Antara Akal, Pengalaman dan Bahasa dalam Ilmu Pengetahuan

A. Pengantar
Di perkuliahan filsafat ilmu dan metodologi penelitian sering terjadi
diskusi menarik mengenai pertanyaan mana yang lebih utama antara akal dan
pengalaman untuk memperoleh pengetahuan dalam kegiatan ilmiah. Ada yang
menyatakan akal lebih utama. Sebab, semua kegiatan ilmiah seperti penelitian
sejak pemilihan tema sampai merumuskan hasil adalah proses kerja akal.
Dengan akal, manusia dapat bernalar logis untuk menentukan kebenaran.
Bernalar merupakan salah satu bentuk dari pemikiran. Untuk mencapai itu,
penalaran bertotak dari pengetahuan yang sudah ada.


Sebaliknya, ada yang berpandangan bahwa pengalaman lebih utama,
karena melalui pengalaman akan diperoleh kenyataan yang objektif. Objektivitas
merupakan salah satu syarat sahnya pengetahuan ilmiah. Misalnya, untuk dapat
merasakan dingin seseorang harus menyentuh es. Begitu juga ketika seseorang
ingin merasakan panas, maka dia harus menyentuh api, dan seterusnya. Dengan
demikian, mengetahui itu hakikatnya mengalami.
Diletakkan dalam filsafat, perdebatan tersebut telah masuk pada ranah
epistemologi pengetahuan, Epistemologi merupakan salah satu pilar penting
dalam filsafat yang tidak saja berurusan dengan bagaimana suatu pengetahuan
diperoleh, tetapi juga menelaah bagaimana ilmu pengetahuan
dipertanggungjawabkan. Ada dua aliran penting dalam filsafat ilmu terkait
pemerolehan pengetahuan, yakni rasionalisme dan empirisisme.


Epistemologi telah berjasa besar bagi kehidupan manusia. Kompleksitas
dan kekayaan realitas yang ada di dunia ini dapat terkuak berkat perkembangan
ilmu pengetahuan. Berbekal akal, ilmuwan dapat mengungkap realitas yang
tersembunyi atau belum terungkap. Melalui bahasa, pengetahuan yang diperoleh
menjadi pengetahuan yang terbahasakan (articulated knowledge). Pengetahuan
itu awalnya bersifat personal. Ketika sudah terbahasakan, ia menjadi
pengetahuan publik. Bahasa dapat hadir sebagai lambang sebuah pengalaman
atau pengertian yang sangat abstrak sekalipun. Uraian berikut akan menjelaskan
mengenai tali temali antara akal, pengalaman dan bahasa dalam pencarian dan
pengembangan ilmu pengetahuan.


B. Akal dan Pengalaman dalam Tinjauan Filsafat
Adalah Socrates, filsuf besar Yunani, yang hidup pada 469-399 SM, yang
berpandangan bahwa manusia terlahir dengan berbekal akal dan menjadikan
dirinya makhluk istimewa dibanding yang lain. Ada juga yang menyebutnya
sebagai ‘budi’. Sejak itu, para filsuf terus membahas peran akal dalam pencarian
pengetahuan. Semakin lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar
terhadap kemampuan akal. Berbekal kekuatan akal, manusia ingin hidup bebas
dan menata diri tanpa tekanan dari kekuatan mana pun yang membelenggu
dirinya. Akal dapat memroduksi pengetahuan dengan caranya sendiri, tanpa
bantuan piranti atau organ tubuh lainnya. Pemikiran yang sangat mengagungkan
akal disebut rasionalisme, yang kemudian menjadi salah satu aliran pemikiran
utama dalam filsafat. Kaum rasionalis melawan orang-orang yang malas berpikir
dan menuruti kehendak di luar dirinya.

Rasionalisme melahirkan jenis pengetahuan a priori atau ‘intuitive
knowledge’ (Derksen dan Gartell, 2006: 2463), yakni pengetahuan dari olah akal
budi yang dimulai dari seperangkat aksioma mengenai beberapa fenomena dan
kemudian mengembangkan pengetahuan mengenai hal itu dengan menggunakan
penalaran dan logika yang bekerja di dalam sistem yang dibatasi oleh aksiomaaksioma tersebut, sehingga mirip-mirip dengan kepercayaan (Tarigan, 1992: 10).
Contoh pengetahuan a priori ialah 5 + 6 = 11. Untuk membuktikan bahwa 5
ditambah 6 menjadi 11 kita tidak perlu mengambil benda atau objek berjumlah 5
dan 6 kemudian menggabungkannya, tetapi cukup dengan menggunakan akal
(Erwing, 1951: 542).

Gagasan rasionalisme Socrates diteruskan oleh Rene Descartes (1596-
1650), seorang filsuf Perancis, Spinoza (1632-1677) dan Leibniz (1646-1716).
Mereka adalah para tokoh di balik aliran rasionalisme yang berkontribusi besar
dalam metode penyelidikan ilmiah. Sebagai bawaan manusia sejak lahir, akal
tidak hanya menjadi sumber utama pengetahuan yang dapat dipercaya, tetapi
juga digunakan untuk mengukur benar tidaknya pengetahuan. Hanya
pengetahuan yang diperoleh dari akal yang memenuhi syarat ilmiah. Akal tidak
memerlukan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan yang benar, karena
akal dapat menurunkan kebenaran dari dirinya sendiri. Dalam ungkapan lain,
Armada Riyanto (2018: 138) pengetahuan itu ada dalam akal budi sendiri yang
memiliki struktur kategoris.

Menurut Descartes, (dalam Poedjawijatna, 2004: 57) akal atau nalar
merupakan pemberian Tuhan sebelum manusia lahir untuk menjadi bekal
hidupnya, sehingga mustahil jika pemberian Tuhan itu tidak benar. Melalui
rasionalisme, Descartes mengajarkan manusia untuk memanfaatkan potensi diri
dalam mencari pengetahuan ilmiah. Semua pencarian pengetahuan melalui
penelitian, yang diawali dengan pencarian fenomena, pengumpulan data, analisis
data hingga merumuskan temuan dan hasil, memerlukan kekuatan analisis kritis,
terperinci, mendalam dan holistik yang dapat dilakukan oleh akal. Para penganut
rasionalisme juga berkeyakian akal tidak hanya dapat memroduksi pengetahuan,
tetapi juga merupakan sumber utama pengetahuan itu sendiriSejak era Descartes, semua manusia disebut sebagai makhluk ‘rasional’,
dalam arti manusia bertanya dan terus mencari jawaban. Ungkapan Descartes
yang terkenal ialah “saya berpikir, jadi saya ada”. Menurutnya, sesuatu yang
sudah terang benderang benar atas dasar akal pikiran manusia tidak perlu
diperlukan pembuktian. Aliran ini sering juga disebut sebagai aliran
rasionalisme Cartesian (meminjam nama Descartes). Selain mengajak kita untuk
berpikir rasional, Descartes juga mengajarkan kita untuk belajar memilah-milah
masalah rumit menjadi bagian-bagian yang terfragmentasi agar menjadi mudah
diatasi (Muadz, 2013: xi). Begitu mendasarnya cara berpikir Descartes tentang
penyelidikan pengetahuan, ia disebut sebagai ‘bapak ilmu modern’.
Berbekal akal, penelitian berupaya menafsirkan dan memaknai data dan
informasi yang diberikan oleh informan melalui refleksi, pengalaman meneliti,
dan kreativitas intelektual personal. Semua yang terkumpul selanjutnya
diinterpretasi. Menurut Watloly (2001: 143) interpretasi merupakan gabungan
kompleksitas dari hubungan kebenaran dan kesalahan. Kebenaran hakikatnya
adalah suatu produk pengetahuan dari proses mental setelah ditemukan
kesalahan.

Rasionalisme mengandalkan kebenaran koherensi, mengandalkan metode
penyimpulan deduktif, sehingga hakikat kesimpulannya adalah derivasi dari halhal yang bersifat umum. Koheren artinya pengetahuan dikembangkan dalam alur
pikir yang konsisten dan keseluruhan komponen terpadu secara utuh.
Pengetahuan dianggap salah jika argumentasi tidak konsisten dan utuh atas dasar
pengetahuan yang sebelumnya yang telah dianggap benar. Rasionalisme
mengajak kita menghargai karya-karya yang telah ada sebelumnya. Itu sebabnya
dalam karya ilmiah ada bagian khusus yang membahas teori dan temuan-temuan
yang telah diungkap dan ditemukan para pendahulu. Rasionalisme hadir sebagai
kekuatan yang mengalahkan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat
primitif. Sejarah modernitas tidak lain adalah sejarah rasionalisme. Bahkan
menurut Hardiman (1994) rasio manusia telah menunjukkan dirinya sebagai
“mitos baru” dalam bentuk sains yang kemudian berkembang menjadi
“sainstisme”. Rasio diagungkan sebagai produsen sains.

Atas dasar rasionalisme, metode penelitian, terutama penelitian kualitatif,
memberikan ruang sangat luas kepada peneliti untuk mengembangkan proses
mental antara peneliti dan subjek penelitian melalui interaksi intensif.
Menempatkan diri di luar subjek penelitian, peneliti kualitatif ingin memperoleh
pemahaman yang mendalam dari suatu gejala atau peristiwa dari sisi pelakunya.
Ruang penjelajahan dan penziarahan yang luas untuk menggali makna dari suatu
peristiwa yang diteliti membuat peneliti bisa berpandangan luas dan berpikir
kritis, karena tidak terkungkung oleh suatu tatanan nilai atau struktur. Bersikap
kritis dengan tidak mudah percaya dan meragukan pada sesuatu yang belum
jelas kebenarannya merupakan bakat naluriah manusia.
Dengan akalnya, manusia mampu membuat abstraksi dan konsep atas
banyak realitas yang tak terhitung jumlahnya untuk selanjutnya memaknainya
sehingga melahirkan ilmu. Menurut Muhadjir (1995: 2) sejarah membuktikan
bahwa perkembangan ilmu pengetahuan didominasi oleh cara berpikir deduktif.
Artinya, kemampuan rasional untuk dapat mengabstraksikan dan
mengkonsepsikan kenyataan lepas dari fakta empirik ternyata lebih dominan
dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Ini sejalan dengan pernyataan Eisner
(dalam Taylor dan Wallace (eds.), (2007: 46) yang menyatakan:
“…human knowledge is made, not simply discovered, that what we know is a
product of our minds as well as of what may exist outside the mind”.
Akal mampu mengkonstruksi pengetahuan manusia menjadi ilmu
pengetahuan ilmiah. Menurut Wahbah Az-Zuhaili (2002: 133) akal manusia
berhasil membuktikan inovasi dan kreasi serta berseni dalam segala bidang
menyangkut perusahaan, pertanian, dan perdagangan. Akal tidak membiarkan
apa yang ada di darat, laut, dan udara serta alam raya melainkan ia
memenuhinya dengan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi yang mengagumkan.

Masih menurut Wahbah Az-Zuhaili, dalam perspektif Islam, seruan yang
kuat dan keras dari Allah untuk mendagayagunakan akal dalam menggali alam
dan berbagai manfaatnya serta berpikir dalam optimalisasi kemampuannya
ditujukkan Allah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut kata “al aqlu” sampai
sedikitnya lima puluh kali, “ulil albab” sebanyak dua puluh kali dan “uulin
nuha” sebanyak dua kali. Karena berpikir adalah alat untuk berinovasi dan
berkreasi, maka menelantarkan fungsi akal dan berpikir adalah fenomena
keterbelakangan yang mencolok. Itu semua mengindikasikan bahwa berpikir
adalah sebuah kewajiban islami yang tidak berbeda dengan kewajibankewajiban lainnya. Tanpa akal, manusia menjadi lemah dan cemas. Ia tidak bisa
membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebaikan dan keburukan.
Walau pengaruh rasionalisme begitu besar dalam dunia ilmu dan filsafat,
ternyata tidak semua dapat menerima aliran ini. Rasionalisme mengalami
kesulitan ketika dihadapkan pada pertanyaan tentang ‘kebenaran’ yang pasti.
Sebab, setiap orang itu mempunyai ukuran kebenaran menurut rasionalnya
dirinya, sehingga sulit diperoleh konsensus tentang kebenaran. Para pengritik
rasionalisme beranggapan bahwa manusia itu waktu lahir sekali-kali tidak
membawa idea atau akal; ketika lahir manusia itu bagaikan kertas atau papan
yang tak bertulis (tabula rasa). Hanya dari pengamatannya, manusia lambat laun
mempunyai idea atau akal. Fakta empirik, fakta yang tertangkap lewat
pengalaman merupakan sumber pengetahuan utama (Pateda, 2001: 14). Karena
itu, lahir aliran pemikiran baru yang disebut empirisisme.

Adalah Aristoteles (384-322 SM) yang beranggapan bukan akal sebagai
alat utama pencari pengetahuan, melainkan pengamatan melalui pancaindra.
Dari indra manusia bisa mendapatkan pengetahuan lewat pengalaman.Empirisisme tidak mengenal pengetahuan a priori, sebaliknya yang ada adalah pengetahuan a posteriori, yakni pengetahuan yang diperoleh atas dasar hal-hal yang datang atau terjadinya kemudian. Pengetahuan yang benar ialah yang dapat dibuktikan melalui pengalaman terlebih dahulu. Pengetahuan itu harus objektif (sesuai dengan objek atau realitasnya). Empirisisme mengandalkan kebenaran korespondensi, mengandalkan metode penyimpulan induktif, sehingga hakikat kesimpulannya adalah inferensi dari hal-hal yang bersifat khusus untuk
selanjutnya dibuat menjadi hal yang bersifat umum. Korespondensi artinya
adanya kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan. Pengetahuan dianggap
salah jika antara pernyataan dengan kenyataan tidak sesuai, apalagi
bertentangan.

Empirisisme muncul pertama kali di Inggris pada abad ke-15 dengan
Francis Bacon (1561-1626) sebagai pelopornya. Bacon mengenalkan metode
eksperimen dalam penelitian. Menurutnya, manusia melalui pengalaman dapat
mengetahui benda-benda dan hukum-hukum relasi antara benda-benda.
Empirisisme mendasarkan pandangannya pada aspek-aspek fisik, kebendaan dan
keterpenuhan wilayah badani sebagai pusat kebahagiaan. Aliran ini semakin hari
semakin mapan dalam mengokohkan pengaruhnya. Selain Bacon, ada Thomas
Hobbes (1588-1679) sebagai tokoh empirisisme yang pikirannya sejalan dengan
Bacon (Sumarna, 2005: 67).

Aliran ini dikembangkan dengan baik oleh David Hume (1711- 1776)
yang dipengaruhi pemikiran Aristotelian. Ada asumsi lain yang menyatakan
bahwa pancaindra itu sendiri tidak mungkin berbohong. Maksudnya, kalau
terjadi kesalahan dalam pengetahuan yang diperoleh, sebabnya ialah interpretasi
manusia sendiri, bukan karena indra. Bagaimana pengetahuan dikembangkan
melalui pengalaman menjadi bagian pokok pemikiran empirisisme (Wuisman,
1996: 5). Menurut Tarigan (1992: 11) kompetensi indrawi digunakan untuk
mengetahui sesuatu melalui proses-proses investigasi atau eksperimentasi, yang
kemudian menjadi salah satu strategi dalam penelitian kuantitatif. Pengetahuan
empiris diperoleh dengan cara berinteraksi dengan dunia nyata, mengobservasi
fenomena, dan menarik kesimpulan-kesimpulan dari pengalaman.

Pemisahan antara pengetahuan naluriah dan indrawi dianggap tidak tepat
oleh sebagian orang. Alexis Carrel (dalam Watloly, 2001: 141) menyatakan
bahwa pengetahuan indrawi memang diperoleh dari kekuatan indra manusia
namun selalu bersifat relasional. Artinya, melalui indranya, manusia bisa
menangkap realitas sebagai makhluk biotik. Namun realitas atau kenyataan
tersebut juga tidak lepas dari proses psikis. Berkat indranya, manusia dapat
mengatasi tahap hubungan yang semata-mata fisik-vital dan masuk ke dalam
medan intensional.

Pengetahuan indrawi bersifat parsial, karena masing-masing orang
memiliki daya indra yang berbeda-beda dan ciri-ciri objek atau benda yang
ditangkap. Masing-masing indra menangkap aspek yang berbeda mengena
barang atau sesuatu yang menjadi objeknya. Menurut Carrel, pengetahuan
indrawi menjadi berbeda-beda menurut perbedaan indra dan terbatas pada
sensibilitas organ-organ indra tertentu. Misalnya, pendengaran hanya dapat
menangkap suara, mata hanya mampu melihat sesuatu yang konkret. Mata tidak
bisa menangkap bau, yang hanya bisa ditangkap oleh indra penciuman. Begitu
juga indra-indra yang lain yang sebenarnya hanya mampu menangkap kenyataan
dari sisi permukaan saja. Dengan demikian, pengetahuan indrawi oleh Watloly
(2001: 142) disebut sebagai pengetahuan yang tidak utuh, karena memang hanya
ditangkap oleh satu indra saja. Menurut Soekadijo (1999: 3) bersamaan dengan
aktivitas indra, terjadilah aktivitas pemikiran.

Jenis pengetahuan idrawi belum mempunyai dasar objektif yang kokoh.
Namun demikian, walau masih belum memiliki dasar atau landasan yang kokoh
dan masih sangat terbatas, pengetahuan indrawi merupakan pengetahuan dasar
yang sangat penting untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan selanjutnya.

C. Bahasa dan Pengetahuan Ilmiah
Tak dapat dipungkiri bahasa merupakan piranti sangat penting untuk
menghasilkan pengetahuan. Bahasa tidak saja berfungsi sebagai alat
komunikasi, tetapi juga merupakan salah satu sarana berpikir ilmiah, sekaligus
sarana untuk menyampaikan hasil pemikiran ilmiah. Menurut Hutabarat (1999:
7) bahasa bukan saja merupakan bentuk dari isi pemikiran, tetapi juga
merupakan alat atau instrumen dari proses berpikir. Bahasa juga bukan hanya
alat mati dari pikiran. Di luar logika, bahasa mempunyai peran-peran lain dalam
kehidupan.

Karena sifat arbitrernya, dengan sangat leluasa bahasa dapat memberi
simbol atau nama terhadap kenyataan. Selain memberi nama atau simbol, bahasa
juga menjadi tempat penyimpanan kumpulan besar endapan-endapan
pengetahuan kolektif manusia (archeology of knowledge) yang sewaktu-waktu
dapat dibuka kembali ketika diperlukan. Karena itu, penting sekali bagi siapa
pun yang akan memasuki dunia pengetahuan secara umum untuk memahami
hubungan antara bahasa dengan kegiatan berpikir.

Sehubungan dengan itu, para filsuf mempertanyakan mana yang lebih
dulu dan lebih penting antara bahasa dan pemikiran? Bisakah bahasa tumbuh
tanpa pemikiran? Mungkinkah pemikiran berlangsung tanpa bahasa? Barangkali
itu merupakan sejumlah pertanyaan yang begitu menggoda untuk ditelaah terusmenerus.

Memang tidak banyak filsuf atau ilmuwan yang menaruh perhatian cukup
besar terhadap hubungan antara bahasa dan pemikiran, apalagi dikaitkan dengan
peradaban. Dari jumlah yang sedikit tersebut, bisa disebut antara lain Thoma
Hobbes, Ludwig Wittgenstein, Ernest Cassirer, dan Michael Polanyi.
Thomas Hobbes, seorang filsuf terkemuka berkebangsaan Inggris,
mempertanyakan ”apa yang memungkinkan pengetahuan manusia terus-menerus
berkembang?” Perenungannya sampai pada simpulan bahwa keistimewaan
manusia terletak pada kemampuannya menandai secara simbolik setiap
kenyataan.

Manusia mampu membentuk lambang atau memberi nama guna menandai
setiap kenyataan, sedangkan binatang tidak mampu melakukan itu semua.
Karena ada sediaan nama-nama itu, maka manusia mampu memanggil kembali
dan mengaitkannya satu sama lain. Ilmu dan filsafat dimungkinkan kelahirannya
karena kemampuan manusia untuk merumuskan kata-kata dan kalimat. Karena
itu, pengetahuan manusia pun memiliki dua bentuk berbeda, yaitu: pengetahuan
realitas dan pengetahuan konsekuensi.
“Science and philosophy are possible because of man’s capacity to formulate
words and sentences. Knowledge, then, takes on two different forms, one being
knowledge of reality, and the other knowledge of consequences.”

Walhasil, menjadi agak mudah bagi kita untuk memahami pernyataan
seorang filsuf bahasa kenamaan Ludwig Wittgenstein bahwa ”batas bahasaku
adalah batas duniaku” (Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen
meiner Welt).
Kalau ketidak-mampuan berbahasa adalah batas dunia binatang,
maka kekurang-cakapan berbahasa juga membatasi dunia manusia. Pun bila
dikehendaki memperluas dunia manusia, maka salah satu piranti utamanya
adalah kecakapan berbahasa.
Ernest Cassirer, menggeser locus kajian filosofisnya pada persoalan
hubungan antara bahasa dan pemikiran. Hasilnya, meskipun pada bidang kajian
yang berbeda, mengingatkan tengara Emile Durkheim tentang kekhususan
seorang pemikir luar biasa.

Memang Ernest Cassirer juga melahirkan suatu simpulan yang berbeda
dari kecenderungan pemikiran awam. Kalau kebanyakan dari kita meyakini
bahwa pembeda utama manusia dari binatang adalah kemampuan berpikirnya,
maka Cassirer menegaskan bahwa manusia menjadi begitu istimewa karena
bahasa. Ungkapan Erving Goffman, ”…human beings are symbol-using
creatures”, pada dasarnya sama dan sebangun dengan penyebutan Cassirer
bahwa manusia adalah animal symbolicum.

Secara filosofis, sebutan manusia sebagai makhluk pengguna simbol
memiliki cakupan lebih luas dibanding sebutan manusia sebagai makhluk
berpikir (homo sapiens), karena hanya dan hanya bila menggunakan bahasa
maka manusia bisa berpikir dengan runtut, teratur, canggih, dan abstrak. Lebih
lanjut, semua prestasi kolektif manusia, seperti khasanah pengetahuan keilmuan,
kemajuan peradaban, serta keadiluhungan budaya, hampir pasti tidak bisa
diwujudkan tanpa peran bahasa sebagai prasyarat utama.

Tanpa bahasa, maka tiada pula kemampuan manusia untuk meneruskan
nilai-nilai, pola-pola perilaku, dan benda-benda budaya dari satu angkatan
kepada angkatan penerusnya. Lebih dari itu, tanpa bahasa boleh jadi juga akan
jauh lebih sulit membayangkan terjadinya pengayaan budaya melalui pertukaran
antar kelompok masyarakat.

Sebegitu jauh, bahasa telah memberikan sumbangan paling pentingnya
bagi umat manusia. Namun demikian, sebagaimana diuraikan oleh Michael
Polanyi, seorang filsuf berkebangsaan Hongaria, terdapat paradoks hubungan
antara bahasa dan pengetahuan. Di satu sisi, bahasa memungkinkan manusia
untuk berbagi, mewariskan, dan mengembangkan hasil buah pemikiran, yang di
antaranya adalah pengetahuan. Di sisi lain, karena sifat dasar yang juga tak
terelakkan, ternyata bahasa juga cenderung menyederhanakan kenyataan yang
seharusnya bisa dipaparkan, dijelaskan, dan bahkan diramalkan secara apa
adanya oleh ilmu pengetahuan.

Berdasarkan tinjauan matra bahasa pula, Michael Polanyi menggolongkan
dua jenis pengetahuan manusia (Periksa Bagan 1). Menurutnya, dari kenyataan
(the whole reality) yang hampir tak terbatas, sebagian kecilnya merupaka
kenyataan yang diketahui (the known reality) manusia, sehingga melahirkan
pengetahuan (knowledge). Selanjutnya, dari khasanah pengetahuan yang
jumlahnya juga masih luar biasa, sebagian besar masih merupakan pengetahuan
tak terbahasakan (pre-articulated knowledge), sedangkan sebagian kecil di
antaranya merupakan pengetahuan terbahasakan (articulated knowledge).
Konsekuensinya, tak mungkin menarik simpulan lain, kecuali bahwa manusia
pada dasarnya mengetahui lebih banyak daripada yang bisa diucapkan (we know
more than we can say).

Apa yang sehari-hari kita bincang sebagai pengetahuan, mengacu
pemikiran Polanyi, tidak lain adalah pengetahuan yang terbahasakan. Setiap
butir dari khasanah pengetahuan manusia, semula berasal dari pengetahuan
pribadi (personal knowledge). Hanya dan hanya bila pemilik pengetahuan
mampu membahasakan pengetahuan pribadinya, maka pengetahuan jenis ini
bisa menjadi pengetahuan objektif, dalam arti bisa dibahas dan bahkan diuji oleh orang lain. Walaupun demikian, tetap saja masih begitu banyak pengetahuan manusia yang tetap tinggal menjadi pengetahuan pribadi yang tak-terbahasakan
(tacit knowledge). Pengetahuan kita tentang segala rasa, seperti pedas, manis,
masam, asin dan lain-lain, misalnya, masih saja gagal kita tingkatkan derajatnya
menjadi pengetahuan terbahasakan. Selain rasa, warna, suara dan bau juga
menjadi pengetahuan yang belum terbahasakan. Misalnya, semua warna gelap
hanya disebut ’hitam’. Padahal, terdapat bermacam-macam kualitas tentang
’gelap’. Begitu juga suara hanya disebut keras atau lembut. Volume suara pun
bermacam-macam. Tetapi yang terbahasakan hanya ada dua jenis suara, keras
dan lembut. Kata ’busuk’ mewakili berbagai macam jenis bau. Warna, suara,
rasa dan bau secara esensial tidak bisa disebut sebagai benda material.

Walhasil, di samping perannya begitu penting dalam pengembangan
pengetahuan, bahasa juga memiliki beberapa kelemahan. Pertama, karena
keterbatasan kosakata tidak semua kenyataan dapat diungkap. Akhirnya,
kenyataan yang bermacam-macam atau kompleks hanya diwakili sebuah simbol
atau kata. Wakil tentu tidak dapat merepresentasi semua yang diwakili. Pasti ada
bagian yang tidak terwakili. Kedua, bahasa memiliki sifat reduksionis terhadap
makna realitas yang sering tidak disadari oleh para pengguna bahasa.
Kenyataan yang tereduksi maknanya bisa menimbulkan kesalahpahaman. Pada
tingkatan yang lebih luas bisa menimbulkan konflik. Ketiga, kata yang ditulis
atau ungkapan yang diucapkan oleh seseorang memiliki arti tertentu. Tetapi
maksud yang sesungguhnya tidak seluruhnya selalu tampak ke permukaan.
Maksud sesungguhnya justru harus ditelusur dari hal-hal di luar bahasa, seperti
nada, bahasa tubuh (gesture) penggunanya, dan konteks yang melingkupinya.

D. Penutup
Akal (common sense) dan pancaindra telah lama menjadi bagian penting
dalam studi filsafat. Akal sebagai dasar lahirnya aliran pemikiran filsafat
rasionalisme dan pancaindra yang menghasilkan pengalaman menjadi dasar
filsafat empirisisme. Dengan argumen dari masing-masing filsuf yang
melahirkannya, kedua aliran tersebut menjadi instrumen utama untuk
memperoleh pengetahuan ilmiah. Jika rasionalisme menghasilkan jenis
pengetahuan a priori, maka empirisisme melahirkan pengetahuan a posteriori.
Jika pengetahuan yang benar menurut rasionalisme harus logis, maka
empirisisme harus objektif. Dan, jika proses pemerolehan pengetahuan dalam
rasionalisme adalah deduktif, maka empirisisme berproses secara induktif.
Diletakkan dalam dalam kontinum filsafat idealisme-realisme, maka
perpaduan antara rasionalisme dan empirisisme melahirkan dua paradigma besar
dalam penelitian, yaitu positivisme dan interpretivisme. Positivisme menjadi
akar filosofis metode penelitian kuantitatif, sedangkan interpretivisme menjadi
dasar filosofis metode penelitian kualitatif. Jika rasionalisme dasarnya adalah
logika dan empirisisme adalah kenyataan empirik, maka logis dan empirik
(logical and empirical) menjadi syarat sah ukuran pengetahuan ilmiah. Karena
itu, tidak perlu diperdebatkan mana yang lebih utama di antara keduanya. Akal
digunakan untuk mengabstraksikan dunia realitas menjadi konsep, membuat
analisis, menginterpretasikan dan memaknainya sehingga menghasilkan ilmu
pengetahuan.

Dengan bahasa, hasil analisis dan pemaknaan tersebut menjadi
pengetahuan yang terbahasakan (articulated knowledge). Bahasa hadir bukan
saja sebagai alat untuk menyampaikan informasi ilmiah, tetapi juga sarana untuk
berpikir ilmiah. Selain itu, bahasa juga dapat berfungsi sebagai lambang atau
simbol suatu pengetahuan. Pemahaman atau realitas. Sayangnya, tidak semua
pengetahuan dan realitas kehidupan ini dapat diungkap oleh bahasa. Sebab,
bahasa memiliki keterbatasan. Adalah tugas para ilmuwan untuk membahasakan
setiap pengetahuan yang diperoleh dan realitas yang diketahui.

Walhasil, tak diragukan bahwa tali temali antara akal, pengalaman dan
bahasa berperan penting dalam pencarian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Akal dan pengalaman melahirkan pengetahuan yang dilambangkan oleh bahasa
Karena itu, sehebat apa pun pengetahuan, tanpa bahasa tetap akan menjadi
pengetahuan pribadi (personal knowledge) yang tak terungkap!


Malang, 21 Februari 2021

Sakban Rosidi, The History of Modern Thought, (Malang: Center of Inter-Disiciplinary Study and Cooperation, 2002) pp. 28.

Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, (London: Routledge & Kegan Paul, 1972), pp. 115.

Ray P. Cuzzort and Edith W. King, Social Thought, (Colorado: Holt, Rinehart and Winston, 1990) pp. 287.

Ernest Cassirer, An Essay on Man, (New Haven: Yale University Press, 1944).

Michael Polanyi, The Study of Man, (Chicago: The University of Chicago Press, 1959).

Visits: 518
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *