Kematian itu Mendadak, Betulkah?

Bekas tangis dan rasa duka akibat kematian suaminya masih tampak di wajah seorang ibu setengah baya ketika beberapa waktu lalu saya bertakziah sekaligus menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya sang suami, yang kebetulan salah seorang karib saya. Beberapa kali ibu yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar itu masih tidak kuasa membendung air matanya ketika berceritera tentang musibah yang dia alami. Kematian sang suami meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga itu. “Tidak sakit apa-apa lho pak”, “Sehari-hari juga sehat. Kerja seperti biasa”.  “Kemarin masih ngobrol santai dengan saya dan anak-anak, sorenya habis sholat ashar katanya dadanya terasa sesak. Kami segera menghubungi dokter langganan keluarga, dan langsung disarankan untuk periksa ke rumah sakit ke bagian ICU diantar anak yang bungsu. Saya nunggu di rumah, sambil masak. Tapi setelah maghrib ada berita dari rumah sakit bapak meninggal”. “Berita itu bagaikan sambaran petir di siang bolong. Dunia ini terasa gelap dan seakan runtuh. Sebenarnya sampai jam 19.00, kami belum percaya bapak telah tiada. Bapak sehat, toh tadi ke rumah sakit hanya karena sesak saja.  Kami sama sekali tidak mengira itu serius dan malah menjadi penyebab kematiannya. Tetapi setelah ambulans datang dan saya lihat ada tubuh membujur kaku di dalamnya, baru saya dan anak-anak percaya bapak sungguh telah tiada”. Begitu ungkapan istri almarhum sambil terbata-bata dengan uraian air mata di wajahnya.

 

Akhirnya kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun” merupakan ungkapan yang tepat diucapkan oleh keluarga yang sangat terpukul dengan kepergian kepala keluarganya. Kita semua ini dari Allah  dan suatu saat akan kembali kepadaNya.  Allah yang memberi kita kehidupan dan Allah pula yang akan memberikan kematian. Maka, kita mesti ikhlas karena kehidupan itu bukan milik kita.

Kaget, terkejut, tidak percaya dan sebagainya adalah ungkapan-ungkapan psikologis dari seseorang ketika menghadapi suatu peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, seperti kematian. Semua orang tentu merasa sedih ketika ditinggal oleh orang yang dicintainya untuk selama-lamanya.  Lebih-lebih ketika tidak ada gejala dan firasat apa-apa sebelumnya, kematian  seseorang pasti dianggap mendadak atau tiba-tiba.

Begitu ketika terdengar kabar sang Maestro Stasiun Balapan meninggal pada Selasa, 5/5/2020, hampir semua penggemar mengatakan Didi Kempot meninggal mendadak. Sebab, selama ini nggak ada tanda-tanda sakit, dan malah akhir-akhir ini sibuk mengadakan konser mengumpulkan dana untuk disumbangkan ke masyarakat yang menjadi korban Covid 19. Penggemarnya sedih, karena lagu-lagu khas yang dia ciptakan menjadi kesukaan berbagai kalangan, laki perempuan, tua muda, orang desa kota, kelas bawah dan atas. Pendek kata Didik Kempot adalah  salah seorang seniman fenomenal yang penggemarnya begitu banyak. Dia meninggal di puncak-pundak kariernya.  Tetapi sebenarnya adakah kematian yang  mendadak atau tiba-tiba?

Kematian itu apa? Secara medis, kematian adalah ketika jantung berhenti tidak menjalankan fungsinya. Tetapi secara hakiki kematian ialah keluarnya ruh dari jasad. Mengapa keluar? Karena jasad sudah tidak lagi mampu menampung ruh atau jiwa. Kematian menjadi momen pergantian hidup dengan jasad atau tubuh dengan hidup akhirat. Sama dengan kelahiran, yakni pergantian hidup dari alam kandungan ke alam dunia. Alam kandungan begitu sempit, sedangkan alam dunia begitu luas. Dibanding alam dunia, alam akhirat tiada tandingannya. Alam akhirat tak terbatas luasnya.

Kematian menjadikan jasad tempat bersemainya ruh akan hancur dan akhirnya hilang, sedangkan ruh akan ada selama-lamanya. Jasad yang terdiri atas tulang, daging, darah, urat-urat, kulit, bulu, kuku, gigi, rambut akan rusak begitu ruh pergi meninggalkannya. Jasad asalnya dari tanah, sehingga kembali ke tanah. Sedangkan ruh tidak berasal dari tanah, tetapi dari unsur ghaib ciptaan Tuhan dan hanya Tuhan saja yang mengetahuinya. Ruh tidak akan mati selama-lamanya. Tetapi kita diingatkan Allah tidak boleh terlalu banyak bertanya tentang ruh. Sebab, masalah ruh adalah urusan Tuhan. “Dan, mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, katakan: Ruh itu urusan Tuhan-Ku, dan Kamu tidaklah diberi pengetahuan kecuali sedikit” (Al-Isra 85).

Mengapa kita tidak boleh tahu banyak tentang ruh? Mungkin karena akal manusia tidak mampu menjangkaunya, sehingga Allah hanya memerintahkan untuk mengimaninya saja. Jangankan manusia, para nabi dan rasul saja tidak mengetahui dan tidak diberitahu oleh Allah akan hakikat dan rahasia ruh. Sehebat apa pun akal manusia dan semaju apa pun ilmu pengetahuannya tidak akan mampu mengetahui rahasia ruh. Bahkan pemikir-pemikir besar seperti  Socrates, Plato, Aristoteles dan lain tidak mampu menjelaskan hakikat ruh. Mereka hanya percaya ruh itu ada.

‘Kematian’ , sebuah kata yang hampir tiap hari kita mendengarnya, lebih-lebih saat ini ketika masyarakat dunia dilanda virus corona atau yang disebut Covid 19 dengan jumlah korban baik yang masih dalam perawatan maupun meninggal begitu besar. Kematian itu pasti datang menghampiri siapa pun, tetapi tidak setiap orang siap menyambutnya. Justru semua orang menghindarinya. Umumnya orang ingin hidup berlama-lama, malah kalau bisa selamanya, seperti sajak Chairil Anwar “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”.

Mengapa orang menghindari kematian? Ada beberapa alasan. Misalnya, cita-citanya atau angan-angan dalam hidupnya belum kesampaian, tanggungan keluarga masih banyak, masih sangat menikmati dunia, dan lain-lain. Untuk itu, berbagai cara dilakukan orang untuk menghindari dari kematian. Perhatikan ketika seseorang sakit atau sedang diopname di rumah sakit. Saking ingin sehat kembali andai saja semua hartanya habis pun seseorang sanggup mengeluarkannya asal bisa sehat kembali. Al-Qur’an juga mengingatkan melalui surat Al-Baqarah ayat 96 “Setiap seorang di antara mereka menginginkan seandainya dia bisa diberi umur seribu tahun”. Manusia ingin hidup kalau bisa selama-lamanya.

Kematian adalah keniscayaan dan dia bukan akhir dari kehidupan. Maka,  ketika ia datang dianggap tiba-tiba atau mendadak. Padahal, tanda-tanda kematian itu sudah diberikan oleh Tuhan. Terus bertambahnya usia yang diikuti dengan semakin lemahnya fisik merupakan salah satu tanda dhohir dekatnya seseorang dengan kematian. Sayang tidak banyak orang memerhatikan tanda-tanda itu. Karena kesibukan dunia, tanda-tanda itu tidak pernah diperhatikan hingga akhirnya kesempatan hidup sudah tiada dengan datangnya kematian.

Kata “kematian mendadak” sejatinya hanya ungkapan emosional manusia karena mengalami peristiwa yang tidak disangka-sangka. Di dalam kamus Tuhan tidak ada istilah ‘mendadak’. Sebab, Tuhan telah menakdirkan kapan seseorang lahir dan meninggal, bahkan dengan cara bagaimana dan di mana meninggalnya. Tak seorang pun tahu kapan dan di mana dia akan meninggal. “Dan tiada seorang jiwa pun yang mengetahui di belahan bumi manakah ia akan mati”  (Lukman: 34). Pentingkah kita mengetahui di mana dan kapan kita akan meninggal? Tidak. Yang penting adalah bekal yang kita bawa setelah kematian. Bekal itu bukan uang, barang, perhiasan dan sebagainya, tetapi amal sholeh.

Bagi orang beriman kematian memang menakutkan, karena tahu risiko yang akan dihadapi jika tidak berbekal amal yang cukup. Dia yakin adanya hisab atas semua amal perbuatan yang dilakukan di dunia. Dia takut dengan kematian karena khawatir amal sholeh sebagai bekal belum cukup, sementara dosanya masih banyak. Tetapi sebaliknya, bagi orang yang tidak  beriman kematian dianggap hal biasa-biasa saja, karena mengira tidak ada kehidupan setelah kematian, sehingga tidak perlu persiapan apa-apa. Bagi orang beriman kematian disikapi dengan wajar— karena pasti akan datang. Maka, beramal sholeh dan mengisi hidup dengan penuh makna merupakan tindakan tepat menyongsong kematian. Bagaimana hidup bermakna? Apakah dengan bergelimang harta, jabatan tinggi dan popularitas? Bukan. Hidup bermakna ialah ketika kehadirannya ditunggu banyak orang. Ketika memiliki ilmu, dan ilmunya itu diajarkan kepada  orang lain. Ketika punya harta, dan hartanya  juga membawa manfaat bagi orang lain. Dan, ketika bisa berpasrah diri kepada sang Pencipta sambil mendekat-Nya!

________

Malang, 11 Mei 2020

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *