Nissa Sabyan dan Nurdin Abdullah dalam Perspektif Dramaturgi

Saat publik masih dikejutkan oleh skandal perselingkuhan Nissa Sabyan dengan Ayus Sabyan, yang tidak lain adalah pemain keyboard di grup musik gambusnya, kini kejutan lain datang dari Sulawesi Selatan. Gubernur Nurdin Abdullah ditangkap KPK, Jumat (26/2/2021) malam. Apa hubungan antara Nissa Sabyan dan Nurdin Abdullah yang membuat publik terperangah? Di antara keduanya tidak ada hubungan sama sekali, kecuali keduanya sama-sama figur publik di tempat masing-masing. Nissa di bidang seni musik, khususnya gambus, sedangkan Nurdin Abdullah di panggung politik.  Nissa penyanyi muda yang sedang naik daun dan Nurdin Abdullah adalah seorang gubernur. Sebagai figur publik, keduanya dikenal masyarakat luas. Siapa yang tidak mengenal Nissa Sabyan saat ini dan Nurdin Abdullah, khususnya masyarakat Sulawesi Selatan.        

Mengapa masyarakat terkejut? Selama ini Nissa Sabyan dikenal penyanyi muda (masih 21 tahun) yang sangat berbakat dengan lagu-lagu religius dengan suara merdunya. Setiap tampil menyanyi, tubuhnya terbungkus baju kebaya dan hijab yang selalu menutupi kepalanya dengan rapi. Nissa tampil sebagai artis yang religius, kalem, lugu, dan imut. Tiba-tiba tersiar berita dia terlibat cinta segi tiga dengan Ayus Sabyan. Pasalnya, Ayus telah berkeluarga, sehingga kehadiran Nissa di hati Ayus membuat keluarganya berantakan. Istri Ayus tidak bisa menerima kehadiran Nissa dan telah melayangkan gugatan cerai. Tinggal nunggu sidang di pengadilan.  

Tindakan Nissa sangat kontras dengan penampilannya. Saat menyanyikan lagu-lagu religius, tidak jarang Nissa meneteskan air mata karena menjiwai isi lagunya. Walau sampai saat ini Nissa masih bungkam, Ayus telah mengakui khilaf atas perbuatannya dan meminta maaf ke masyarakat luas. Dengan pengakuan Ayus tersebut, tuduhan perselingkuhan keduanya sulit terbantahkan. Sebab, perselingkuhan melibatkan dua pihak. Jika satu pihak telah mengakuinya, sulit bagi pihak kedua untuk menghindar. Apalagi, sikap diam seribu bahasa Nissa justru dianggap publik sebagai pengakuan. Banyak yang menyayangkan gadis belia yang memiliki masa depan cerah telah melakukan perbuatan tercela dengan menjadi pelakor. Masyarakat lndonesia dan fansnya di luar negeri menghujatnya. Mereka marah karena sosok yang diidolakan melakukan perbuatan tercela. 

Bagaimana dengan Nurdin Abdullah? Sebagai gubernur, selama ini  Nurdin dikenal bersih, pekerja keras, dan menerima beberapa penghargaan. Salah satunya dari Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) pada 2017. Selain sebagai politisi, Nurdin juga akademisi dengan gelar akademik puncak (Prof. Dr.) bidang kehutanan di Unhas. Di kantor dinasnya, Nurdin menggunakan protokol ketat kepada tamu yang akan menghadapnya. Setiap tamu tidak boleh membawa tas dan harus menaruhnya di luar. Dengan sosok seperti itu wajar jika masyarakat terkejut seolah tak percaya jika dia terlibat dalam praktik korupsi sehingga KPK menangkapnya. Tak pelak dunia jagat maya terhentak. Dia dihujat, dicemooh, dan digunjing. Ada kelompok masyarakat yang bersyukur karena aroma korupsi Nurdin sebenarnya sudah lama tercium masyarakat.    

Bagaimana memahami tindakan dua figur publik antara Nissa dan Nurdin? Tulisan ini akan mencoba mengurai perilaku dua sosok tersebut dalam perspektif dramaturgi.  Dramaturgi adalah sebuah teori sosial yang dikenalkan oleh Erving Goffman dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life. Menurut Goffman, kehidupan di dunia ini bagaikan panggung sandiwara atau teater. Ada dua panggung bagi manusia untuk melakukan aktivitas, yaitu panggung depan dan panggung belakang (front stage and back stage). Peran manusia pun berbeda-beda.  Ketika tampil di publik, berarti seseorang berada di panggung depan. Di panggung ini dia menampilkan dirinya sebagai penyeru kebaikan, kebenaran, kebajikan, kebijakan, keadilan, kerukunan dan hal-hal lain yang positif. Semakin tinggi status dan jabatan seseorang seruan semacam itu semakin lantang beresonansi luas. Tetapi di sisi lain atau di panggung belakang, seseorang bisa tampil beda seratus derajat dengan penampilannya di panggung depan. Di panggung belakang, dia sibuk dengan hal-hal untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian, panggung depan sejatinya tempat menjual “kepalsuan”.

Dramaturgi sangat tepat untuk memotret perilaku dua figur publik di atas. Perhatikan bagaimana penampilan Nissa Sabyan di panggung depan. Melalui lagu-lagu religiusnya, dia menyerukan nilai-nilai agama, seperti berdoa, bersyukur, bertaubat, berbaik-baik dengan sesama dan lain-lain. Dia berhasil menjual panggung depan dengan penampilan kalem dan suara merdunya, sehingga mengundang kekaguman. Nissa memiliki fans yang banyak, sampai ke beberapa negara tetangga, Malaysia, Singapura dan Brunei. Bahkan remaja-remaja di Timur Tengah juga sangat menyukai lagu-lagu Nissa Sabyan. Penonton sering dibuat hanyut secara emosional dengan lagu-lagu Nissa Sabyan. Perpaduan antara penampilan fisik, suara, pakaian, lagu, musik dan kefasihannya mengucapkan kata dalam bahasa Arab menjadikan Nissa berhasil mengelabuhi publik melalui panggung depannya. Tak sedikit yang mengira Nissa adalah alumni sebuah pondok pesantren. Padahal, dia alumi sebuah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) di Jakarta.

Bagaimana Nurdin Abdullah? Sama dengan Nissa, Nurdin Abdullah juga berhasil menjual panggung depannya dengan sempurna. Menampilkan diri sebagai pemimpin bersih, berintegritas, inspiratif dan visioner dalam menjalankan tugas negara, Nurdin nyaris tanpa cela sehingga membuat masyarakat mempercayainya hingga menjadi bupati selama dua periode dan naik menjadi gubernur. Tak kurang mantan Wapres Yusuf Kalla sempat memuji Nurdin Abdullah sebagai pemimpin daerah yang berhasil dalam menjalankan “good governance” dan membawa Sulawesi Selatan sebagai provinsi yang maju dalam pembangunan. Malah menurut Wakil Ketua KPK Nurul Gufron, Sulawesi Selatan baik dari sisi program pencegahan korupsi, hingga menjadi rujukan nasional. “Kita akui Sulsel selama ini jadi rujukan bagi KPK. Pencegahannya baik. Tapi itu kadang hanya formal bagus, tapi di balik itu ada itikad yang disembunyikan”, ujarnya.

Memahami tindakan orang melalui dramaturgi berarti memahami pelaku dengan segala ekspresi dan lakon yang digelarnya. Menariknya, tidak dijumpai konsistensi antara panggung, penampilan dan perilaku sesungguhnya. Bisa saja di panggung depan seseorang berpenampilan halus, santun, ramah, sabar dan seterusnya. Tetapi di panggung belakang, berperilaku sebaliknya. Dalam ungkapan Basrowi (Surya, 13/5/2000) aktor di panggung depan cenderung membimbing diri mereka sendiri dengan apa yang dianggap sebagai nilai-nilai resmi dari fenomena yang dijelaskan. Nilai-nilai resmi yang cenderung formal sering kali menghilangkan esensi suatu tindakan. Penampakan hanyalah kulit kamuflase yang mengecoh orang sebagai penonton. Semakin aktor lihai memainkan kamuflase, semakin tertutup borok yang disembunyikan. Dalam kasus Nissa penonton adalah orang-orang yang melihat pertunjukan gambus secara langsung, para pendengar lagu-lagu dan semua penggemarnya. Sedangkan bagi Nurdin Abdullah penonton adalah semua masyarakat Sulawesi Selatan dan para pengagumnya. Semua telah tertipu oleh borok-borok tindakan jahat. Yang satu perusak keluarga orang, dan satunya pencuri uang rakyat. Semua penonton dua figur publik itu dibuat terkecoh oleh perilaku dua sosok manusia itu.   

Dalam konteks dramaturgi, panggung belakang adalah wilayah yang sesungguhnya. Di panggung belakang seseorang melepas topengnya dan menjadi pribadi yang sesungguhnya. Nissa adalah Nissa yang sesungguhnya. Bukan yang meneteskan air mata ketika menyanyikan lagu-lagu religius. Bukan yang kalem, lembut dan imut. Dalam ungkapan kasar, Nissa jahat. Karena merusak keluarga justru yang mengantarkannya menjadi artis populer. Dia telah menyakiti hati sesama perempuan (istri Ayus). Nurdin Abdullah sama jahatnya. walau dalam bentuk berbeda, karena melakukan tindak korupsi di tengah-tengah masyarakat sedang melawan pandemik Covid-19. Karena itu dapat disimpulkan semua penampilannya selama ini sejak menjadi bupati selama dua periode hingga menjadi gubenur adalah kepalsuan belaka. Di panggung belakang, dia memperkaya diri dengan menerima uang haram dari mitra kerjanya. Bahkan menurut informasi KPK sudah lama Nurdin diduga menerima uang haram dari pihak ketiga untuk mendapatkan proyek. Bisa saja Nurdin bersumpah serapah tidak tahu menahu asal usul uang satu koper yang diamankan KPK, yang menurutnya itu ulah sekretaris Dinas PUTR yang melakukan transaksi dengan pihak swasta tanpa sepengetahuannya. Bahkan menyebut nama “Allah” beberapa kali dalam sumpahnya. Itu hak dia mengatakan hal semacam itu.

Tetapi KPK tentu tidak gegabah menangkap seseorang yang diduga melakukan kejahatan, apalagi seorang gubernur. Pasti telah ada  bukti yang cukup kuat. Selama ini yang tertangkap KPK tidak ada yang pernah lolos, atau bebas dari hukuman. Semua berakhir di penjara.  Walau seorang profesor, kali ini Nurdin tanpa sadar menampilkan kebodohannya. Logika orang awam saja dapat menjawab apa mungkin seorang bawahan di lembaga struktural pemerintahan berani melakukan tindakan tanpa persetujuan dan perintah atasan. Nurdin telah kehilangan akal sehatnya.    

Tidak kali ini saja publik tertipu oleh ulah para pemain panggung depan. Menteri yang ditangkap KPK karena diduga menyalahgunakan uang bansos juga suka berteriak lantang kepada anak buahnya untuk menghindari korupsi. Seorang da’i kondang yang suka menasehati jamaahnya untuk membangun kehidupan harmonis di keluarga dengan saling kasih dan sayang ternyata membuat gempar publik karena berpoligami. Publik pun marah dan pamor sang da’i terus meredup. Bahkan usahanya ikut bangkrut. Tausyiahnya sudah tak didengarkan publik. Mengapa? Karena pernyataannya tidak sesuai dengan kenyataan, yang menurut filsafat ilmu, tidak terjadi korespondensi. Jika tidak ada korespondensi berarti tidak ada kebenaran. Beberapa tahun lalu masyarakat Indonesia juga dikagetkan oleh kasus bunuh diri seorang artis senior ternama dan sering membintangi film senetron. Bagaimana tidak kaget? Di film yang dimainkan artis ini sangat keibuan, dengan tutur katanya lembut,  dan bijak dalam berntindak. Ternyata di balik semua itu dia menghadapi problema berat dalam hidupnya dan akhirnya mengambil jalan pintas bunuh diri.     

Pelajaran apa yang dapat dipetik dari kasus Nissa dan Nurdin Abdullah? Semua tertipu oleh ulah dua sosok itu di panggung depan, karena menggunakan perspektif positivisme. Kekaguman masyarakat terhadap Nissa karena penampilan di panggung yang sangat sempurna. Kekaguman terhadap Nurdin Abdullah karena hanya dilihat dari prestasi-prestasi yang tampak di permukaan. Inilah kesalahan masyarakat. Sebagaimana diketahui madzhab positivisme — yang diikuti oleh metode penelitian kuantitatif — menganggap yang tampak adalah fakta sekaligus realitas. Positivisme sering gagal memahami gejala sosial dan kemanusiaan. Sebab, meminjam istilah Weber, manusia adalah makhluk berkehendak (intentional human being) yang tindakannya tidak konsisten. Tindakan manusia tidak pernah lepas dari kepentingannya. Berbeda dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan yang sifat dan perilakunya cenderung konsisten. Aktor peristiwa sosial adalah manusia dengan keunikan sifat dan kompleksitas persoalannya.

Fenomenologi hadir sebagai perspektif lain bagaimana memahami gejala sosial dan kemanusiaan. Bagi fenomenologi — yang diikuti oleh metode penelitian kualitatif — yang tampak bukan realitas, melainkan pantulan dari sesuatu yang ada di baliknya. Dengan ungkapan lain, yang tampak adalah fenomena, bukan realitas atau kenyataan. Itu sebabnya fenomenologi mengajarkan kepada kita untuk tidak selalu dan mudah percaya pada yang tampak dari seseorang. Sebab itu bukan dia yang sesungguhnya. Dia yang sesungguhnya adalah di balik yang tampak. Dalam dramaturgi diri orang yang sesungguhnya ialah ketika dia berada di panggung belakang.

Untuk menjelaskan perbedaan antara positivisme dan fenomenologi, saya sering membuat lontaran yang mengundang tawa mahasiswa. Bagi positivisme, orang tertawa berarti bahagia, dan orang menangis berarti susah. Fenomenologi tidak demikian memahaminya. Orang tertawa belum tentu bahagia atau senang. Buktinya, orang yang mengalami stres tingkat tinggi bisa terus tertawa tiap hari. Sebaliknya, orang menangis belum tentu susah atau sedih. Buktinya, orang terharu karena tiba-tiba mendapat sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bisa menangis karena haru.

Kita sering menyaksikan peristiwa semacam itu di masyarakat. Karena itu, mengikuti dramaturgi Erving Goffman, untuk memahami seseorang jangan mudah percaya pada tindakanya yang tampak di panggung depan. Dalami seseorang pada panggung belakangnya. Nissa Sabyan dan Nurdin Abdullah saat ini hidup di panggung belakang. Rasanya tidak salah jika kita simpulkan keduanya telah merenungi tindakannya selama ini di panggung depan yang penuh kepalsuan. Yang pasti Nissa telah melapaskan baju kebesaran berupa kebaya yang sering dikenakan saat menyanyi dan Nurdin Abdullah juga telah menanggalkan baju kebesaran sebagai seorang gubernur dan guru besar. Kehormatan dan prestasi yang telah diukir keduanya selama ini hilang dan terhapus dalam waktu sekejap.  

Sebagai buah dari tindak kepalsuannya, keduanya akan menanggung akibatnya, walau dalam bentuk berbeda. Jika Nissa akan dihukum oleh masyarakat dengan predikat pelakor yang dapat mengancam masa depannya, Nurdin Abdullah akan berhadapan dengan jaksa dan hakim di pengadilan untuk mempertanggungjawabkan tindakan teatrikalnya selama ini. Jika gagal, penjara telah menanti dan akan menjadi tempat tinggalnya di hari tua. Namun demikian,  sambil nunggu episode berikutnya, kita patut berterimakasih kepada keduanya karena telah memberi contoh bagaimana menggunakan teori dramaturgi dalam lakon hidupnya, walaupun mungkin tidak sengaja!     

_________ Malang, 1 Maret 2021

Visits: 609
Today: 8

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *