakukan penelitian dengan baik. Karena harus memenuhi syarat demikian, maka penelitian memerlukan sebuah disiplin ilmu yang disebut “metodologi penelitian”.

Metodologi penelitian berlaku untuk semua ilmu pengetahuan. Artinya, setiap ilmu wajib menggunakan metodologi penelitian untuk pengembangan, termasuk ilmu sosial. Tetapi tokoh- tokoh seperti Auguste Comte, Emile Durkheim, Karl Marx, dan John Stuart Mill, dan Max Weber yang secara terus menerus menanyakan di mana keilmiahan ilmu sosial? Jawabannya ada di tangan peneliti. Menurut Neuman (2000: 63) adalah metodologi penelitian yang menjadikan ilmu pengetahuan ilmiah. Semua ilmu mesti menggunakan seperangkat prinsip dan logika ilmiah yang sama. Yang membedakan di antara masing-masing ilmu ialah bidang atau objek kajiannya saja. Prinsip dan ukuran ilmiah adalah sama untuk semua ilmu.

Fokus utama pembahasan metodologi penelitian ialah bagaimana cara melakukan penelitian dengan baik dan membuahkan hasil maksimal. Hasil yang dimaksudkan itu ialah ilmu pengetahuan yang benar. Menurut Riyanto (2018: 358), kebenaran dalam ilmu pengetahuan memiliki pengandaian yang tak bisa disangkal, yaitu metodologi. Dengan “metodologi” dimaksudkan “kesadaran” akal budi manusia untuk mengejar dan menggapai kebenaran baru. Kebenaran baru, atau sebut saja “new knowledge”, hanya akan lahir dari kesadaran kesangsian budi kita akan apa-apa yang sudah ada, yang merupakan kebenaran lama. Bila orang tidak memiliki kesadaran sangsi akan kebenaran lama, orang tidak akan bisa memasuki suatu wahana pengembaraan akal budi untuk sampai pada kebenaran baru.

Antara metodologi penelitian dan ilmu pengetahuan terdapat hubungan tak terpisahkan. Menurut Popper ilmu berkembang bukan karena semakin banyak pengetahuan, tetapi karena semakin sedikit kesalahan. Tidak ada gunanya banyak pengetahuan tetapi campur-aduk antara yang benar dengan yang salah. Ilmu maju karena ada yang mengajukan teori, tetapi juga ada yang menguji teori. Teori gagal dalam pengujian akan gugur, teori lulus pengujian akan dipertahankan sampai ada pengujian yang lebih ketat. Sebagai aktivitas ilmiah, metode penelitian dapat digunakan untuk menentukan dan mengukur benar dan salahnya ilmu.

Sajian ini diharapkan dapat memberikan tambahan khasanah kepada para mahasiswa, dosen dan peminat bidang penelitian agar tumbuh semangat pengembangan ilmu pengetahuan sesuai bidang masing-masing. Sebab, saat ini di masyarakat akademik terjadi kehausan bacaan yang membahas metodologi penelitian secara mendalam. Walau sudah sangat populer di kalangan akademisi dan peneliti, istilah “metodologi penelitian” sering tidak dipahami secara utuh dari sisi konsep dasar dan hakikatnya. Masih banyak yang berpikir “metodologi penelitian” adalah sebuah disiplin ilmiah yang muncul begitu saja layaknya ilmu-ilmu praktis, tidak ada hubungannya dengan filsafat, dan hanya menyangkut hal-hal teknis dalam pencarian ilmu. Tentu itu sebuah pandangan yang salah.

Metodologi penelitian merupakan buah pemikiran filsafat dan menjadi satu-satu alat yang paling syah untuk mencari ilmu pengetahun. Tak dapat dielakkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan ditentukan oleh kemajuan penelitian. Tidak seperti tulisan-tulisan yang bersifat kefilsafatan yang biasanya sangat sulit dipahami, tulisan pada naskah ini dibuat dengan bahasa sederhana untuk kemudahan pemahaman, walaupun sulit dihindari penggunaan istilah-istilah dalam pemikiran filsafat yang bisa saja sangat asing bagi pemula.

Diakui kajian yang bersentuhan dengan wilayah filsafat memang tidak mudah. Sebab filsafat itu sendiri menurut Suriasumantri (1983: 4) sebagai cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Karena itu, wajar jika tidak banyak orang tertarik dengan dunia filsafat, apalagi filsafat metodologi penelitian.

Melalui metodologi penelitian kita diajarkan tidak saja bagaimana berpikir sistematis, kritis, holistik, dan logis, tetapi juga mengajukan pertanyaan berkualitas. Pertanyaan yang dimaksudkan di sini ialah pertanyaan penelitian. Sebab, belajar berfilsafat tidak hanya belajar menjawab pertanyaan yang diajukan orang lain kepada kita, tetapi juga belajar mengajukan pertanyaan yang baik.

Tulisan ini diawali dengan hasil pelacakan literatur sejarah filsafat ketika awal mula manusia Mesir Kuno menyusun ilmu, ditiru oleh orang-orang Babilonia dan Hindu, diteruskan oleh filsuf-filsuf Yunani Kuno yang mengembangkan aliran pemikiran filsafat Barat hingga lahirnya metodologi penelitian yang tradisional sampai metode kritis yang dianggap sebagai anti tesis dalam perkembangan metodologi penelitian.

B. Pengaruh Aliran Rasionalisme dan Empirisisme dalam Metodologi Penelitian

Secara historis kegiatan ilmiah yang kelak menjadi penelitian memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Menurut George J. Mouly, manusia purba telah menemukan beberapa hubungan yang bersifat empirik yang memungkinkan mereka untuk memahami keadaan dunia. Usaha mula-mula di bidang keilmuan yang tercatat dalam lembaran sejarah dilakukan oleh bangsa Mesir Kuno, kira-kira 1200 tahun sebelum masehi, walau sangat dimungkinkan aktivitas keilmuan telah mereka lakukan jauh sebelum itu (Suriasumantri, 1983: 86; Bawani, 2016: 47).

Kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang Mesir saat itu ialah mencari tahu ihwal banjir Sungai Nil yang terjadi setiap tahun dan bagaimana mengatasinya. Sebab, banjir itu meresahkan mereka. Mereka mencatat kapan terjadinya banjir yang terus saja berulang, dan menemukan keajegan waktu terjadinya banjir. Dari peristiwa banjir mereka berinisiatif menyusun pengetahuan tentang sistem almanak dan survei. Almanak ialah sebuah sistem perhitungan yang bertujuan untuk pengorganisasian waktu dalam periode tertentu. Di dalamnya ada penanggalan (daftar hari, minggu, bulan, hari-hari raya dalam setahun) yang disertai dengan data keastronomian, ramalan cuaca dan sebagainya.

Sistem almanak terus disempurnakan hingga akhirnya menjadi kalender sampai sekarang. Tentang bagaimana mengatasi banjir, mereka lakukan dengan survei kewilayahan di sekitar Sungai Nil, yang kemudian melahirkan geometri, yakni ilmu tentang bentuk, ukuran, dan sifat ruang yang diawali dari konsep pangkal, yakni titik. Dari titik, kemudian dikembangkan menjadi garis dan garis akan menyusun sebuah bidang. Survei yang awalnya adalah upaya mengatasi banjir kelak menjadi salah satu metode penelitian kuantitatif yang handal.

Keberhasilan membuat sistem pengetahuan awal dari peristiwa alam berupa banjir diikuti oleh bangsa Babilonia (sekarang Iraq) dan Hindu yang memberikan sumbangan berharga dalam pengem- bangan ilmu pengetahuan awal, walaupun tidak seintensif bangsa Mesir. Bangsa Babilonia merasa takjub dengan apa yang telah dilakukan oleh bangsa Mesir Kuno. Seperti tidak mau kalah dengan mereka, bangsa Babilonia menciptakan sistem hitungan matematik dan pemerintahan yang efektif, mendirikan birokrasi, sistem perpajakan dan sebagainya untuk menjalankan tata kehidupan bernegara. Mereka adalah bangsa yang mulai belajar hidup bersama dengan orang lain dalam satu peradaban.

Jejak peradaban bangsa Babilonia berupa lempengan-lempengan tanah liat yang di atasnya ada tulisan bagaimana mereka mengembangkan sistem perkalian, pembagian yang rumit, pecahan, persamaan kuadrat dan kubik. Selain menemukan sistem hitungan dalam matematika, orang Babilonia juga dikenal sebagai bangsa yang pertama kali menulis dari kiri ke kanan. Atas prestasinya, bangsa Babilonia pun dikenal sebagai salah satu bangsa berperadaban maju.

Bangsa Mesir tidak saja pandai mengatasi banjir yang kemudian melahirkan pengetahuan, tetapi juga membangun piramida yang begitu tersohor di seluruh dunia. Membangun piramida yang berdiri kokoh hingga hari ini tidak mungkin tanpa bekal ilmu seperti matematika, teknik, arsitektur, dan pengetahuan praktis lainnya. Piramida itu dicatat sebagai salah satu warisan keajaiban dunia. Bangsa Mesir menyimpan begitu banyak keajaiban masa lalunya. Karya orang- orang Mesir Kuno menjadi bukti peninggalan kemajuan peradaban mereka. Tidak hanya bangsa Mesir, bangsa China dan India juga menyumbang kemajuan ilmu. Jika bangsa India kesohor di bidang matematika dan penemuan angka nol, maka bangsa China yang menemukan kompas, mesiu dan mesin cetak (Suriasumantri, 1983: 11).

Seolah melengkapi dan melanjutkan prestasi bangsa Mesir, pada sekitar 600 tahun sebelum masehi para tokoh Yunani Kuno seperti Plato (428-427 SM), Socrates (469-399 SM), dan Aristoteles (384–322 SM) mempelopori pengembangan ilmu dengan titik berat pada upaya pengorganisasiannya sehingga menghasil- kan ilmu-ilmu astronomi, kedokteran, dan logika formal (silogisme) yang menjadi dasar penjabaran secara deduktif pengetahuan dan pengalaman manusia. Sejak saat itu bangsa Yunani Kuno diposisikan sebagai perintis dan peletak dasar metodo- logi keilmuan secara sistematis (Bawani, 2016: 47).

Melalui pemikiran para filsuf Yunani Kuno peradaban Barat berkembang pesat hingga era renaisans (abad ke-14 sampai ke-17) ketika saintis- saintis Barat seperti Galileo Galilei (1564- 1642) dan Isaac Newton (1643- 1727) muncul untuk mereaksi pemikiran gereja yang bersifat predestinasi. Predestani adalah sebuah doktrin gereja yang menyatakan bahwa semua peristiwa di alam semesta ini telah ditentukan oleh Tuhan sehingga bersifat final. Saat itu gereja bukan hanya sebagai institusi keagamaan, tetapi juga ilmu pengetahuan. Tetapi pada kenyatannya, aplikasi pemikiran dua ilmuwan itu baru pada awal abad ke-19. Premis dasar saintifik Galilean- Newtonian menjadi peletak dasar epistemologik bagi perkembangan fisika modern (Wignjosoebroto, ,,: 1).

Selanjutnya di era Rene Descartes (1596- 1650), seorang filsuf Perancis, pemikiran filsafat Barat berkembang melalui gagasannya yang disebut rasionalisme. Descartes sangat dipengaruhi oleh pemikiran Platonian. Menurut aliran rasionalisme sumber utama pengetahuan ialah reasons (nalar) dengan cara berpikir logis. Nalar atau akal yang merupakan bawaan manusia sejak lahir juga digunakan untuk mengukur benar tidaknya pengetahuan.

Menurut aliran rasionalisme, ide tentang kebenaran sebenarnya telah ada pada diri manusia. Pikiran manusia dapat mengetahui ide tersebut, namun tidak menciptakannya, dan tidak pula mempelajarinya lewat pengalaman. Dengan kata lain, ide tentang kebenaran diperoleh dari berpikir secara rasional. Sistem pengetahuan dibangun secara koheren di atas landasan pernyataan yang sudah pasti. Maka aliran ini disebut rasionalisme.

Aliran ini sangat mengagungkan peran subjek dan mengesampingkan objek. Ini dianggap sebagai salah satu kelemahan rasionalisme. Pengagungannya pada subjek mengakibatkan sikap superior para penganut aliran ini terhadap penganut aliran lain.

Mengutip Descartes, Riyanto (2018) menyata- kan pengetahuan itu awalnya adalah persoalan relasi manusia (subjek) dengan dunia (objek). Karena merupakan relasi, pengetahuan tunduk pada ranah subjek (manusia) dan ranah objek (dunia). Manusia ialah entitas berpikir (rasio) –“res cogitans” (itu yang berpikir). Yang berpikir itu ialah akal budi. Selanjutnya berpikir itu apa? Berpikir ialah bertanya, menyang- sikan, mempertanyakan kebenaran lama. Bertanya tentang apa? Bertanya tentang dunia dan segala apa yang di dalamnya. Aktivitas bertanya kemudian menjadi “paradigma” ilmu pengetahuan. Sejak Descartes, semua manusia disebut sebagai makhluk “rasional”, dalam arti manusia bertanya dan terus mencari jawaban. Aliran ini sering juga disebut sebagai aliran rasionalisme Cartesian.

Penganut aliran rasionalisme mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada pertanyaan tentang “kebenaran” yang pasti. Sebab, setiap orang itu mempunyai ukuran kebenaran menurut rasionalnya dirinya, sehingga sulit diperoleh konsensus tentang kebenaran. Karena itu, maka muncul aliran pemikiran baru yang disebut empirisisme. Empirisisme lahir sebagai reaksi terhadap rasionalisme. Aliran ini dikembangkan oleh David Hume (1711- 1776) yang dipengaruhi pemikiran Aristotelian. Walau Aristoteles adalah murid Plato, tetapi gagasan Aristoteles bertolak belakang dengan sang gurunya (Plato). Menurut empirisisme, pengetahuan diperoleh bukan melalui nalar, melainkan pengalaman melalui perantaraan indra (senses).

Munculnya aliran pemikiran empirisisme ternyata tidak lepas dari peran filsuf-filsuf muslim kenamaan. Menurut Suriasumantri (1983: 10) para sarjana muslim seperti al-Kindi (809-873), Al-Farobi (881-961), Ibnu Sina (980-1037), dan Ibnu Rusyd (1126-1198), juga Al-Khawarizmi (780-850) sang ahli aljabar serta Al-Battani (850-923) di bidang geometri adalah para penggagas aliran empirisisme yang sangat berpengaruh dalam dunia pemikiran Barat.

Lebih lanjut, empirisisme menolak secara keras bawaan manusia berupa akal. Pengetahuan apriori juga tidak ada di benak penganut aliran ini. Pengetahuan yang benar menurut empirisisme ialah yang dapat dibuktikan melalui pengalaman. Pengetahuan itu harus objektif (sesuai dengan objek atau realitasnya). Sekadar contoh, jika Presiden Joko Widodo sering mengatakan Indonesia adalah sebuah negara besar dengan 17. 000 pulau di dalamnya, maka menurut aliran empirisisme angka 17. 000 itu harus bisa dibuktikan, tidak lebih dan kurang. Objektif itu artinya sesuai dengan objeknya.

Bagaimana cara memperoleh pengetahuan objektif? Hume membawa kita ke kesadaran “pengalaman empirik”. Misalnya, pertanyaan panas itu apa? Cara yang paling mudah ialah dengan mengalaminya sendiri. Agar diperoleh pengalaman yang pasti, maka diciptakan alat ukur yang memastikan diperolehnya data. Aliran ini juga sering disebut aliran empirisisme Humian.

Karena mengandalkan kemampuan indra, aliran ini juga memiliki kelemahan, yakni keterbatasan indra manusia dalam menangkap objek. Sebagai contoh, puncak gunung selalu tampak indah dari jauh, tetapi sangat berbeda ketika didekati. Begitu juga laut, dari kejauhan tampak menawan oleh indra manusia. Puncak gunung dan pemandangan laut adalah objek yang menipu. Jika rasionalisme mengagungkan subjek, maka empirisisme mengagungkan objek-objek yang sebenarnya tidak akan pernah sama dengan yang ditangkap oleh indra, sebab semua adalah fatamorgana.

Setelah munculnya empirisisme, pertanyaan- nya ialah apakah dengan pendekatan empiris lebih mendekatkan kita kepada kebenaran? Menurut Suriasumantri, ternyata juga tidak. Sebab, gejala yang terdapat dalam pengalaman baru mempunyai arti jika diberikan tafsiran terhadap mereka. Fakta, yang ada sebagai diri sendiri, tidaklah mampu berkata apa-apa. Kitalah yang memberi mereka sebuah arti; sebuah nama, sebuah tempat atau apa saja. Di samping itu, jika kita hanya mengumpulkan pengetahuan mengenai berbagai gejala yang kita temui dalam pengalaman kita lalu apa gunanya semua kumpulan pengetahuan itu bagi kita?

Dalam perjalanannya, kedua belah pihak saling menyadari akan kelebihan dan kekurangan masing- masing. Walaupun awalnya saling bertentangan, keduanya akhirnya dapat bertemu dan saling melengkapi. Jika rasionalisme memberikan kerangka dasar pemikiran yang koheren dan logis, maka empirisisme kerangka pengujian dalam memastikan suatu kebenaran. Keduanya diakui sebagai metode pencarian pengetahuan yang syah hingga saat ini. Tidak hanya proses pencarian pengetahuan yang keduanya saling melengkapi, tetapi juga dalam menentukan prasyarat ilmiah suatu pengetahuan.

Jika rasionalisme mensyaratkan reasonable dan logical sebagai syarat kebenaran, maka dalam empirisisme kebenaran harus secara empirik dapat dibuktikan (empirically verifiable). Gabungan kedua aliran membentuk metode keilmuan, yakni “coherent, reasonable/logical and verifiable”. Rasionalisme yang mengagungkan nalar menjadi cikal bakal kelahiran filsafat positivisme (Rahardjo, 2004: 19), walau banyak juga yang beranggapan empirisisme menyumbang kelahiran positivisme. Bisa juga disebut aliran positivisme lahir karena perjumpaan dua aliran rasionalisme dan empirisisme (sebagaimana digambarkan pada matrik berikut).

 

SCHOOLS OF EPISTEMOLOGY OF KNOWLEDGE:

From Rationalism to Empiricism

Number

Dimensions

Rationalism (West) (Plato).. 428-427 SM,

Ideas appear first, embedded in humans as creatures

Plato is idealism

Empiricism (East) Aristoteles, (384-322 SM )

Ideas appear from observation or experience,

Aristoteles is realism

1.

Sources of knowledge

Reasons, Knowledge starts from ratio, and self-consiousness, It starts from subject,

Experiences through human senses

(objective truth is always based on reality),

All starts from reality,

It starts from object,

2.

Figures

Rene Descartes, 1596-1650, (to

know means to remember),

G.W. Leibniz, Baruch Spinoza Immanuel Kant,

John Locke, George Berkeley, David Hume,

(to know is to experience using human senses)

3.

Mode of thinking

Deduction

Induction

 

 

 

(from general to spesific)

(from spesific to general)

4.

Theory of Truth

Coherence (something is correct when when it is consistent and

logical)

Correspondence (Something is correct when it is based on the

reality)

5.

Resulted Type of Knowledge

A priori (no need to verify). Truth is determined by reasons and intellectual

institutions

Aposteriori (truth is obtained only after being verified,

Truth is objective and universal

The beginning of positivism

Antara Positivisme, Interpretivisme, dan Refleksifisme

Positivisme ialah sebuah aliran pemikiran dalam filsafat yang sejak awal abad ke-19 amat mempengaruhi banyak pemikiran di berbagai bidang ilmu tentang kehidupan manusia. Jika dirunut ke belakang, sebenarnya aliran ini sudah muncul di awal era renaisans ketika saintis-saintis ilmu pengetahuan alam di Barat seperti Galileo Galliae dan Isaac Newton muncul mereaksi ajaran gereja yang predestini teologik final, tetapi aplikasi baru terjadi pada awal abad ke-19. Seorang filsuf Perancis bernama Auguste Comte (1798 – 1857) tidaklah bisa dilepaskan dari riwayat kelahiran dan aplikasi positivisme di bidang kajian tentang tertib kehidupan manusia (Wignjosoebroto,…, 1).

Aliran positivisme sering juga disebut aliran empirisisme, behaviorisme dan sainsisme. Aliran ini berkembang akibat sangat terobsesi dan dipengaruhi oleh ilmu-ilmu kealaman yang tergolong Aristotelian. Ia bertumpu pada pandangan bahwa realitas itu pada hakikatnya bersifat materi dan kealaman. Manusia pun menurut positivisme hakikatnya bersifat materi. Yang disebut jiwa tidak ubahnya dengan kertas putih (tabula rasa) yang hakikatnya semacam film kamera pada diri manusia; ia sekadar “photocopy” atau gambaran “hasil potret” pengalaman indrawi manusia (Faisal, 1998: 3).

Gagasan positivisme Auguste Comte mempero- leh banyak respons dari para filsuf selanjutnya. Misalnya, filsuf Inggris John Stuart Mill (1806-1873) mengembangkan dan memodifikasi gagasan positivisme Auguste Comte. Emile Durkheim menguat- kannya sebagai dasar berpikir mencari pengetahuan yang tepat (Neuman, 2000: 66)

Ada beberapa landasan yang mendasari positivisme sebagai sebuah paradigma berpikir yang berangkat dari paham Galilean-Comtean, yakni kebenaran itu sesuatu yang logis, ada buktinya dan dapat diukur dengan angka, yang menjadi objek ilmu pengetahuan ialah sesuatu yang tampak sebagai fakta (bukan sesuatu yang ada di balik yang tampak). Tertib kehidupan terjadi sebagai hasil aksi-reaksi — dalam hubungan sebab akibat (causality). Semua tatanan berlangsung menurut nalar logis yang ketat dan kenyataan niscaya bersifat stabil dan terpola, sehingga bisa ditemukan atau dirumuskan hukum-hukumnya.

Selanjutnya positivisme melahirkan metode penelitian kuantitatif yang menghendaki data berupa angka dan menggunakan eksperimen, survei, dan statistik sebagai alat analisis data. Model kerja para pengikut positivisme mencari ukuran yang tepat dan keras, penelitian objektif, menguji hipotesis, menganalisis data angka secara cermat.

Prinsip yang tegas menurut positivisme ialah hanya ada satu logika ilmu, ilmu alam sebagai satu- satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak segala aktivitas yang berkenaan dengan metafisik. Semua harus terukur dengan jelas dan berdasarkan data empirik serta menghindari pengetahuan spekulatif. Ilmuwan ialah orang yang tidak pernah berhenti mencari pengetahuan. Semakin dalam sesuatu dipelajari, semakin ditemukan kompleksitas dan terus menarik untuk dipelajari, sehingga pencarian pengetahuan tidak mengenal kata akhir.

Proses penelitian kuantitatif berlangsung secara linier dengan prinsip logiko-hipotetiko- verifikatif. Dimulai dari rumusan masalah, perumusan hipotesis, penyusunan alat pengukuran (instrumen pengukuran), dilanjutkan dengan pengumpulan data, menganalisis data, merumuskan temuan, dan terakhir menyusun laporan penelitian. Disebut prosesnya linier artinya tahap kedua tidak mungkin dilakukan tanpa tahap pertama selesai. Tahap ketiga tidak mungkin dilakukan tanpa tahap kedua selesai lebih dahulu, dan seterusnya.

Sebagai aliran pemikiran, positivisme tak luput dari kelemahan. Salah satu di antaranya ialah pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk mekanik yang bertindak hanya jika ada stimulus atau rangsangan dari luar dirinya. Manusia diposisikan sebagai aktor pasif yang semua tindakannya ditentukan oleh hukum sosial di luar dirinya sebagai “external causes”. Akibatnya, positivisme dianggap tidak dapat membawa ke perubahan kehidupan yang lebih baik. Konflik, keadilan, dan ketimpangan hidup dianggap sebagai konsekwensi dari hukum sosial yang sifatnya pasti. Selain itu, aliran positivisme dianggap antidemokratik, dan tidak humanis dalam meng- gunaan akal.

Lahirlah aliran interpretivisme yang lebih idealistik dan humanistik, sebagai reaksi terhadap positivisme yang bersifat otomatik dan mekanik. Ada dua tokoh penting di balik interpretivisme, yakni ahli sosiologi dari Jerman bernama Max Weber (1864- 1920) dan filsuf Jerman Wilhelm Dilthey (1833-1911). Menurut Dilthey ada dua jenis pengetahuan yang berbeda secara mendasar, yaitu “Erklarung” atau penjelasan dan “verstehen” atau pemahaman.

Atas dasar penjelasan Dilthey, manusia adalah makhluk berkehendak yang yang bertindak atas dasar interpretasi dan pemaknaan. Tidak ada tindakan manusia yang tiba-tiba tanpa berdasarkan kesadaran bertujuan. Manusia adalah makhluk berkesadaran atau intentional human beings. Tugas ilmu sosial ialah menggali makna tindakan manusia dan menemukan bagaimana manusia mengkonstruksi makna dalam latar kehidupan alamiah. Paradigma interpretif berkeyakinan bahwa kenyataan bersifat cair dan mengalir, karena merupakan hasil kesepakatan dan interaksi manusia.

Aliran interpretivisme mendasari metode penelitian kualitatif yang akar filsafatnya berasal dari aliran sosiologi pemaknaan (interpretivist sociological tradition) yang dikenalkan oleh Max Weber dengan menyebut istilah verstehen. Weber dapat disebut sebagai founding father aliran ini. Tradisi pemikiran ini disebut tradisi pemikiran Jerman yang lebih humanistik, memandang manusia sebagai manusia, lebih terobsesi dan dipengaruhi oleh filsafat rasionalisme (idealisme) Platonian.

Tentu Weber tidak sendirian, karena filsafat fenomenologi juga sangat kuat mempengaruhi tradisi penelitian ini. Selain fenomenologi (Husserl, sebagai salah satu tokohnya), etnografi (Taylor), etnometodologi (Garfinkel), dan interaksionisme simbolik (Blumer) juga memperkaya metode penelitian kualitatif.

Proses penelitian kualitatif tidak linier seperti penelitian kuantitatif dengan prinsip logiko- hipotetiko-verifikatif, melainkan logiko-induktif- abstraktif, yakni suatu logika yang bertitik tolak dari “khusus ke umum”. Konseptualisasi, kategorisasi, dan deskripsi dikembangkan atas dasar “kejadian” yang diperoleh ketika kegiatan di lapangan berlangsung. Teoretisasi yang memperlihatkan hubungan antar- kategori (atau hubungan antarvariabel dalam penelitian kuantitatif) juga dikembangkan atas dasar data yang diperoleh ketika kegiatan di lapangan berlangsung. Karenanya, antara kegiatan pengum- pulan data dan analisis data menjadi tak mungkin dipisahkan satu sama lain (Faisal, 1998: 6). Karena memahami kenyataan, lebih-lebih kenyataan sosial, tidak mungkin lepas dari unsur subjektivitas peneliti, maka fenomenologi, sebagai salah satu jenis penelitian kualitatif, menegaskan bahwa suatu kenyataan objektif adalah fenomen (empirik) yang dimaknai oleh subjek yang mengamatinya. Supaya peneliti sungguh memahami kenyataan sosial, maka dia wajib mendengarkan dengan berempati (termasuk perasaan) subjek penelitian. Pemahaman dengan empati demikian dapat menghindarkan peneliti dari kekeliruan memahami realitas secara subjektif. Inilah yang disebut verstehen oleh Weber, yakni memahami suatu peristiwa yang dialami subjek dari sisi pandangan subjek itu sendiri, bukan dari sisi peneliti ((Budianto, 2018: 386).

Menurut Faisal (1998: 4) istilah memahami atau “verstehen” menurut Weber adalah idiom khusus dalam penelitian kualitatif. Idiom tersebut merupakan padanan dari istilah “menjelaskan” atau “explain” dalam penelitian kuantitatif. Secara sengaja digunakan istilah “memahami” (bukan menjelaskan), karena yang diburu bukanlah “faktor penyebab” atau “kausalitas” dari sesuatu fenomena melainkan alasan-alasan maknawi (reasons) dari para pelaku sesuatu tindakan atau praktik sosial itu sendiri. Bisa ditambahkan di sini “penyebab” atau “causes” itu sesuatu yang datang dari luar diri pelaku (external causes), sedangkan “alasan” atau “reasons” itu datangnya dari dalam diri pelaku tindak sosial. Karena itu, sering juga dinyatakan “external causes” versus “internal reasons” untuk menyebut salah satu perbedaan penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif.

Selanjutnya aliran pemikiran yang disebut terakhir, yakni fenomenologi, etnografi, etnometodo- logi, interaksionisme simbolik tidak hanya menyumbang atau memperkaya metode penelitian kualitatif, tetapi menjadi jenis penelitian kualitatif, selain studi kasus, grounded theory dan studi teks yang berkembang pesat beberapa dasa warsa terakhir. Penelitian bidang-bidang ilmu seperti pendidikan, sejarah, politik, ekonomi, bahasa, hingga agama tentu dapat memanfaatkan semua aliran tersebut untuk memperkaya khasanah penelitian.

Interpretivisme pun tak luput dari kelemahan di mata para pengritiknya. Jika positivisme dianggap menempatkan manusia sebagai pribadi pasif yang bertindak hanya karena adanya faktor-faktor penyebab di luar dirinya, maka sebaliknya interpretivisme menempatkan manusia sebagai aktor aktif dalam tindakan sosial secara berlebihan dan sangat subjektif. Selain itu, aliran ini lebih fokus pada proses metodologi ketimbang hasil, sehingga melupakan tujuan utama ilmu pengetahuan, yakni untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Menurut Neuman (2000: 76) karena mengagungkan ide sebagai unsur utama manusia melakukan tindakan, aliran ini menganggap ide lebih penting daripada kondisi nyata suatu peristiwa, fokusnya hanya pada peristiwa lokal, di tataran mikro,dan berlangsung sesaat sehingga mengabaikan konteks yang lebih luas dan berjangka panjang.

Selain positivisme dan interpretivisme, masih ada satu lagi aliran pemikiran yang kemudian menjadi paradigma penelitian, yakni refleksifisme. Jika positivisme melahirkan metode kuantitatif, dan interpretivisme melahirkan metode kualitatif, maka refleksifisme melahirkan metode penelitian kritis (Neuman, 2000: 65). Tokoh-tokoh di balik metode kritis ialah Karl Marx (1818-1883), Sigmund Freud (1856-1939),   Theodor   Adorno   (1903-1969),  Erich Fromm (1900- 1980),  dan  Herbert  Marcuses  (1898-1979), Jurgen Habermas (1929- ), dan Pierre Bourdieu (1930-2002).

Sesuai namanya, pendekatan kritis lahir dari kumpulan kritik terhadap beberapa pendekatan yang sudah ada. Prinsip dasar metode penelitian kritis ialah ada sebagian masyarakat yang tertindas dan terpinggirkan akibat kemajuan atau inovasi-inovasi di bidang teknologi yang digunakan oleh para pemilik modal dan penguasa. Kemajuan teknologi sering digunakan penguasa untuk menjinakkan masyarakat.

Di masyarakat modern terdapat kesadaran palsu (false consciousness) yang diproduksi secara massal oleh media sebagai alat penguasa. Lembaga- lembaga pendidikan pun dianggap sebagai institusi kepanjangan tangan penguasa. Ilmu pengetahuan yang mesti netral juga tak luput dari penggunaan yang salah untuk menjustifikasi kebijakan dan keputusan penguasa. Menurut paradigma refleksif kenyataan niscaya penuh dengan pertentangan, dan dipengaruhi oleh struktur terselubung yang mendasarinya.

Pendekatan kritis lahir dengan tujuan membangun masyarakat untuk dapat menggunakan daya mereka demi perbaikan hidup. Aliran ini menempatkan teori dalam praktik kehidupan dan hasilnya digunakan untuk mengubah atau mmemperbaikinya. Pengetahuan dalam pandangan aliran kritis utamanya diperoleh dari aktivitas baik dalam upaya mengubah lingkungan maupun melalui interaksi dengan orang lain.

Berikut secara ringkas diuraikan perbedaan mendasar masing-masing paradigma sebagai berikut:

 

 

NO.

 

AKSIOMA

PARADIGMA

POSITIVISME

INTERPRE-

TIFISME

REFLEKSIFIS-

ME

1.

Hakikat Realitas

tunggal, dapat dipilah-pilah

jamak, holistik

wacana penindasan

2

Hubungan

terpisah

interaktif

enabler/pem

 

peneliti

(peneliti tidak

(peneliti

ber-dayaan

 

dengan

harus ke

harus ke

 

 

yang

lapangan/bole

lapangan).

 

 

diteliti

h orang lain).

instrumenn

 

 

 

 

ya peneliti

 

 

 

 

sendiri

 

 

3.

Kemungki

-nan gene- ralisasi

generalisasi yang bebas konteks

generalisasi terikat pada konteks

transferabilit as

4.

Kemungki nan hubungan sebab akibat

hubungan antara sebab akibat jelas

hubungan sebab dan akibat tidak jelas

pihak yang lebih dominan menguasai yang lemah (the powerful dominates the weak)

5.

Peranan nilai (value)

bebas nilai (value free)

(Penelitian dengan metode yang sama akan menghasilkan nilai yang sama)

terikat pada nilai

(value bound) penelitian dengan metode dan objek yang sama dapat memperole h hasil berbeda

ada nilai baik dan nilai jelek

(good values and bad values)

Peneliti memperjuang

-kan good values

6.

Objek

menekankan produk

menekanka n proses

realitas tertindas (oppressed reality)

7

Posisi teori

masalah-teori- data (apriori)

masalah- data-teori

piranti perjuangan

 

 

 

 

Logico- hipotetico- verifikatif

(a posteriori)

 

induktif

(a means of struggle)

(deduktif)

 

 

8

Tujuan (dalam kaitan dengan teori)

menguji teori

membangu n teori

operasionalis a-si teori

(teori sebagai piranti perjuangan)

9

Tingkat subjektivi- tas

Objektif

subjektif

Kritis

 

D. Penutup

Dari pelacakan literatur sejarah ilmu, dapat dikatakan metodologi penelitian memiliki akar filosofis yang sangat panjang. Dimulai dari aktivitas ringan bangsa Mesir Kuno mengatasi banjir Sungai Nil sekitar 1200 tahun sebelum masehi. Dari peristiwa banjir, mereka menyusun sistem almanak, melakukan survei dan menghasilkan ilmu geometri. Walau sangat mungkin mereka telah melakukan kegiatan keilmuan jauh sebelum itu. Prestasi bangsa Mesir menjadi inspirasi orang-orang Babilonia dan Hindu untuk menirunya. Mereka juga mengembangkan ilmu, terutama ilmu matematika dan administrasi pemerintahan, birokrasi, dan perpajakan sebagai sarana hidup bersama dengan orang lain dalam satu wadah peradaban.

Melanjutkan prestasi bangsa Mesir, pada sekitar 600 tahun sebelum masehi para tokoh Yunani Kuno seperti Plato (428-427 SM), Socrates (469-399 SM), dan Aristoteles (384–322 SM) mempelopori pengembangan ilmu yang menghasilkan ilmu-ilmu astronomi, kedokteran, dan logika formal (silogisme).

Di tangan para filsuf Yunani Kuno peradaban Barat berkembang hingga era renaisans (abad ke-14 sampai ke-17) ketika Galileo Galilei (1564- 1642) dan Isaac Newton (1643- 1727) muncul untuk mereaksi pemikiran gereja yang dogmatik dan teleologik final.

Kemajuan pemikiran filsafat Barat mencapai puncak ketika Rene Descartes (1596-1650) mengembangkan gagasan pemikiran yang disebut rasionalisme. Rasionalisme menganggap sumber utama pengetahuan ialah reasons (nalar). Melalui nalar, manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan di berbagai bidang.

Dari rasionalisme muncul empirisisme, dikembangkan oleh David Hume (1711- 1776) yang beranggapan bahwa pengetahuan diperoleh bukan melalui nalar, melainkan pengalaman melalui perantaraan indra (senses). Pengetahuan yang benar menurut empirisisme ialah yang dapat dibuktikan. Pengetahuan itu harus objektif (sesuai dengan objek atau realitasnya).

Walaupun bertentangan, keduanya akhirnya dapat bertemu dan saling melengkapi. Jika rasionalisme melahirkan pendekatan deduktif dalam proses pencarian pengetahuan, maka empirisisme melahirkan pendekatan induktif. Tidak hanya proses pencarian pengetahuan yang keduanya saling melengkapi, tetapi juga dalam menentukan prasyarat ilmiah suatu pengetahuan. Keduanya menyepakati bahwa kebenaran ilmu pengetahuan itu memenuhi syarat “reasonable/logical and verifiable”. Artinya, ilmu yang benar ialah yang masuk akal, logis, terjaga koherensinya, dan dapat dibuktikan secara indrawi.

Dengan nalar, manusia dapat mengenal pengetahuan yang benar dan yang salah. Itu sebabnya, banyak yang berpendapat bahwa rasionalisme yang mengagungkan nalar menjadi cikal bakal kelahiran filsafat positivisme, walau banyak juga yang menyatakan empirisisme juga menyumbang kelahiran positivisme.

Dari positivisme lahir metode penelitian kuantitatif, seperti penelitian korelasi, eksperimen, survei, sensus dan sebagainya, yang begitu dominan selama puluhan tahun dalam pengembangan ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan   alam. Sebagai sebuah aliran pemikiran, positivsime tidak luput dari kelemahan, yang akhirnya melahirkan aliran pemikiran interpretivisme. Dari interpretivisme lahir metode penelitian kualitatif dengan berbagai jenisnya.

Kedua aliran pemikiran itu juga dikritik oleh para filsuf yang akhirnya melahirkan aliran pemikiran refleksif. Dari aliran refleksif lahir metode penelitian kritis. Kendati hanya terbatas pada bidang ilmu tertentu, metode kritis sudah sangat dikenal oleh para peneliti beberapa dekade terakhir.

Demikian perjalanan metodologi penelitian sebagai sebuah disiplin yang syah untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Metodologi penelitian berkembang melalui relung-relung pemikiran filsafat yang sangat panjang, ribuan tahun sebelum masehi. Selain kompetensi dan ketrampilan teknis dalam melakukan penelitian, para peneliti dan ilmuwan sudah seyogyanya memahami sejarah ilmu dan akar-akar metodologi penelitian sehingga memperoleh gambaran utuh secara filosofis bagaimana ilmu tentang penelitian ini lahir, berkembang, dan digunakan oleh para ilmuwan.

Karena metodologi penelitian hakikatnya ialah ilmu untuk mencari pengetahuan ilmiah, maka penguasaan terhadap metodologi penelitian yang mendalam akan membantu peneliti memahami hakikat ilmu dengan prinsip dan syarat-syarat ilmiah. Sebaliknya, kekurangan pengetahuan metodologi bisa menyebabkan kegagalan dalam pencarian pengetahuan yang benar!

 

DAFTAR PUSTAKA

Bawani, Imam. 2016. Metodologi Penelitian Pendidikan Islam. Sidoarjo: Khasanah Ilmu Sidoarjo.

Budianto, Antonius Sad. 2018. “Penelitian Sosial dalam Berteologi”. Dalam A. Tjatur Raharso dan Yustinus (ed.). Metodologi Riset Studi Filsafat Teologi. Malang: Penerbit Dioma.

Faisal, Sanapiah. 1998. “Filosofi Akar Tradisi Penelitian Kualitatif”. Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif. Kumpulan Materi. Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BMPTSI) Wilayah VII-Jawa Timur. Surabaya. 24-27 Agustus 1998.

Neuman, W. Lawrence. 2000. Fourth Edition, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approach. Needham Height: A Pearson Education Company.

Rahardjo, M. Dawam. 2004. “Pendekatan Ilmiah terhadap Fenomena Keagamaan”. Dalam Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (ed.). Metodologi Penelitian Agama: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Riyanto, F.X. Eko Armada. 2018. Relasionalitas: Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen. Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius.

Suriasumantri, Jujun S. (ed.) 1983. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.

Wignjosoebroto, Soetandyo. (tanpa tahun). “Positivisme dan Doktrin Positivisme dalam Hukum dan Ilmu Normatif (Ajaran) Lainnya, dan Kritik-Kritik Terhadap Doktrin ini”, Makalah lepas.

Visits: 52
Today: 3

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *