Mencari Masalah Penelitian

A. Pengantar

Penelitian adalah  sebuah  kegiatan yang terencana untuk menjawab masalah secara ilmiah berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis. Jawabannya berupa pola, dalil, hukum, rumus, atau formula dari objek yang diteliti. Asumsinya ialah semua persoalan di alam semesta ini baik yang berupa peristiwa alam, sosial, maupun kemanusiaan terdapat pola atau keteraturan yang dapat diamati. Penelitian tentang pendidikan, misalnya, berupaya mengungkap masalah pendidikan dan mencari jawabannya sehingga menghasilkan output atau outcome yang diharapkan. Hasil yang diharapkan itu tidak akan diperoleh atau terjadi secara tiba-tiba atau kebetulan, melainkan melalui perencanaan dan proses belajar mengajar yang melibatkan banyak pihak, seperti guru, siswa, kurikulum, dana, ketersediaan sarana dan prasarana, orangtua siswa, lingkungan dan sebagainya. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba atau kebetulan dalam dunia ilmiah. Penelitian dapat memberi jawaban terhadap masalah yang terjadi di dunia pendidikan sesuai topik yang diangkat. Penelitian tentang pendidikan bisa mengangkat persoalan kurikulum dan hasilnya diberikan kepada penyelenggara pendidikan sehingga persoalan kurikulum dapat dipecahkan.

 

Persoalannya ialah memilih masalah untuk diangkat dalam penelitian ternyata tidak mudah. Sebab, tidak setiap masalah adalah masalah yang dapat diangkat menjadi masalah penelitian. Dengan kata lain, tidak setiap masalah adalah masalah penelitian. Misalnya, bagaimana cara mengecat rumah sehingga rumah menjadi tampak cerah bukan masalah penelitian. Tetapi bagaimana menjadikan rumah  atau kawasan perumahan sebagai tempat tinggal yang menyejahterakan dan menyejukkan penghuninya bisa diangkat menjadi masalah penelitian.  Begitu juga, misalnya, kunci pintu rumah rusak sehingga penghuninya tidak bisa masuk memang masalah. Tetapi ini bukan masalah penelitian. Masalah penelitian adalah masalah  yang untuk menjawabnya diperlukan data yang kemudian dianalisis dengan dukungan teori sehingga menghasilkan jawaban berupa konsep atau dapat dikonseptualisasikan. Selain itu, masalah penelitian adalah masalah yang sedang menjadi kegelisahan masyarakat atau sebagian masyarakat. Setelah dilakukan penelitian, ditemukan jawaban yang berbentuk deskripsi, eksplanasi, generalisasi atau prediksi yang berkontribusi terhadap pengembangan pengetahuan. Dengan demikian, cara mengecat rumah dan membetulkan kunci pintu rumah bukan masalah penelitian, karena jawabannya tidak dapat dikonseptualisasikan dan berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Dua contoh tersebut merupakan masalah teknis yang dapat dilakukan oleh setiap orang.

Kenyataannya, tidak sedikit mahasiswa S1, S2 bahkan S3 mengalami kebingungan mencari masalah penelitian. Akibatnya, penyelesaian tugas akhir bisa terbengkalai. Ada kalanya mahasiswa telah menemukan masalah, tetapi setelah dikaji secara akademik masalah tersebut tidak layak untuk diangkat menjadi masalah penelitian karena berbagai alasan. Di sini  diperlukan expertise calon peneliti sendiri untuk mengukur mengenai layak atau tidaknya masalah untuk diangkat menjadi masalah penelitian. Calon peneliti dapat memanfaatkan keberadaan pembimbing, para senior, peneliti sebelumnya, ahli, teman sejawat dan sebagainya  untuk mendiskusikan layak tidaknya suatu masalah untuk menjadi masalah penelitian. Jika masalahnya memiliki bobot akademik tinggi, maka temuannya akan berkontribusi besar bagi pengembangan pengetahuan, dan sebaliknya.

Sering ada gurauan di masyarakat kampus  ketika seorang mahasiswa yang menempuh pendidikan S3 ditanya oleh kolega atau dosennya apakah kuliahnya telah rampung, dia menjawab sudah selesai kecuali menulis disertasi. Bagi yang mengenal dunia akademik, khususnya di pendidikan tinggi, jawaban tersebut terasa menggelikan. Sebab, justru menulis disertasi itu tugas terberat bagi mahasiswa S3. Umumnya orang gagal menyelesaikan pendidikan S3 karena ketidakmampuan menyelesaikan disertasi. Bisa jadi itu karena masalah yang diangkat tidak jelas sehingga menimbulkan kebingungan untuk menyelesaikannya, kurang fokus, atau masalah yang diteliti terlalu sulit, di luar kemampuan peneliti.

Penelitian selalu berangkat dari masalah. Karena itu, penentuan masalah merupakan tahap paling awal sebelum melanjutkan ke tahap-tahap berikutnya seperti metode (kuantitatif, kualitatif, atu kritis), jenis penelitian (murni, terapan atau pengembangan), bentuk dan strategi pengumpulan data serta analisisnya. Demikian sentral posisinya dalam penelitian, maka pemilihan dan penentuan masalah harus dilakukan secara cermat, komprehensif dan pertimbangan yang matang. Menurut Dawson (2009: 5) penentuan masalah penelitian merupakan tahapan paling sulit dalam penelitian, dan banyak penelitian gagal karena hal tersebut. Sajian pendek ini bermaksud memandu mahasiswa atau calon peneliti untuk dapat memilih masalah penelitian yang berkualitas, sekaligus untuk menjawab pertanyaan  mahasiswa yang sedang mencari masalah penelitian.

 

B. Bagaimana Mencari Masalah Penelitian?

Dari mana dan di mana seorang peneliti dapat menemukan masalah penelitian? Seorang peneliti dapat memeroleh masalah penelitian atas permintaan orang atau pihak lain yang mendanai atau yang mensponsori penelitian. Misalnya, pemerintah bisa saja meminta bantuan peneliti lingkungan untuk membantu menyelesaikan masalah pencemaran yang meresahkan masyarakat. Atau, seorang antropolog diminta membantu pemerintah melakukan penelitian tentang pergeseran budaya masyarakat akibat modernisasi secara besar-besaran. Dua masalah penelitian tentang lingkungan hidup dan pergeseran budaya tersebut adalah contoh penelitian pesanan atau permintaan pihak lain, sehingga peneliti tidak perlu mencari sumber masalah.

Jika penelitian dilakukan untuk kepentingan pribadi peneliti atau calon peneliti, maka masalah penelitian harus dicari sendiri. Mencari inspirasi atau sumber masalah penelitian dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut:

1. Mengamati fenomena atau peristiwa yang terjadi di masyarakat

Menurut Bungin (2007: 57) masalah penelitian sebenarnya dapat ditemukan di sekeliling kita. Ia bertebaran di mana-mana.  Untuk itu, peneliti atau calon peneliti harus pandai-pandai  membaca lingkungan di mana dia tinggal, bekerja atau bergaul dengan orang lain secara kritis. Amati gejala atau peristiwa unik, aneh, dan ajeg yang terjadi. Diskusikan hal itu dengan pembimbing, para ahli, teman sejawat, atau peneliti sebelumnya. Sebagai contoh, mahasiswa pada program magister sosiologi setiap pagi jam 07. 00 melihat rombongan warga masyarakat pinggiran kota  berduyun-duyun meninggalkan desanya menuju desa lain dan pulang pada pukul 17.30. Mereka berpakaian rapi, bersepatu, membawa tas, dan alat-alat pertukangan. Peristiwa itu dilaporkan ke pembimbingnya dan mahasiswa tersebut diminta melakukan pengamatan lebih dalam dengan mencari keganjilan atau keanehan-keanehan apa yang terjadi. Setelah melalui pengamatan yang mendalam, mahasiswa menemukan hal-hal menarik. Misalnya, warga desa itu tinggal di daerah yang memiliki jumlah industri rumah tangga yang sangat banyak yang mestinya dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Tetapi anehnya, sangat sedikit warga yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar rumahnya. Sebaliknya, orang dari luar desa justru  yang menjadi pekerja di perusahaan-perusahaan di desa itu. Warga desa yang meninggalkan desa pukul 7.00 dan pulang pukul 17. 30 secara rutin atau ulang alik disebut penglaju (commuters).

Atas saran pembimbing, mahasiswa tersebut diminta meneliti secara mendalam mengenai alasan mereka bekerja di luar wilayahnya dan makna bekerja bagi mereka. Hal yang mencengangkan ialah ternyata bagi mereka makna bekerja itu tidak semata upah atau gaji melainkan kebanggaan (pride). Dengan bekerja di luar desa, berpakaian rapai, bersepatu, pergi dan pulang pada jam tertentu merupakan kebanggaan. Mereka dianggap sebagai ‘pegawai’. Mereka tidak mau disebut ‘tukang’ apalagi’ kuli’, melainkan karyawan perusahaan konstruksi. Padahal andai bekerja di perusahaan-perusahaan di kampungnya sendiri tidak memerlukan beaya perjalanan dan makan  di warung dengan penghasilan yang sama atau malah lebih besar. Bagi mereka, bekerja di kampungnya sendiri tidak perlu seragam, sepatu, tas kerja dan itu  dianggap kurang bergengsi. Ternyata makna bekerja bagi warga daerah pinggiran kota itu bukan semata mencari upah. Malah dapat dikatakan upah atau gaji nomor dua setelah pengakuan masyarakat bahwa mereka adalah pegawai perusahaan konstruksi (bukan tukang atau kuli bangunan).

Dari peristiwa sederhana dan dengan pengamatan yang cermat, mahasiswa itu dapat mengangkat  peristiwa itu menjadi masalah penelitian dengan hasil yang cukup menarik  bagi para peminat sosiologi. Temuan penelitian itu tidak saja bermanfaat bagi sosiologi, khususnya tentang perilaku masyarakat pinggiran kota dalam bekerja dan makna bekerja bagi mereka, tetapi juga pemerintah, khususnya Dinas Tenaga Kerja agar menjadi bahan mengambil kebijakan.

Contoh lain, misalnya, mahasiswa di jurusan pendidikan dapat juga meneliti kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan yang menjadi perbincangan masyarakat. Misalnya, pelaksanaan Kurikulum 2013 sebagai kebijakan baru dalam bidang pendidikan. Terjadi pro dan kontra terhadap Kurikulum 2013, sehingga menarik perhatian mahasiswa jurusan pendidikan untuk meneliti lebih jauh. Mahasiswa bisa melakukan penelitian dengan fokus pada landasan filosofis Kurikulum 2013, tantangan dan kendala pelaksanaannya, kelebihan dan kekurangannya dibanding kurikulum-kurikulum sebelumnya, dan sebagainya.

 

2. Membaca literatur, jurnal, majalah, dan hasil penelitian terdahulu

Ketika seorang mahasiswa sudah menyelesaikan perkuliahan teori dan akan memulai penelitian untuk tugas akhir, maka aktivitas selanjutnya ialah mengembangkan wawasan yang luas mengenai topik penelitian yang dipilih. Misalnya, seorang mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab yang akan meneliti tentang proses belajar mengajar bahasa Arab harus memiliki wawasan yang luas secara teoretik dan empirik mengenai pembelajaran bahasa Arab. Secara teoretik berarti mahasiswa harus memiliki wawasan mengenai teori-teori pembelajaran bahasa Arab pada khususnya dan bahasa asing pada umumnya. Sedangkan secara empirik, mahasiswa  wajib mengetahui siapa saja yang pernah meneliti topik mengenai pembelajaran dan apa hasilnya. Untuk itu, mahasiswa harus membaca berbagai sumber literatur, seperti buku, jurnal, majalah ilmiah dan penelitian-penelitian terdahulu.

Melalui pembacaan itu mahasiswa akan belajar dari yang telah dilakukan orang lain, mulai dari apa tema, rumusan masalah,  metode, dan hasil penelitian. Semua akan menjadi inspirasi bagi calon peneliti yang sangat berarti. Semakin luas pembacaan literatur sehingga semakin luas wawasannya akan memudahkan peneliti memilih topik yang berkualitas, mengetahui apa yang sudah dan belum pernah diteliti orang lain dan mengetahui hasil penelitiannya. Selain itu, peneliti akan terhindar dari repetisi atau pengulangan, duplikasi, dan plagiasi. Di sini calon peneliti sudah memeroleh ‘state of the arts’ dalam penelitian, yakni peta tentang siapa saja yang pernah melakukan penelitian terdahulu dalam bidang sejenis, di mana, dengan masalah, metode, dan hasilnya apa. Mau mempelajari dan belajar dari orang lain harus menjadi prinsip seorang peneliti.

 

3. Melanjutkan penelitian sebelumnya

Selain hasil atau temuan, setiap penelitian  diakhiri dengan rekomendasi. Seorang peneliti dapat melakukan penelitian dengan melanjutkan rekomendasi dari penelitian orang lain dan penelitiannya  sendiri. Mahasiswa magister (S2), misalnya, dapat melanjutkan masalah penelitian dari skripsi yang dibuat di program S1 untuk membuat tesis. Daripada sulit-sulit mencari masalah penelitian baru yang belum tentu layak, melanjutkan penelitian sebelumnya sangat efektif. Bedanya, jika skripsi bersifat deskriptif, tesis lebih dalam dan bersifat eksploratif dengan menggunakan teori. Begitu juga mahasiswa S3 dapat melanjutkan masalah tesis untuk menyusun disertasi. Karena itu, topik yang sama bisa dibuat untuk kepentingan skripsi, tesis dan disertasi dengan tujuan, bobot kedalaman diskusi dan penggunaan teori yang berbeda-beda. Secara sederhana dapat diuraikan  untuk  skripsi  peneliti diharapkan menguasai materi/objek penelitian dengan baik secara deskriptif, untuk tesis peneliti diharapkan  menguasai teori dan metodologi ilmu pengetahuan masing-masing serta mahir dalam mengadakan penelitian analitis dalam mono-disiplin, sedangkan untuk disertasi peneliti  mampu mengembangkan ilmu pengetahuan masing-masing dan mahir dalam mengadakan penelitian empiris dan evaluatif (mono, dan multi atau interdisipliner).

 

4. Berinteraksi dengan orang lain

Seorang mahasiswa psikologi dapat memeroleh inspirasi mengenai masalah penelitian dengan memperhatikan perilaku orang lain ketika berinteraksi dalam tim kerja. Pengamatan dapat dilakukan kepada orang yang memiliki perilaku unik, aneh, menyimpang, atau yang berbeda dengan perilaku-perilaku  orang lain pada umumnya. Jika pengamatan secara fisik telah diperoleh, maka calon peneliti melanjutkannya dengan membaca literatur atau teori-teori dalam psikologi mengenai perilaku menyimpang.

Seorang guru juga dapat mengamati perilaku para siswanya. Jika menemukan siswa yang selalu membuat gaduh di sekolah, guru dapat memulai melakukan pengamatan secara mendalam dan kontinyu terhadap perilaku siswa tersebut. Bisa saja setelah diteliti ditemukan bahwa siswa tersebut merupakan korban broken family yang tidak memeroleh perhatian dari keluarga, atau tinggal di daerah yang tidak kondusif secara sosial yang sangat berpengaruh terhadap perilaku kesehariannya.

 

5. Diskusi, seminar, konferensi

Forum-forum akademik seperti seminar, lokakarya, workshop dan lain-lain dapat menjadi medan pencarian sumber masalah penelitian yang sangat efektif. Lebih-lebih jika acara semacam itu dihadiri oleh narasumber yang kompeten di bidangnya dapat dimanfaatkan oleh calon peneliti untuk mencari inspirasi masalah penelitian. Karena itu, aktif mengikuti kegiatan akademik seperti disebutkan itu sangat baik bagi para mahasiswa yang  bersiap-siap melakukan penelitian untuk menyusun tugas akhir.

Sejak pandemi Covid-2019 mulai mewabah di Indonesia Maret 2020 sehingga para mahasiswa tidak bisa kuliah tatap muka dan diganti dengan on line, banyak sekali kegiatan webinar yang diselenggarakan oleh berbagai kalangan dengan bermacam-macam topik. Tidak harus mengikuti semua kegiatan webinar, tetapi memilih topik yang  sesuai bidang studinya.

C. Judul, topik, dan tema penelitian

Selain mencari masalah penelitian, persoalan lain yang sering dihadapi mahasiswa atau calon peneliti ialah merumuskan judul penelitian. Tentang judul penelitian sangat terkait dengan metode penelitian yang dipilih. Sebagaimana diketahui ada dua jenis metode penelitian, yakni metode kuantitatif dan kualitatif. Karena masing-masing berangkat dari  akar filosofis yang berbeda, maka rumusan judul penelitian kuantitatif dan kualitatif juga berbeda secara substantif. Karena terkait dengan variabel yang akan diukur, judul penelitian kuantitatif harus sudah fiks lebih dahulu sebelum pekerjaan penelitian dimulai. Misalnya, pada judul penelitian “Pengaruh Pandemi Covid-19 terhadap Perekonomian Masyarakat Kota” terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas “Pandemi Covid-19” yang memengaruhi dan variabel terikat “Perekonomian Masyarakat Kota” sebagai variabel yang dipengaruhi. Judul tersebut tidak akan berubah sampai penelitian selesai. Sebab, perubahan judul akan mengubah variabel. Karena itu, bagi peneliti kuantitatif judul harus benar-benar dimatangkan lebih dahulu sebelum proses penelitian dilakukan.

Sebaliknya, dalam penelitian kualitatif judul bersifat tentatif. Bagi peneliti kualitatif, yang sangat penting untuk dirumuskan terlebih dahulu ialah topik, bukan judul. Sebagaimana diketahui penelitian kualitatif berangkat dari filsafat fenomenologi di mana peneliti mencari gejala atau fenomena untuk selanjutnya membongkar realitas di balik fenomena. Misalnya, judul penelitian “Model Komunikasi Masyarakat Nelayan di Malang Selatan dalam Menyelesaikan Konflik” bersifat sementara. Bisa judul tersebut berubah setelah peneliti terjun ke lapangan mengumpulkan data.  Mengapa berubah? Karena peneliti menemukan hal lain yang lebih menarik daripada ‘model komunikasi’, tetapi ‘jenis komunikasi’.

Diperlukan kompetensi tersendiri bagi peneliti kualitatif untuk dapat menggali makna lebih dalam dari setiap gejala atau peristiwa. Sebagaimana dinyatakan oleh Descartes (Rahardjo, 2020: 11), rasio atau akal merupakan sumber utama pengetahuan. Begitu agungnya peran akal dalam kehidupan, sampai akal itu sendiri dapat menentukan benar tidaknya pengetahuan. Penelitian kualitatif membutuhkan analisis yang mendalam, holistik, idealis, dan kritis terhadap objek yang diteliti. Di sini kemampuan akal peneliti akan sangat menentukan kualitas hasil penelitian.

Hal lain terkait judul ialah masalah, topik, dan tema. Ketiganya sering campur aduk dalam penggunaannya atau dianggap sama. Padahal, masing-masing memiliki makna tersendiri. Perbedaannya tidak substansial, melainkan luasan cakupannya saja, Bungin (2007: 49-50) menetapkan judul ialah kepala tulisan, sering kali diberi anak judul di bawahnya yang biasanya menggambarkan perspektif penelitian. Masalah penelitian merupakan hal yang dirasakan peneliti atau masyarakat yang memerlukan pemecahan dan lebih luas cakupannya daripada topik. Topik lebih luas daripada tema, dan tema merupakan pesan tulisan dan lebih luas daripada judul.

Dengan demikian, pada judul penelitian “Model Komunikasi Masyarakat Nelayan di Malang Selatan dalam Menyelesaikan Konflik” dapat diuraikan sebagai berikut:

1. masalah : komunikasi dan konflik

2. topik      : komunikasi antar-nelayan

3. tema       : menyelesaikan konflik melalui komunikasi.

Atau contoh lain, bisa diambil dari penelitian bidang pembelajaran agama di sekolah umum dengan judul “Pembelajaran agama Islam pada Sekolah Menengah Atas dalam Rangka Peningkatan Kualitas Moral Siswa”, dapat diurai sebagai berikut:

  1. masalah  : pendidikan agama Islam dan moralitas siswa
  2. topik       : pendidikan agama Islam di sekolah Menengah Atas
  3. tema        : peningkatan moralitas melalui pendidikan agama Islam

D. Penutup

Penelitian merupakan aktivitas penuh tantangan dan petualangan dengan tujuan untuk menjawab permasalahan. Masalah yang diajukan untuk diteliti bukan sembarang masalah, tetapi yang merupakan masalah atau persoalan orang banyak atau sebagian masyarakat. Ketika seseorang telah berniat melakukan penelitian, baik untuk kepentingan sendiri maupun permintaan pihak lain, maka dituntut keseriusan dan totalitas dalam melakukan kegiatan penelitian. Penelitian tidak dapat dilakukan dengan asal-asalan dan sembarangan.

Beberapa orang berpendapat bahwa penelitian itu kegiatan sangat mulia. Sebab, dari penelitian akan ditemukan hal-hal yang belum pernah diketahui orang pada umumnya, yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Tetapi perlu diingat bahwa penelitian juga bisa menyesatkan jika hasilnya salah. Ini bisa terjadi jika metode salah, data tidak valid, analisis kurang mendalam, dan sebagainya.

Masalah penelitian dapat ditemukan di mana-mana; di tempat kerja, di jalan, di lingkungan tempat tinggal, di peristiwa yang terjadi di masyarakat, dan lain-lain. Tinggal kepekaan peneliti yang diperlukan untuk memilih peristiwa yang selanjutnya diangkat menjadi masalah penelitian sesuai bidang studi yang ditekuni.

________

Malang, 29 September 2020

 

Daftar Pustaka

 

Bungin, H.M. Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan

Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

 

Dawson, Catherine. 2009. Introduction to Research Methods. A practical guide for

anyone undertaking a research project. Spring Hill Road; How To Books

Ltd.

 

Rahardjo, Mudjia. 2020. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial, dan

Humaniora. (Dari Teori ke Praktik). Yogyakarta: Republik Media.

Visits: 2209
Today: 7

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *