Signifikansi Semiotika Bahasa Nusantara Terhadap Karakter Bangsa

 

Signifikansi Semiotika Bahasa Nusantara

terhadap Karakter Bangsa[1]

Oleh Mudjia Rahardjo[2]

  • Pengantar

Di tengah-tengah situasi sulit akibat pandemi Covid-19 yang mewabah di Indonesia sejak awal 2020 dan telah meruntuhkan berbagai sendi kehidupan, kita menyelenggarakan webinar menarik dengan judul “Signifikansi Semiotika Bahasa Nusantara terhadap Karakter Bangsa”.  Melalui webinar ini kita ingin mencari tali temali atau relasi antara bahasa nusantara dengan karakter bangsa dalam perspektif semiotika. Menurut saya, terdapat dua kosakata penting di judul makalah yang akan dibahas dalam webinar ini, yakni bahasa nusantara dan karakter bangsa. Makna dua kosakata tersebut perlu dipertegas lebih dulu sebelum membahas lebih lanjut bagaimana relasi keduanya dalam konteks kehidupan bangsa.

Pertama, saya memaknai bahasa nusantara sebagai bahasa-bahasa lokal  yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang jumlahnya diperkirakan mencapai 746 bahasa. Bahasa lokal (baca: bahasa daerah) menjadi bahasa ibu hampir sebagian besar penduduk Indonesia. Di antara ratusan bahasa tersebut ada yang penggunanya hanya beberapa puluh orang, ratus orang, dan ribu orang. Tetapi ada bahasa daerah yang penuturnya mencapai jutaan orang, seperti bahasa Sunda, Jawa, Minang, Madura, dan Bugis. Bahasa Jawa, misalnya, dipakai oleh hampir 70 juta pengguna. Bahkan ada yang menyebutnya hingga 90 juta orang. Tetapi ada kurang lebih 150 bahasa yang penggunanya lebih dari 10. 000 penutur. Dengan jumlah bahasa di dunia mencapai kurang lebih 6.700 bahasa, Indonesia merupakan penyumbang terbesar bahasa dunia. Itu sebabnya, Indonesia sering disebut sebagai laboratorium bahasa raksasa. Dari sisi kebudayaan, kondisi multibahasa merupakan berkah, walau diakui juga menjadi tantangan berat untuk pembinaannya.  Tak terelakkan, Indonesia menjadi lahan studi bahasa yang menarik para ilmuwan berbagai disiplin.

Kedua, karakter adalah  watak, akhkak, atau kepribadian seseorang yang khas yang terbentuk dari keyakinan mendalam dan dipergunakan sebagai cara pandang, berpikir dan bersikap serta bertindak dalam menjalankan aktivitas kehidupan. Menurut Lickona, sebagaimana dikutip Jumadi (2013-34) karakter ialah “a reliable inner disposition to respond situation in good away”.Dengan demikian, karakter bangsa dapat diartikan sebagai sikap atau kepribadian bangsa yang khas yang dipergunakan sebagai landasan berpikir dan bertindak  dalam kehidupan sebagai bangsa.  Atas dasar batasan tersebut, sangat bisa dipahami jika setiap bangsa memiliki watak dan kepribadiannya masing-masing yang berbeda dengan bangsa yang lain. Dalam sajian ini karakter bangsa yang dimaksudkan adalah karakter bangsa Indonesia.

Webinar kebahasaan ini membahas bagaimana bahasa-bahasa yang tersebar di seluruh nusantara menjadi salah satu tiang penyangga penting kebudayaan bangsa dan bagaimana pula mereka membentuk kepribadian bangsa. Belum lagi dialek dan ragam bahasa di dalamnya telah menambah kekayaan budaya bangsa. Keanekaragaman bahasa nusantara merupakan salah satu kekuatan bangsa, selain suku, dan agama. Tetapi seiring dengan perubahan dunia, terutama globalisasi, yang tidak lain adalah globalisasi kebudayaan Barat, nasib bahasa daerah terancam. Sebab, orang tak terhindarkan untuk mengikuti perubahan zaman dan penuturnya tak dapat mengasingkan diri dari pergaulan nasional dan internasional. Selain karena pengaruh kuat bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional,bahasa-bahasa daerah mengalami perubahan karena pengaruh bahasa-bahasa besar dunia, terutama bahasa Inggris. Masalahnya adalah bukan hanya bahasanya yang berubah, tetapi juga kepribadian para pengguna bahasa itu sendiri.              

  • Bahasa dalam Tinjauan Filsafat

Membahas masalah bahasa sesungguhnya membahas tentang salah satu ciri khas manusia. Manusia merupakan makhluk paling istimewa di mata Tuhan, karena memiliki tiga keistimewaan yang membedakannya dengan makhluk yang lain, yaitu penguasaan bahasa, kemampuan berpikir, dan kesempurnaan bentuk ragawi. Secara teoretik, terdapat sinergi sangat kuat di antara ketiganya. Tanpa bahasa, sehebat apa pun pikiran tidak akan dapat disampaikan kepada dan dipahami orang lain. Demikian pula tanpa pikiran, bahasa tidak akan berkembang. Sinergi antara bahasa dan pikiran ini yang mengantarkan manusia untuk tidak saja menyempurnakan penampilan ragawi, tetapi juga mengatasi berbagai keterbatasan ragawi mereka, sehingga memberi jalan bagi lahirnya fenomena khas manusia berupa kebudayaan.       

Jika kita sering mendengar pepatah ‘bahasa menunjukkan bangsa’, perkembangan terbaru dalam studi budaya mengatakan lebih dari itu. Bahasa menunjukkan segalanya; segala sesuatu dari pemakainya. Dari bahasa yang digunakan kita dapat mengetahui asal-asul, tingkat pendidikan, kecerdasan, status sosial, bahkan agama seseorang. Orang bisa saja menutup rapat-rapat tentang dirinya. Tetapi tanpa disadari melalui bahasa semua menjadi terbuka.      

Bahasa adalah cara kita untuk melihat, mempersepsi, merespons, bahkan mengkritisi sesuatu. Tak dapat disangkal bahasa merupakan fenomena yang menempati kedudukan sentral dalam kehidupan manusia. Sebab, bahasa memperlihatkan berbagai aspek, mulai biologis, psikologis, sosial hingga kultural.  Hampir tidak ada aspek kehidupan yang terbebas dan terlepas dari bahasa, termasuk sejarah. Kebenaran sejarah tidak bisa lepas dari bagaimana narasi digunakan oleh para sejarahwan dalam menulis peristiwa-peristiwa sejarah (Arimbi, 2008: 5). Dalam konteks negara, bersama dengan budaya, agama dan sejarah, bahasa merupakan komponen nasionalisme.

Selain logika dan matematika, secara epistemologik bahasa dipandang sebagai piranti sangat penting untuk menghasilkan pengetahuan yang sahih. Dengan ungkapan sederhana, bahasa merupakan salah satu sarana berpikir ilmiah, sekaligus juga sarana untuk menyampaikan hasil pemikiran ilmiah. Karena itu sangat penting bagi siapa pun yang akan memasuki dunia pengetahuan secara umum untuk memahami hubungan antara bahasa dan kegiatan berpikir. 

Seorang filsuf terkemuka dari Inggris, Thomas Hobbes, mempertanyakan “apa yang memungkinkan pengetahuan manusia terus menerus berkembang?”. Perenungannya sampai pada simpulan bahwa keistemewaan manusia terletak pada kemampuannya menandai secara simbolik setiap kenyataan secara arbitrer. Bahasa juga memungkinkan manusia untuk memberikan makna dan interpretasi tak terbatas tentang semua hal. Karena sediaan nama-nama itu, maka manusia mampu memanggil kembali dan mengaitkannya satu sama lain. Ilmu dan filsafat dimungkinkan kelahirannya karena kemampuan manusia untuk merumsukan simbol-simbol yang diciptakan secara arbitrer menjadi kalimat bahkan paragraf dan teks.

 Ernest Cassirer menggeser lokus kajian filosofisnya pada persoalan hubungan antara bahasa dan pemikiran. Hasilnya, meskipun pada bidang kajian yang berbeda, Cassirer sampai pada simpulan bahwa keistimewaan manusia adalah kemampuannya berbahasa. Ungkapan Erving Goffman “…human beings are symbol-using creatures” pada dasarnya sama dengan penyebutan Cassirer bahwa manusia adalah “animal symbolicum”.

Secara filosofis, sebutan manusia sebagai makhluk pengguna simbol memiliki cakupan lebih luas dibanding sebutan manusia sebagai makhluk berpikir (homo sapiens). Sebab, hanya dan hanya bila menggunakan bahasa manusia bisa berpikir dengan runtut, teratur, canggih, dan abstrak. Lebih lanjut, semua prestasi kolektif manusia, seperti khasanah pengetahuan keilmuan, kemajuan peradaban, serta keadiluhungan budaya, hampir pasti tidak bisa diwujudkan tanpa peran bahasa sebagai prasyarat utama (Rahardjo, 2006).

Tanpa bahasa, maka tiada pula kemampuan manusia untuk meneruskan nilai-nilai, pola-pola perilaku, dan benda-benda budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Lebih dari itu, tanpa bahasa kita membayangkan betapa sulitnya terjadi pengayaan budaya melalui pertukaran antar kelompok masyarakat. Kemajuan budaya dan peradaban modern yang dimiliki manusia saat ini adalah bentuk sumbangan nyata bahasa bagi umat manusia.

  • Situasi Kebahasaan di Indonesia dan Tantangannya

Indonesia adalah negara dengan ribuan pulau, ratusan suku bangsa, bahasa, budaya dan adat istiadat serta agama di dalamnya. Selain merupakan identitas, keragaman tersebut menjadi salah satu kekuatan bangsa. Di samping sebagai tempat tumbuhnya ratusan bahasa daerah, Indonesia juga menjadi  tempat bagi ras Melanesia terbesar di dunia, lebih besar daripada gabungan Melanesia di enam Negara:Papua Niugini, Timor Leste, Vanuatu, Kaledonia Baru, Kepulauan Solomon, dan Fiji. Ras Melanesia itu umumnya tinggal di Papua, Papua Barat, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Kebinekaan adalah aset dan kekayaan bangsa Indonesia (Burhani, 2020).                

Keanekaragaman suku itu pula yang melahirkan ratusan bahasa lokal atau bahasa daerah. Dilihat dari asal-usul rumpunnya, dari sekian banyak bahasa lokal/bahasa daerah sebenarnya dapat dikelompokkan ke dalam  dua kelompok besar, yakni  rumpun Austronesia dan non-Austronesia. Rumpun bahasa Austronesia adalah bahasa-bahasa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia selain di Papua. Penyebarannya ke barat sampai ke wilayah Madagaskar. Sering pula disebut sebagai rumpun bahasa Melayu Polinesia.  Sedangkan bahasa-bahasa non-Austronesia, oleh para aktivis Papua, disebut sebagai rumpun bahasa Melanesia. Itu sebabnya hingga hari ini para aktivis dan pendukung kemerdekaan Papua secara kultural tidak dapat disatukan dengan orang-orang yang berbahasa rumpun Austronesia atau Melayu Polinesia. Perbedaan asal-usul bahasa sering diangkat sebagai salah isu politik yang terus berkembang hingga hari ini untuk memisahkan diri dari negara kesatuan Indonesia.           

Ratusan bahasa daerah yang tersebar di seluruh wilayah nusantara adalah gambaran konkret mengenai keragaman budaya yang ada di dalamnya. Dengan keanekaragamannya itu, bangsa Indonesia berpotensi besar untuk memiliki perspektif yang kaya dalam melihat berbagai persoalan. Sayangnya, sebagaimana dilaporkan Kompas (26/2/2008) kita memperoleh gambaran suram mengenai nasib bahasa daerah. Menurut UNESCO sekitar 50 persen bahasa-bahasa dunia kini mengalami kepunahan selama satu abad terakhir, terutama bahasa-bahasa daerah yang penuturnya sedikit. Setiap dua minggu di dunia kehilangan satu bahasa daerah. Itu sebabnya data jumlah bahasa di dunia semakin hari semakin berkurang.

Akibat globalisasi, anak-anak muda enggan memakai bahasa daerah atau bahasa ibu. Mereka lebih suka berbahasa nasional, bahasa Indonesia, sambil sesekali diselingi bahasa asing agar terkesan lebih intelek dan modern, walau terkadang secara konseptual tidak mereka pahami artinya. Muncul fenomena budaya nginggris, yang penting berbahasa asing (terutama bahasa Inggris).     

Menurut Kepala Pusat Bahasa Depdiknas Dendy Sugono di Papua terdapat sembilan bahasa yang punah. Di Maluku Utara ada satu bahasa yang punah alias tidak ada penuturnya sama sekali. Keadaan lebih parah lagi terjadi di Sumatera. Menurut Sumer Institute of Linguistics (SIL), lembaga swadaya masyarakat internasional yang mendokumentasikan bahasa-bahasa yang hampir punah di dunia, mencatat di Sumatera dari sekitar 52 bahasa pada tahun 2000, yang tersisa saat ini tinggal 49 bahasa. Tiga bahasa telah hilang. Bagi UNESCO kondisi ini sangat memprihatinkan. Menurutnya, punahnya bahasa berarti hilangnya sebagian kebudayaan dan nilai serta kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Hilangnya kemampuan bertutur dalam bahasa ibu juga akan memengaruhi pengajaran membaca dan menulis.    

Bahasa daerah terhimpit dari berbagai sudut. Menurut Abdullah (1999) arus globalisasi memiliki dampak langsung terhadap bahasa daerah di berbagai tempat. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hal. Pertama, globalisasi telah meredifinisi batas-batas bahasa secara lebih luas di mana hubungan antara bahasa satu dengan lainnya menjadi lebih terbuka. Batas antara satu bahasa dengan bahasa lain menjadi mencair dengan mudahnya perpindahan bahasa, dan semakin kayanya sumber (bahasa) pembicaraan dalam alih kode dan bahasa. Keinginan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas berinteraksi tak terhindarkan. Warga yang semula hanya berinteraksi dengan sesama warga dalam satu desa, ingin memperluas interaksinya dengan warga di tingkat kabupaten, provinsi, hingga luar negeri. Dengan demikian, warga akan berkomunikasi melalui bahasa yang digunakan warga di luar komunitasnya.

Kedua, sifat ekspansif globalisasi telah menyebabkan subordinasi bahasa daerah semakin kuat. Masuknya teknologi komunikasi mengakibatkan istilah teknis dari bahasa asing (Inggris), seperti remote control, LCD, internet, modem, mouse, wifi, disket, copy paste, disket, hard copy, soft copy, dan sejenisnya menjadi ungkapan sehari-hari yang tidak tergantikan oleh bahasa daerah. Jika istilah-istilah teknis semacam itu terus berkembang  dan sulit dicari padan katanya dalam bahasa daerah dapat dipastikan posisi bahasa daerah semakin tergeser.

Ketiga, globalisasi menyebabkan hilangnya saluran enkulturasi nilai-nilai dan norma daerah. Kebudayaan daerah tidak lagi bisa menjadi acuan dalam bersikap dan praktik sosial. Warga lebih memilih norma-norma yang diambil dari institusi-institusi modern dalam wacana global.

Kendati terdapat ancaman kepunahan, bahasa-bahasa daerah tertentu mengalami perkembangan. Pertama, karena terjadi interaksi antar-bahasa daerah itu sendiri yang diakibatkan oleh pertemuan langsung antar-penutur dua daerah yang berdekatan. Program transmigrasi penduduk, terutama  dari Pulau Jawa, ke berbagai daerah di luar Jawa juga mengakibatkan pertumbuhan bahasa daerah tempat transmigrasi dengan masuknya kosakata bahasa Jawa. Kedua, kebijakan pemerintah yang secara intensif untuk menggunakan bahasa nasional Bahasa Indonesia di sekolah, kantor, rapat atau pertemuan formal sejak awal 1970-an menjadikan interaksi bahasa daerah dengan bahasa nasional semakin intensif. Proses semacam ini dapat memperkaya khasanah bahasa daerah.       

Tetapi dengan dominasi bahasa-bahasa besar dunia seperti bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, Perancis dan belakangan Korea timbul pertanyaan apakah bahasa-bahasa daerah sanggup bertahan dengan masuknya bahasa-bahasa tersebut. Jika iya, pertanyaan selanjutnya ialah untuk kepentingan apa bahasa daerah dipertahankan. Jika jawabnya ialah untuk melestarikan budaya dengan seluruh nilai kearifan di dalamnya, maka persoalan berikutnya adalah apa pentingnya melestarikan kearifan lokal dalam masyarakat modern.

Dengan tetap merenungi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, patut diingat bahwa kehilangan bahasa juga berarti kehilangan alat untuk memahami pola pikir penggunanya. Mengutip Kaplan, Kartomihardjo (1998) memetakan retorika bahasa-bahasa dunia menjadi empat kelompok. Bahasa Indo Eropa cenderung berterus terang, bahasa Arab dan Timur Tengah mengedepankan paralelisme berlebihan, bahasa-bahasa Asia Selatan, termasuk bahasa-bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah di dalamnya pokok bahasan tidak disampaikan secara langsung, tetapi terselubung. Sedangkan bahasa-bahasa Asia Timur menekankan kolektivisme.

  • Penutup

Bahasa daerah yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia yang sekaligus menjadi bahasa ibu berjuta-juta penduduk Indonesia merupakan potret keanekaragaman budaya bangsa yang tak ternilai harganya. Dalam proses kehidupan nasional, bahasa daerah berfungsi sebagai mitra nonformal bahasa nasional. Tetapi bahasa daerah mengalami ancaman kepunahan karena beberapa sebab. Beberapa malah telah mati dan hilang.  

Sebagai produk budaya, bahasa daerah tidak boleh hilang. Karena itu, harus dirawat. Bahasa ialah prasyarat utama tumbuhnya kebudayaan dan peradaban. Jika bahasa hilang, maka tidak akan ada  budaya. Dan, manusia menjadi makhluk tak berbudaya. Karena itu, di tengah-tengah derasnya arus globalisasi dan masuknya bahasa-bahasa besar dunia, bahasa daerah harus tetap dilestarikan, syukur jika bisa dikembangkan.

Sebenarnya kekhawatiran akan musnahnya bahasa daerah di Indonesia sudah pernah diramal oleh para Orientalis Barat 90 tahun lalu beberapa saat setelah Kongres Pemuda 1928  memutuskan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Prediksi itu ternyata meleset. Memang ada bahasa yang mati, tetapi jumlah penuturnya memang sangat sedikit, hanya beberapa puluh orang.

Menurut hemat saya sikap berbahasa yang tepat bagi bangsa Indonesia di tengah perubahan masyarakat yang demikian cepat dengan arus globalisasi yang begitu deras adalah tetap menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara, melindungi bahasa daerah sebagai kekayaan budaya, dan menguasai bahasa internasional sebagai media berinteraksi dengan masyarakat global.        

Saya ingin menutup tulisan ini dengan meminjam ungkapan bijak Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Prof. E.K.M. Masinambow (1999) “kalau keanekaragaman hayati dianggap sebagai sumber dari regenerasi dan revitalisasi biologis, maka keanekaragaman bahasa nusantara dapat dianggap sebagai sumber pembaharuan dan daya kreativitas manusia dalam hubunganya dengan lingkungan sosial”.                                  

___________

Daftar Pustaka

Abdullah, Irwan. (ed.). Bahasa Nusantara. Posisi dan Penggunaannya Menjelang

Abad ke-21. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Arimbi, Diah Ariani. 2008. “Linguistic Turn dan Visi Budaya: Membaca Diri

melalui Bahasa”, Makalah Disampaikan pada acara Sidang Universitas Airlangga, pada tanggal 10 November 2008 di Aula Kantor Administrasi dan Rektorat Universitas Airlangga, Kampus C Mulyorejo, Surabaya.

Burhani, Ahmad Najib. 2020. “Kebinekaan Kita”. Kolom Analisis Budaya.

Kompas,29/8/2020. 

Jumadi. Mengintensifkan Peran Sastra untuk Membangun Karakter Siswa.

Makalah disampaikan dalam “The 23rd HISKI Conference on Literature, Lambung Mangkurat University, Banjarmasin, November 6-9, 2013.     

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Departemen Pendidikan

Nasional. Balai Pustaka. Jakarta, 2001.

Kartomihardjo, Soeseno. 1998. Sambutan Promosi Calon Doktor, Pendidikan

Bahasa Inggris, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang (UM).  

Kompas, 26/2/2008.

Masinambow, E.K.M. 1999. Pengantar. Irwan Abdullah (ed.). Bahasa Nusantara.

Posisi dan Penggunaannya Menjelang

Abad ke-21. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Rahardjo, Mudjia. 2006. “Bahasa, Pemikiran dan Peradaban. Telaah Filsafat

Pengetahuan dan Sosiolinguistik”. Pidato Pengukuhan, Disampaikan pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Sosiolinguistik Fakultas Humaniora dan Budaya, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Sabtu, 9 Desember 2006.       


[1] Makalah Disampaikan dalam Webinar Nasional Kebahasaan, Fakultas Humaniora, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Senin, 14 Desember 2020  

[2][2] Penulis adalah Guru Besar Bidang Sosiolinguistik, pada Jurusan Sastra Inggris, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,

Visits: 411
Today: 0

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *