Reorientasi Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora: Relevansi dan Tantangannya

Oleh Mudjia Rahardjo

“Ilmu sosial dan humaniora mengajak kita untuk berpikir reflektif

dalam menghadapi persoalan kemanusiaan”    

  • Pengantar

Secara epistemologik, istilah ‘keadaban’ berasal dari kata ‘adab’ (bahasa Arab), yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 6) artinya ialah “kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan, akhlak”. Sedangkan ‘keadaban’ diartikan “sebagai ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin”. Berdasarkan makna kata dasarnya, secara umum dapat diartikan ilmu keadaban sebagai cabang ilmu yang mengkaji tentang ajaran moral dan akhlak serta kreasi imajinatif manusia sebagai buah akal atau pikiran. Manusia beradab sering didefinisikan sebagai manusia yang tidak saja memiliki ilmu pengetahuan, tetapi juga moralitas. Merujuk al-Qur’an, manusia demikian disebut ‘ulul albab’, yang sering diartikan sebagai orang yang mampu memadukan antara kemampuan dzikir dan pikir dalam aktivitas kehidupannya. Dalam al-Qur’an, kata ‘ulul albab’ diulang hingga 16 kali. Pengulangan sebanyak itu menyiratkan makna yang demikian penting. Pembacaan terhadap tafsir ulul albab diperoleh deskripsi lebih luas dari sekadar perpaduan antara dzikir dan pikir, yakni tersirat kemampuan memahami (understanding) sesuatu dengan jernih dan sikap bijak (wise). Sesuatu yang dimaksudkan itu ialah berbagai fenomena, baik alam, sosial, maupun kemanusiaan. Begitu idealnya sosok manusia yang diharapkan oleh al-Qur’an (baca: Islam), yang mestinya menjadi landasan filosofis pendidikan Islam, apa pun disiplin ilmu yang dikembangkan. Manusia bermartabat dalam arti luas adalah tujuan akhir pendidikan. Dia adalah manusia yang sanggup menjaga nilai-nilai dan ide-ide kemanusiaan demi terwujudnya harmonisasi kehidupan.      

Dalam sajian ini, saya menyepadankan istilah ‘keadaban’ dengan ‘sastra’ dalam bahasa Indonesia (walau tidak persis sama), sehingga ‘ilmu keadaban’ dapat disepadankan dengan ‘ilmu sastra’. Selanjutnya istilah ‘adab’ dan ‘sastra’ digunakan silih berganti. Sastra sendiri apa? Banyak definisi yang dikemukakan para ahli, sehingga mendefinisikan sastra secara tepat sangat problematis karena menyangkut banyak aspek. Para peminat sastra dan studi sastra sering mengalami kebingungan, karena memilih menggunakan definisi tertentu berarti meninggalkan yang lain. Ada sebagian ahli menyebut sastra sebagai karya yang tertulis. Dasarnya ialah sastra merupakan terjemahan dari kata literature (bahasa Inggris) yang berasal dari kata littera (bahasa Latin) yang berarti tulisan. Dengan demikian, apa saja yang berbentuk tulisan adalah sastra. Definisi demikian, menurut Musthafa (2008: 22) menafikan tradisi lisan, yang dalam konteks Indonesia berbagai jenis cerita atau dongeng rakyat, termasuk mantera-mantera dapat dijumpai hampir di semua etnis di Indonesia sejak dahulu kala. Masyarakat Indonesia memiliki tradisi lisan yang lebih tua, kuat, dan mengakar dibandingkan dengan tradisi lisan. Untuk mengatasi hal tersebut, para ahli yang lain mendefinisikan ‘sastra’ sebagai ‘seni’, dan karya sastra adalah karya seni. Agar definisi tidak melebar, maka yang termasuk karya sastra ialah puisi, drama, prosa, pantun, novel, fabel, cerpen, roman, dan karya tulis imajinatif lainnya. 

Sebagaimana ilmu-ilmu sosial dan humaniora pada umumnya, objek utama ilmu keadaban/sastra adalah manusia dan karyanya. Manusia adalah makhluk paling istimewa di mata Tuhan, karena memiliki tiga keistimewaan yang membedakannya dengan makhluk yang lain, yaitu penguasaan bahasa, kemampuan berpikir, dan kesempurnaan bentuk ragawi. Secara teoretik, terdapat sinergi sangat kuat di antara ketiganya. Tanpa bahasa, sehebat apa pun pikiran tidak akan dapat disampaikan kepada dan dipahami orang lain. Demikian pula tanpa pikiran, bahasa tidak akan berkembang. Sinergi antara bahasa dan pikiran ini yang mengantarkan manusia untuk tidak saja menyempurnakan penampilan ragawi, tetapi juga mengatasi berbagai keterbatasan ragawi mereka, sehingga memberi jalan bagi lahirnya fenomena khas manusia berupa kebudayaan.        

Jika kita sering mendengar pepatah ‘bahasa menunjukkan bangsa’, perkembangan terbaru dalam studi budaya mengatakan lebih dari itu. Bahasa menunjukkan segalanya; segala sesuatu dari pemakainya. Bahasa adalah cara kita untuk melihat, mempersepsi, merespons, bahkan mengkritisi sesuatu. Tak dapat disangkal bahasa merupakan fenomena yang menempati kedudukan sentral dalam kehidupan manusia. Sebab, bahasa memperlihatkan berbagai aspek, mulai biologis, psikologis, sosial hingga kultural.  Hampir tidak ada aspek kehidupan yang terbebas dan terlepas dari bahasa, termasuk sejarah. Kebenaran sejarah tidak bisa lepas dari bagaimana narasi digunakan oleh para sejarahwan dalam menulis peristiwa-peristiwa sejarah (Arimbi, 2008: 5).

Tidak itu saja, perpaduan kemampuan berbahasa dan berpikir juga melahirkan karya-karya seni dan sastra seperti puisi, drama, prosa, novel, dan pengetahuan tentang budaya dan sejarah. Adalah bahasa yang mengantarkan ke pemahaman atas dunia dan membuat hidup menjadi bermartabat. Bahasa juga digunakan manusia menggapai keindahan dan keserasian hubungan dengan apa pun di sekelilingnya, termasuk hubungannya dengan Tuhan. Sebagai contoh, karya sastra seperti puisi, yang sering dianggap hanya permainan bunyi, merupakan bukti kebutuhan manusia akan bahasa.      

Dalam karya sastra terdapat nilai-nilai hidup dan kehidupan positif yang dapat dijadikan materi untuk membentuk karakter positif. Sastra, menurut Nuryatin (2013: 61), adalah anak kebudayaan. Sastra bukanlah kumpulan tulisan tanpa makna. Karya sastra adalah produk kreatif pengarang yang ditempuh lewat perjalanan panjang, melalui pengalaman, pemikiran, dan perasaan yang tidak mungkin tercerabut dari laku keseharian sebelum menciptakan karya. Ada hubungan erat antara alam realitas dan imajinasi. Membaca sastra hakikatnya adalah membaca kehidupan. Tetapi sastra bukan berita, bukan pula sekadar kabar dari sebuah peristiwa. Menurut Damono (2003) sastra dianggap sebagai tanggapan evaluatif terhadap segala sesuatu yang berlangsung di sekitarnya. Di dalam sastra terkadung nilai-nilai kehidupan yang menyangkut berbagai masalah, seperti politik, hukum, ekonomi, budaya dan sebagainya.

Sastra bukan hanya berguna untuk mengasah kemahiran bahasa, tetapi juga memiliki beragam fungsi, yang semuanya berujung pada pembentukan manusia. Lebih tegas lagi, sastra merupakan ajang praktik bahasa dan, meminjam istilah Saussure,  wilayah parole yang nyata. Membaca sastra itu artinya menangkap pesan-pesan kemanusiaan. Sikap jujur, adil, rasa empati, toleran, dan saling pengertian dalam menjaga keharmonisan hidup adalah nilai-nilai yang dikandung dalam sastra dan ilmu-ilmu humaniora pada umumnya.                  

Jika batasan tersebut disepakati, maka betapa agungnya nilai etik yang dikandung sastra, dan  ilmu-ilmu humaniora pada umumnya. Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, tentu ilmu keadaban menyumbang kemajuan peradaban. Tetapi sumbangannya tidak berbentuk material sebagaimana ilmu-ilmu alam atau eksakta, melainkan keluhuran akhlak dan budi masyarakat yang berbudaya. Melalui pengetahuan keadaban, diharapkan manusia dapat mengembangkan pada dirinya potensi kemanusiaannya yang berbudi dan bijaksana secara sempurna. Tetapi karena kontribusi etiknya tidak kasat mata alias abstrak, banyak orang mempertanyakan keberadaan dan relevansinya dalam kehidupan.

Dalam naskah ini, pembahasan tidak hanya mengenai ilmu-ilmu keadaban/sastra, tetapi juga bahasa dalam payung ilmu-ilmu humaniora. Sebab, sejatinya sangat sulit memisahkan secara rigid antara bahasa dan sastra. Keduanya secara bersama-sama penyumbang nyata peradaban manusia (Rahardjo, 2006). Antara bahasa dan sastra terjadi hubungan saling ketergantungan. Tidak ada sastra tanpa bahasa. Pun sebaliknya, karena sastra bahasa dapat berkembang.       

  • Problematika Ilmu Sosial dan Humaniora

Sebelum pembahasan lebih lanjut, perlu diajukan pertanyaan di mana posisi ilmu-ilmu keadaban dalam deretan ilmu-ilmu pengetahuan modern. Apakah ilmu-ilmu keadaban tergolong dalam kelompok ilmu sosial, ilmu humaniora, atau kelompok tersendiri. Atas dasar asumsi ontologis dan epistemologis, ilmu-ilmu keadaban, menurut saya, berada dalam kelompok ilmu-ilmu humaniora. Asumsi tersebut diperkuat dengan model ancangan ilmu-ilmu keadaban yang bersifat ideografis, yang menurut Masinambow (2000:13) tidak dimaksudkan untuk menemukan hukum atau dalil yang tidak dapat diubah oleh manusia, melainkan yang hendak diketahui ialah faktor-faktor apa yang ada dalam diri manusia, baik sebagai makhluk individual maupun sebagai makhluk sosial, yang mendorongnya berperilaku menurut pola-pola tertentu. Dengan kata lain, ancangan ideografis berfokus pada yang individual, yang unik pada manusia. Sebaliknya, ancangan ilmu-ilmu alam bersifat nomotetik di mana yang hendak dicari ialah hukum alam sebagai penyebab terjadinya suatu fenomena alam. Sekali hukum alam itu ditemukan, ia dianggap berlaku secara universal. Melalui hukum-hukum itu, fenomena alam akan dapat terjelaskan (erklaren).                      

Keberadaan ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu humaniora  sudah lama digugat oleh para ahli, terutama terkait aspek-aspek metodologis dan kontribusinya bagi kehidupan. Tidak tanggung-tanggung seorang pakar linguistik Amerika Noam Chomsky secara terang-terangan pernah menyatakan bahwa sampai saat ini ilmu-ilmu sosial dan humaniora belum mampu memberikan solusi terhadap masalah-masalah penting kemanusiaan. Alih-alih menghasilkan produk, ilmu sosial dan humaniora dinilai hanya hanya menghasilkan sebuah pemikiran yang justru mengundang perdebatan, bukan solusi terhadap persoalan hidup (Yudhistira, 2018).

 Tuduhan Chomsky menjadi menarik, karena justru diucapkan oleh seorang ahli bahasa kenamaan yang resonansinya begitu luas. Khusus untuk sastra, menurut Cahyono (2011: 59) malah ada sebagian teoritikus menolak mentah-mentah studi atau kajian sastra adalah ilmu. Alasannya, sastra tidak bisa ditelaah sama sekali. Sastra hanya bisa dibaca, dinikmati, dan diapresiasi.

Terlepas dari gugatan dari para ahli, menurut hemat saya, ilmu-ilmu sosial dan humaniora memang menghadapi persoalan. Secara metodologis, ilmu-ilmu sosial dan humaniora sangat sulit melepaskan diri dari madzhab positivisme yang umumnya diikuti ilmu-ilmu alam. Filsafat positivisme yang menjadi landasan pengembangan ilmu-ilmu alam muncul pada awal abad ke-19 dan abad ke-20. Menurut Masinambow (2000: 13-14) ilmu-ilmu sosial, terutama sosiologi dan antropologi, juga mengalami perkembangan pesat para periode itu dan selanjutnya berkembang menjadi cabang-cabang subdisiplin dan interdisiplin baru. Perkembangan baru itu mendudukkan ilmu-ilmu humaniora pada tempat yang lebih khas dibanding dengan ilmu pengetahuan budaya.     

 Menurut Muadz (2012: 25) pencapaian nyata ilmu-ilmu alam yang sangat fantastis dan luar biasa dalam menghasilkan teknologi bagi kemudahan umat manusia menyebabkan para ilmuwan sosial dan humaniora menganggap para ilmuwan alam sebagai “saudara tua” dengan segala superioritas yang dimilikinya. Keadaan demikian membuat para ilmuwan sosial merasa ‘inferior’ di hadapan para ilmuwan alam atau eksakta. Hal demikian diperparah oleh kebijakan pemerintah yang dianggap menganaktirikan ilmu sosial dan humaniora. Narasi yang sering dibangun pejabat publik yang mengatakan program-progarm studi ilmu sosial dan humaniora harus dikurangi jika negara ingin maju semakin meminggirkan eksistensi dan peran ilmu sosial. Bahkan ada yang sangat gegabah mengatakan jumlah program studi ilmu-ilmu sosial dan humaniora di Indonesia jauh di atas program studi sains dan teknologi, dan itu dianggap sebagai penyebab ketidakmajuan.           

Khusus untuk bidang sastra keadaannya lebih memprihatinkan. Sebagaimana dinyatakan Musthafa (2003: 147) penelitian sastra di Indonesia bergerak sangat lamban. Hal ini terjadi karena beberapa hal, seperti ketidakjelasan wilayah garapannya atau body of knowledge-nya sastra, pertanyaan penelitian yang pantas diajukan, serta metodologi dan prosedur kerja penelitian yang dapat diterima khalayak akademik secara lebih luas.      

Selain itu, pada saat yang sama ilmu-ilmu sosial dan humaniora belum mampu menunjukkan identitas diri dan berada dalam kebimbangan antara menjadi pengikut mazhab ilmu-ilmu alam atau mengambil jalan sendiri sesuai watak, objek, dan tujuannya sendiri. Pada saat ilmu-ilmu alam dengan percaya diri mengklaim telah mampu memberikan kontribusi nyata bagi umat manusia, ilmu-ilmu sosial dan humaniora justru sibuk menjawab tuduhan sebagai ilmu yang lambat dan belum dapat membuat lompatan-lompatan berarti secara ilmiah. Bahkan tingkat keilmiahannya pun dipertanyatakan sebagian orang, karena unsur subjektivitasnya yang terlalu tinggi.  

Dari sisi etik, persoalan lain yang dihadapi oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora ialah belum ditemukan kata sepakat di antara para ilmuwan mengenai bagaimana cara membangun sistem sosial yang sehat, normal, dan ideal. Menyikapi hal itu, Unesco dalam sidangnya di Paris beberapa dekade lalu, sebagaimana dikutip Muadz (2014: 28) mempertanyakan apakah ilmu yang berkaitan dengan kemungkinan manusia bisa hidup rukun dan damai bersama adalah berada dalam ranah pengetahuan manusia atau ia justru berada di luar kapasitas manusia untuk mengetahuinya. Dengan perkataan lain, secara tersirat Unesco menawarkan ilmu-ilmu di luar ilmu kemanusiaan justru yang lebih mampu menata kehidupan yang rukun dan damai.               

Kegamangan para ilmuwan sosial dan humaniora sebenarnya dapat dilihat pada ancangan penelitian yang mereka buat. Ada sebagian ilmuwan sosial yang berusaha menggunakan paradigma positivistik untuk meneliti gejala sosial dan kemanusiaan. Pilihan demikian dianggap melakukan kuantifikasi gejala sosial yang tentu tidak tepat. Karena itu, terdapat dua kelompok ilmuwan sosial menyikapi ancangan yang akan digunakan. Pertama, kelompok yang ingin mengembangkan ilmu sosial dan humaniora sebagaimana mengembangkan ilmu alam dengan alasan bahwa dalam gejala sosial dan kemanusiaan terdapat dalil, pola, atau keteraturan sebagaimana gejala alam. Kedua, mengembangkan ancangan sendiri untuk ilmu-ilmu sosial dan humaniora sesuai dengan objek dan tujuannya. Menariknya, tidak saja mazhab penelitian yang mana yang harus dipilih, tetapi juga para ilmuwan sosial masih sibuk mencari batasan mengenai bagaimana rumusan penelitian sosial dan humaniora yang berkualitas.   

Karena karakteristik manusia yang unik sebagai objek utama kajian ilmu sosial dan humaniora, diperlukan model ancangan tersendiri yang tidak sama dengan ancangan ilmu-ilmu kealaman. Di sini para ahli ditantang menyusun kerangka ancangan yang dapat diterima oleh khalayak akademik secara luas yang dapat menjawab secara tegas pertanyaan-pertanyaan tentang keilmiahan ilmu-ilmu humaniora. Berbagai gugatan, sindiran, dan penolakan terhadap keilmiahan ilmu-ilmu sosial dan humaniora harus menjadikan cambuk para ilmuwan untuk mengkonstruksi bangunan metodologi yang tepat. Sebab, adalah metodologi yang dapat menjawab pertanyaan tentang keilmiahan suatu ilmu.

Keterlambatan ilmu-ilmu sosial dan humaniora, termasuk sastra, sejarah, agama dan filsafat, semakin nyata ketika pandemi Corona-19 mulai muncul. Terbukti sains adalah yang paling awal dan paling gigih menyampaikan bahayanya virus Corona-19. Sebelum korban berjatuhan, sains sudah menjelaskan wujud, dan tabiat virus ini sekaligus cara menghadapinya. Sains tidak hanya membaca dan menyumbang pemahaman baru tentang SARS-Cov-2, melainkan juga memanfaatkannya untuk mengoreksi dan mengembangkan diri agar bisa membaca pandemik dengan jitu. 

Hingga saat ini Corona-19 belum akhir, kita dapat menanyakan di mana peran ilmu-ilmu sosial dan humaniora, termasuk bahasa dan sastra. Menurut Nirwan Ahmad Arsuka (Kompas, 5/6/2020) di tengah wabah Corona-19 sastra, filsafat dan sejarah ternyata hanya sanggup melakukan distant reading (pembacaan jauh), yakni mengkaji dan meminjam hasil bacaan sains, atau menjadi pengamat dan pencatat dari satu jarak. Alih-alih menyumbang pemikiran untuk menghadapi pandemi ini, bahasa, menurut Coleman (Kompas, 26 /8/2020) justru menciptakan berbagai istilah yang membingungkan masyrakat. Misalnya, social distancing, physical distancing, droplet, positivity rate, testing and tracing, kasus suspek, kasus probable, kasus konfirmasi, SIKM, CLM, RT-PCR, WFH, SFH, PSBB proporsional, PSBB transisi, new normal, dan lain-lain. Jika demikian, apa yang dipersoalkan Chomsky tentang peran ilmu sosial dan humaniora dalam mengatasi persoalan masyarakat menjadi benar.                  

  • Merumuskan Strategi Ilmu Sosial dan Humaniora Baru

Selain karena pengaruh filsafat positivisme demikian kuat di hampir semua disiplin ilmu, menurut hemat saya, terjadi kerancuan para ilmuwan atau peminat studi ilmu-ilmu sosial dan humaniora dalam menggarap objek kajiannya. llmu ilmu sosial dan humaniora mengkaji fenomena sosial dan kemanusiaan. Fenomena sosial dan kemanusiaan tidak bisa berlaku universal. Begitu juga teori-teori sosial tidak bisa berlaku secara universal, sebagaimana teori-teori ilmu alam. Teori-teori sosial mesti dibangun dari isu-isu sosial yang bersifat mikro. Para peneliti dan ilmuwan sosial sangat dipengaruhi oleh tradisi Parsonian dan Weberian dalam menjelaskan masalah sosial. Aliran-aliran pemikiran baru dalam ilmu sosial seperti post-strukturalisme, post-modernisme, zero-trust, sekarang post-truth, post-normal dan lain sangat memengaruhi cara kerja ilmuwan sosial.

Kebiasaan dan kebanggaan para ilmuwan sosial menghafal teori-teori sosial sebanyak-banyaknya tanpa paham betul kegunaannya harus diganti dengan kebiasaan membaca fenomena sosial dari dekat dengan melibatkan diri dalam penelitian partisipatif secara lebih intensif. Dalam bahasa Teuku Kemal Fasya (Kompas, 22/8/2002) ilmu sosial dan kemanusiaan masa depan harus terlibat dalam penelitian dengan memperhatikan aspek dramatik geopolitik masyarakat, yang diteliti, identifikasi cermat kebudayaannya,dan memilih teori komunikasional yang tepat saat mendeskripsikannya. Meminjam Martin Heidegger, Fasya mengatakan “The essence we today call science is research”.

Para ilmuwan sosial dan humaniora harus berani meninggalkan perspektif ilmu humaniora lama yang sejak era Descartes dibangga-banggakan bak dewa yang turun dari kahyangan. Penting disadari bahwa menggunakan teori sosial secara universal untuk membaca gejala sosial dan kemanusiaan yang bersifat lokal dan kontekstual tentu tidak tepat. Pemahaman mendalam setiap gejala sosial yang diteliti sebagai tujuan utama penelitian sosial dapat dicapai ketika peneliti sanggup berbicara dengan subjek penelitian, bukan malah menganggap subjek telah tiada ketika fenomena telah dibaca dan berada di tangan peneliti. 

Membangun ilmu sosial dan kemanusiaan baru bisa melalui pemanfaatan bahasa budaya yang kita miliki. Di tengah hiruk pikuk kemajuan ekonomi, sains dan teknologi, menurut Arimbi (2008: 6-7) kita meremehkan bahkan melupakan bahasa budaya; bahasa yang berakar, berurat, dan terbentuk lewat modal budaya kita. Menurut Bourdieu, modal budaya ialah segala sesuatu yang terbentuk oleh budaya termasuk di dalamnya proses sosialisasi yang terinternalisasi lewat keluarga, produk budaya baik seni maupun non-seni yang merupakan hasil kreativitas manusia, nilai-nilai budaya yang ada, termasuk bahasa. Jika masyarakat Barat membanggakan opera sebagai bentuk puncak modal budaya, karena di dalamnya ada nyanyian, tarian, akting, alur cerita, musik, sampai pesan-pesan luhur yang disampaikan, kita punya kampiun seni pertunjukan yang tidak kalah dengan opera, yakni seni pertujukan Wayang Orang, yang di dalamnya juga ada nyanyian, musik gamelan, tarian dan cerita, dan pesan-pesan filosofis kehidupan.

Salah satu kekuatan bangsa Indonesia ialah keanekaragamannya; berbagaik suku, bahasa, agama, bahkan ribuan pulau di dalamnya. Keanekaragaman itu adalah aset dan potensi besar untuk memiliki perspektif yang kaya dalam melihat persoalan. Menurut Arimbi (2008), jika etnik Jawa memiliki seni pertunjukan Wayang Orang, bisa dibayangkan berapa banyak modal budaya bangsa Indonesia yang menjadi khasanah pengetahuan. Sebut saja orang Bali punya teater dan tari, Betawi dengan lenongnya, Jawatimuran dengan ludruk dan ketoprak, Ponorogo dengan reyognya, dan seterusnya. Semuanya adalah produk budaya yang di dalamnya sarat makna hidup. 

Ilmu-ilmu sosial dan humaniora baru yang saya maksudkan ialah yang berangkat dari akar dan modal budaya kita. Teori-teori Barat tidak digunakan secara membabi buta tanpa pemahaman yang jelas. Ketika kita dapat merumuskan ilmu-ilmu sosial dan humaniora berdasarkan nilai-nilai lokalitas kita sendiri betapa bahagianya ketika lembaga pendidikan dapat menghasilkan manusia-manusia humanis yang memiliki sense of humanities tinggi. Ketika kita dapat mengintegrasikan berbagai modal yang ada di masyarakat, mulai ekonomi, budaya, sains dan teknologi, dan sebagainya akan tercipta suatu harmoni kehidupan. Andai menjadi pejabat publik, sosok manusia humanis adalah manusia jujur yang mengabdi benar-benar untuk kepentingan rakyat dan tidak korup. Andai menjadi pendidik, dia adalah pendidik yang dengan tulus ikhlas mengajar anak didik dengan ilmu yang tinggi.

Dengan keragaman yang dimiliki, Indonesia merupakan laboratorium ilmu sosial dan humaniora raksasa. Para ilmuwan sosial dapat memanfaatkannya dengan menggali kekayaan dan modal budaya yang ada dengan perspektif baru yang menitikberatkan pada tempat, waktu dan subjek terjadinya peristiwa. Tetapi pada saat yang sama harus mengikuti perkembangan zaman. Sebagai contoh, sastra saat ini telah menggunakan program digital untuk mendokumentasikan data. Karya sastra telah tergantikan oleh dunia digital yang lebih aman terdokumentasi, lebih cepat diakses, dan lebih praktis. Sastra digital telah hadir di tengah kita bersamaan dengan perkembangan teknologi digital. Yang kita khawatirkan adalah ketika sistem digital sudah menguasai dunia sastra, maka kegiatan membaca sebagai aktivitas utama kajian sastra akan meredup, atau bahkan lenyap. Ketika membaca sudah tidak menjadi budaya masyarakat, maka peradaban dengan sendirinya telah berhenti bersamanya. Dan, itu adalah petaka kemanusiaan!            

  • Penutup

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu-ilmu sosial dan humaniora memang menghadapi persoalan. Persoalan itu ada yang bersifat filosofis, etis, moral dan  struktural. Persoalan filosofis mencakup desain dan model ancangan yang tepat, etis mencakup persoalan kemanfaatan dan kontribusi bagi kemanusiaan yang dianggap abstrak, moral mencakup sulitnya mencari kata sepakat di antara  para ilmuwan sosial sendiri dalam banyak hal, seperti batasan ilmu sosial, peran dan posisi teori, kualitas penelitian sosial, dan lain-lain. Secara struktural, ilmu sosial dan humaniora merasa terpinggirkan oleh narasi-narasi yang dibangun para pejabat publik.   

Menilai kemanfaatan ilmu sosial dan kemanusiaan dari sisi kontribusi rielnya tentu tidak tepat. Sebab, posisi dan peran ilmu sosial dan humaniora itu untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Kita teringat ketika Revolusi Industri berkembang di Barat abad ke-18, pada saat bersamaan universitas-universitas mengembangkan ilmu-ilmu sosial dan humaniora dengan maksud untuk mengimbangi laju kapitalisme dan modernisme. Pembangunan itu berdimensi sangat luas, tidak hanya yang bersifat fisik semata, tetapi juga non-fisik. Ketika para ilmuwan sains dan teknologi berhasil membangun gedung-gedung tinggi, jembatan, jalan raya, kantor-kantor industri dan bangunan-bangunan fisik lainnya, para ilmuwan sosial dan humaniora dapat menyumbang pemikiran berupa kajian ilmiah terhadap masalah-masalah yang muncul akibat industrialisasi dan rekomendasi penyelesainnya. Karena itu, peran dan posisi ilmu sosial dan humaniora tetap sangat penting dan sentral dalam konteks pembangunan di Indonesia.

Wal hasil, walau ilmu-ilmu sosial dan humaniora sedang dipertanyakan banyak pihak mengenai kontribusi konkretnya bagi persoalan kemanusiaan dan secara internal menghadapi persoalan, saya berpendapat bahwa baik sains, teknologi, maupun sosial-humaniora memiliki peran dan kontribusi yang sama dalam pembangunan, walau dalam bentuk berbeda. Karena itu, para akademisi, peneliti dan peminat ilmu sosial dan humaniora berkewajiban menjaga, merawat dan mengembangkan ilmu ini seiring dengan perkembangan dan kemajuan sains dan teknologi dan masyarakat itu sendiri. Ilmu-ilmu seperti filsafat, sejarah, bahasa, sastra, seni, hingga agama memang tidak berkontribusi secara riel bagi persoalan kemanusiaan, tetapi menempa jiwa dan memahami hakikat manusia hidup di dunia. Ilmu humaniora itu mengajarkan manusia untuk mampu berpikir reflektif dalam menyelami kompleksitas persoalan kemanusiaan. Di tengah kemajuan masyarakat tidak boleh ada hal yang hilang, yang hanya bisa diberikan oleh ilmu-ilmu humaniora!

___________

Daftar Pustaka

Arimbi, Diah Ariani. 2008. “Linguistic Turn dan Visi Budaya: Membaca Diri

melalui Bahasa”, Makalah Disampaikan pada acara Sidang Universitas Airlangga, pada tanggal 10 November 2008 di Aula Kantor Administrasi dan Rektorat Universitas Airlangga, Kampus C Mulyorejo, Surabaya.

Cahyono, Agus Eko. 2011. “Berefleksi pada Sejarah Linguistik dan Sastra Demi

Perkembangannya di Masa Depan”. Dalam Prosiding Seminar Nasional Linguistik & Sastra, Dahulu, Sekarang, dan Akan Datang. Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, Universitas Trunojoyo, Madura.     

Coleman, Hywel. “Menghadapi Korona dengan Bahasa Sederhana”, Kompas,

26/8/2020.

Damono, Sapardi Djoko. 2003. Sosiologi Sastra. Semarang: Magister Ilmu

Susastra Undip.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Departemen Pendidikan

Nasional. Balai Pustaka. Jakarta, 2001.

Masinambow, E.K.M. 2000. “Linguistik dalam Konteks Studi Sosial-Budaya”.

Dalam Bambang Kaswati Purwo (ed.). Kajian Serba Linguistik untuk Anton Moeliono. Pereka Bahasa.Penerbit : Univeersitas Katolik Atma Jaya dan PT BPK Gunung Mulia , Jakarta.

Muadz, M. Husni. 2013. Anatomi Sistem Sosial. Rekonstruksi Normalitas Relasi

Intersubyektivitas –Rekognitif dengan Pendekatan Sistem. Penerbit: Institut Pembelajaran Gelar Hidup, Mataram.

Musthafa, Bachrudin. 2008. Teori dan Praktik Sastra. Dalam Penelitian dan

Pengajaran. Penerbit: Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung dan New Concept English Education Centre, Jakarta.        

Nirman Ahmad Aruka. 2020. “Sains diTengah Wabah Korona”, Kompas,

5/6/2020.  

Rahardjo, Mudjia. 2006. “Bahasa, Pemikiran dan Peradaban. Telaah Filsafat

Pengetahuan dan Sosiolinguistik”. Pidato Pengukuhan, Disampaikan pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Sosiolinguistik Fakultas Humaniora dan Budaya, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Sabtu, 9 Desember 2006.       

Teuku Kemal Fasya. 2002. “Cultural Studies” dan Masa Depan Ilmu Humaniora

Baru. Kompas, 22/8/2002. 

Yudhistira, Geradi. 2018. “Stagnasi Ilmu Sosial Kita”, Kompas, 18/1/2018.

Nuryatin, Agus. 2013. “Sastra dalam Pendidikan, Pendidikan dalam Sastra”. Dalam Proceedings, Literature and Nation Character Building. The 23rd HISKI Conference on Literature, Lambung Mangkurat University, Banjarmasin, November 6-9, 2013.

Visits: 417
Today: 0

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *