METODOLOGI PENULISAN KARYA ILMIAH

A. Pengantar

Tak seorang pun dapat mengingkari peran penting guru dalam pendidikan. Guru yang berkualitas akan berdampak baik pada siswa, dan sebaliknya. Sebagai penyampai ilmu, guru perlu terus mengembangkan disiplin ilmunya masing-masing sesuai kebutuhan dan tuntutan zaman, baik terkait substansi keilmuan maupun metodologi pembelajaran. Selain itu, guru dituntut meningkatkan kompetensi. Karena itu, upaya peningkatan kualitas guru tidak boleh berhenti.

Menyangkut karier, berdasarkan SK Menpan No. 28/Menpan/1989 tentang kenaikan pangkat, guruwajib mengumpulkan angka kredit. Terkait kompetensi guru, Undang-Undang No.14 tahun 2005 pasal 10 ayat 1 menyebutkan kompetensi yang harus dimiliki guru meliputi: 1). kompetensi pedagogik, 2). kompetensi kepribadian, 3). kompetensi sosial, dan 4). kompetensi profesional.Salah satu upaya meningkatkan kompetensi guru ialah menyusun karya ilmiah berdasarkan penelitian.

Disadari bahwa meskipun banyak metodologi penulisan ilmiah, pada hakikatnya masing-masing metode memiliki maksud dan tujuan yang kurang lebih sama. Karena itu, dalam pembicaraan atau bahkan semacam pelatihan metode penulisan ilmiah, yang lebih penting bukan penguasaan teknik penulisan ilmiah, melainkan pemahaman atas pemikiran yang mendasarinya. Dengan ungkapan lain, pemilihan bentuk dan cara penulisan sekadar persoalan cita rasa dan kesukaan perorangan. Selebihnya, teknik penulisan itu sendiri juga dipilih berdasarkan pertimbangan tentang tradisi keilmuan bidang tertentu, permasalahan yang dikaji, serta khalayak sasaran yang diharapkan menjadi pembaca karya ilmiah dimaksud.

Bertolak dari pemikiran tersebut, maka pembahasan akan dipusatkan pada alur pemikiran penelitian ilmiah terkait dengan proses penulisan karya ilmiah. Konsekuensinya, sajian ini tidak akan menekankan kepada aspek-aspek teknik penelitian, melainkan kepada rambu-rambu pikiran yang merupakan topik pokok proses penelitian. Topik itu sendiri secara logik dan kronologik dijabarkan dari metode, proses, dan hasil penelitian atau kajian ilmiah. Jadi mudah dipahami, apabila seorang peneliti benar-benar menguasai topik-topik pokok karya ilmiah dengan baik, maka akan dengan mudah bagi dia mengembangkan aneka ragam topik pokok yang disajikan.

B. Konsep Dasar Penelitian

Penelitian ialah kegiatan ilmiah untuk memeroleh kebenaran ilmiah (bukan kebenaran absolut). Kebenaran ilmiah bersifat tentatif sehingga dianggap benar sebelum ada yang menyalahkannya. Kata “penelitian” itu sendiri merupakan terjemahan dari kata “research” dalam bahasa Inggris (re + search) yang berarti “mencari kembali”. Logikanya “sesuatu yang dicari kembali” itu sudah ada. Sesuatu yang dimaksud adalah “pola”, “dalil”, “hukum” atau “rumus” dari suatu gejala (alam, sosial, kemanusiaan) yang selanjutnya menjadi pengetahuan baru (new knowledge). Dalam bahasa Indonesia, selain diartikan “penelitian”, kata research diterjemahkan menjadi beberapa kosakata, seperti riset, penyelidikan, kajian, dan studi yang maknanya sedikit bergeser.

Diyakini bahwa semua gejala alam, sosial maupun kemanusiaan itu terjadi secara terpola. Pola tersebut ada yang bersifat “given” atau sunatullah sehingga tinggal ditemukan (to be discovered), tetapi ada pula yang masih  “terurai” atau “berserakan”, sehingga perlu dikonstruksi (to be constructed) untuk menjadi pengetahuan atas dasar data yang dikumpulkan. Lazimnya, gejala alam diteliti oleh ilmu-ilmu alam, gejala sosial oleh ilmu-ilmu sosial, dan gejala kemanusiaan oleh ilmu-ilmu humaniora. Karena itu, pengetahuan tidak saja ditemukan, tetapi juga dibuat atau dikonstruksi. “Knowledge is not only discovered, but also made/constructed). Untuk dapat menemukan atau mengkonstruksi pengetahuan diperlukan ilmu tentang bagaimana meneliti (research methodology).

C. Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah

Penelitian ilmiah pada hakikatnya merupakan perwujudan metode keilmuan bidang ilmu tertentu yang dilakukan secara sistemik dan sistematik. Sistemik artinya ada saling keterkaitan antar-unsur dalam penelitian. Sedangkan, sistematik artinya ada urutan logika antar-langkah, mulai pemilihan tema, judul, rumusan masalah, manfaat, kajian pustaka, metode penelitian, analisis data, hingga merumuskan simpulan.

Demikian juga penulisan ilmiah pada dasarnya merupakan argumentasi penalaran keilmuan yang disampaikan dengan media bahasa tulisan. Untuk itu, bagi seorang peneliti sekaligus penulis karya ilmiah, mutlak diperlukan penguasaan yang baik mengenai hakikat keilmuannya, agar dapat melaku­kan penelitian dan sekaligus mengkomunikasikannya kepada publik secara tertulis.

Seorang penulis karya ilmiah yang baik, sudah barang tentu tidak terlalu dirisaukan dengan masalah peletakan hipotesis, apakah berpasangan dengan rumusan masalah, apakah menjadi penutup dari tinjauan teoretik dan kajian penelitian terdahulu, atau malah diletakkan dalam bagian metode penelitian. Seorang peneliti dan atau penulis karya ilmiah sewajarnya mengetahui makna dan fungsi unsur hipotesis, misalnya, dalam keseluruhan bangunan penelitian dan struktur penulisan karya ilmiah. Bila demikian, tidak lagi menjadi soal dari mana dia akan mulai, serta kemana akan melangkah, sebab penguasaan topik dan teknik akan menjamin suatu ke­seluruhan bentuk yang utuh.

Persoalan menjadi lain bila peneliti atau penulis belum memiliki penguasaan memadai terhadap logika penalaran ilmiah. Apa yang segera tampak adalah kebingungan dan bahkan penerapan secara kaku bentuk dan cara penulisan karya ilmiah mereka. Ini terjadi karena seolah-olah materi pedoman penulisan karya ilmiah menyerupai ketetapan harga mati, yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Bisa diandaikan, walaupun dalam hampir semua pedoman menyertakan unsur asumsi penelitian, tetap saja tidak perlu dicantumkan manakala seluruh asumsi tersebut sudah diuji. Keberanian untuk tidak mencantumkan asumsi demikian, sudah barang tentu, dilandasi oleh penguasaan mendalam terhadap logika penalaran ilmiah. Singkat kalimat, persoalannya bukan lagi harus ada atau tidak, serta diletakkan pada bagian apa sesuatu unsur karya ilmiah, melainkan atas dasar atau bertujuan apa suatu unsur karya ilmiah harus dihadirkan.

Berkenaan dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, uraian metodologi penulisan artikel jurnal ilmiah ini akan membahas struktur dan logika penulisan ilmiah yang secara kronologik berseiring dengan proses dan hasil penelitian atau kajian. Uraian ini ditujukan kepada para penulis karya ilmiah, khususnya para penulis artikel jurnal ilmiah. Hajatnya cukup jelas, agar mereka memahami secara mendalam logika dan struktur penulisan karya ilmiah. Melalui pembahasan mendasar ini, para penulis artikel jurnal ilmiah bisa secara lebih mudah menguasai aspek-apsek teknis penulisan artikel jurnal ilmiah.

D. Paradigma dan Metodologi Kajian

Pemahaman akan kedudukan struktur artikel ilmiah semata-mata sebagai perwujudan logika penalaran ilmiahmengantarkan kita pada kesimpulan bahwa penggunaan logika penalaran ilmiah yang berbeda akan berimplikasi pada struktur artikel ilmiah yang berbeda pula. Bertali-temali dengan pernyataan tersebut, berikut diuraikan serba ringkas tiga paradigma kajian beserta langkah-langkah operasional masing-masing. Langkah-langkah operasional ini, yang pada gilirannya, menjadi acuan dalam memilih dan mengembangkan struktur artikel ilmiah yang akan disusun.

Selaras dengan tinjauan aksiologik bahwa suatu kajian bisa bertujuan: (1) menghasilkan pengetahuan teruji (to produce a verified knowledge), (2) memperoleh pemahaman mendalam (to generate a deep-understanding), atau (3) menawarkan penafsiran tandingan (to offer a counter-interpretation), maka khasanah metodologi kajian juga mengenaltiga paradigma kajian utama, yaitu: (1) paradigma positivistik (positivistic paradigm), (2) paradigma interpretif (interpretive paradigm), dan (3) paradigma refleksif (reflexive paradigm). Lazimnya, paradigma positivistik disepadankan dengan pendekatan kuantitatif (quantitative approach), paradigma interpretif disepadankan dengan pendekatan kualitatif (qualitative approach), sedangkan paradigma refleksif disepadankan dengan pendekatan kritik (critical approach).

Ada sejumlah butir pembeda antara ketiga jenis paradigma tersebut, masing-masing menyangkut perangkat cita-cita atau tujuannya, pandangan terhadap sifat dasar kenyataan, pandangan tentang sifat dasar manusia, pandagan terhadap peran akal sehat, penggambaran akan wujud teori, tolok ukur kebenaran penjelasan, bukti-bukti yang bisa digunakan, dan kedudukan nilai dalam kegiatan kajian.

Dalam kegiatan kajian, paradigma positivistik terjabar ke dalam langkah-langkah: (1) penentuan rumusan masalah (problem statement), yang meliputi kegiatan memilih masalah yang memenuhi syarat kelayakan dan kebermaknaan, (2) penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis, yang mencakup kegiatan penelaahan teori dan hasil kajian sebelumnya, (3) perumusan hipotesis, sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan, (4) pemilihan atau pengembangan rancangan kajian, (5) pengembangan piranti atau alat pengumpulan data, (6) pengumpulan atau pemerolehan data, (7) pengolahan data untuk menguji hipotesis, (8) penafsiran hasil kajian, dan (9) penarikan kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data, (10) penyatu-paduan hasil kajian ke dalam bangunan pengetahuan sebelumnya, serta saran bagi kajian berikutnya.

Bila kajian tidak bermaksud menghasilkan pengetahuan eksplanatori, maka langkah-langkah yang terkait dengan pengajuan dan pengujian hipotesis tidak diperlukan. Dalam kajian yang tidak menguji hipotesis, kajian teori dan telaah hasil kajian terdahulu diperlukan untuk memperjelas dan menjabarkan konsep atau variabel yang diteliti, serta memberikan gambaran “sudah sejauh mana” kajian dalam topik tersebut telah dikaji oleh para peneliti lain.

Apa pun jenis bahan yang dikaji, kegiatan kajian berparadigma positivistik harus memenuhi kriteria: (1) kesahihan (validity), (2) keandalan (reliability), (3) objektivitas (objectivity), dan (4) kerampatan (generality). Kesahihan membuktikan bahwa apa yang dikumpulkan oleh peneliti memang sesuai dengan apa yang sesungguhnya hendak dikumpulkan. Keandalan membuktikan bahwa bila kapan dan oleh siapa pun data dikumpulkan, akan memberikan hasil yang kurang lebih sama. Objektivitas membuktikan tidak ada pengaruh pribadi peneliti terhadap hasil penelitian. Kerampatan membuktikan bahwa simpulan kajiannya bisa diberlakukan secara umum.

Dalam kegiatan kajian, paradigma interpretif dijabarkan ke dalam langkah-langkah: (1) penentuan rumpun kajian (focus of study), yang mencakup kegiatan memilih masalah yang memenuhi syarat kelayakan dan kebermaknaan, (2) pengembangan kepekaan teoretik dengan menelaah bahan pustaka yang relevan dan hasil kajian sebelumnya, (3) penentuan kasus atau bahan telaah, yang meliputi kegiatan memilih dari mana dan dari siapa data diperoleh, (4) pengembangan protokol pemerolehan dan pengolahan data, yang mencakup kegiatan menetapkan piranti, langkah dan teknik pemerolehan dan pengolahan data yang digunakan, (5) pelaksanaan kegiatan pemerolehan data, yang terdiri atas kegiatan mengumpulkan data lapangan atau melakukan pembacaan naskah yang dikaji, (6) pengolahan data perolehan, yang meliputi kegiatan penyandian (coding), pengkategorian (categorizing), pembandingan (comparing), dan pembahasan (discussing), (7) negosiasi hasil kajian dengan subjek kajian, dan (8) perumusan simpulan kajian, yang meliputi kegiatan penafsiran dan penyatu-paduan (interpreting and integrating) temuan ke dalam bangunan pengetahuan sebelumnya, serta saran bagi kajian berikutnya.

Karena sifat dasar bahan yang dikaji serta tujuan yang ingin dicapai, bisa saja langkah-langkah tersebut diubah menurut dinamika lapangan. Fokus kajian, misalnya, mungkin mengalami penajaman dan perumusan ulang setelah peneliti melakukan penjajakan lapangan. Tentu saja, penajaman ulang perlu dilakukan berdasarkan ketersediaan data, serta dimaksudkan untuk meningkatkan kebermaknaan kajian.

Terakhir, setiap kajian berparadigma interpretif harus memenuhi kriteria: (1)  keterpercayaan (credibility), (2) kebergantungan (dependability), dan (3) kepastian  (confirmability), dan (4) keteralihan (transferability). Keterpercayaan membuktikan bahwa data perolehan dan simpulan kajian benar-benar dapat dipercaya. Kebergantungan membuktikan bahwa temuan dan simpulan kajian benar-benar bersandar pada data mentah. Kepastian membuktikan bahwa kebenaran temuan dan simpulan kajian bisa dilacak berdasarkan data perolehan. Sedangkan keteralihan membuktikan bahwa temuan dan simpulan penelitian bisa diberlakukan pada kasus lain yang memiliki ciri-ciri sama dengan kasus yang dikaji.

Dalam kegiatan kajian, paradigma refleksif terjabar ke dalam langkah-langkah: (1) penentuan topik kajian, yang mencakup kegiatan memilih dan merumuskan masalah yang bernilai bagi pembangkitan kesadaran manusia, (2) penetapan pendirian filsafat dan atau ideologik, yang meliputi kegiatan penelaahan pemikiran-pemikiran yang relevan, dan perumusan secara eksplisit pokok-pokok pikiran yang digunakan sebagai landasan pengajuan kritik, (3) pemilihan kasus atau bahan telaah, dengan menentukan dari mana dan dari siapa data diperoleh, (4) pengembangan strategi pemerolehan dan pengolahan data, yang terdiri atas kegiatan menetapkan piranti data, langkah dan teknik yang digunakan, (5) pelaksanaan kegiatan pemerolehan data, yang mencakup kegiatan mengumpulkan data atau melakukan pembacaan naskah yang dikaji, (6) pengolahan data perolehan, yang meliputi kegiatan penyandian (coding), pengkategorian (categorizing), pembandingan (contrasting), dan pembahasan (discussing), (7) perumusan simpulan kajian, yang dilakukan berdasarkan perenungan (reflexive thinking), dan (8) pengajuan rekomendasi baik untuk arah kajian lanjutan maupun agenda pemberdayaan (empowerment agenda) ke depan.

Seperti jenis kajian lain, kajian berparadigma refleksif juga dituntut untuk memenuhi kriteria keterpercayaan, kebergantungan, kepastian, dan keteralihan. Selain itu, karena cita-cita utamanya adalah membangkitkan kesadaran menuju perubahan, maka penafsiran tandingan (counter-interpretation) yang disajikan pun harus memenuhi kriteria kelayakan sebagai penafsiran tandingan. Ini mencakup kriteria relevansi (relevance), koherensi (coherence), kekritisan (criticalness), dan kebernalaran (reasonableness). Relevansi membuktikan bahwa baik topik maupun pendirian ideologik yang dipilih memiliki keterkaitan erat dengan tantangan atau masalah kemanusiaan. Koherensi membuktikan bahwa seluruh bangunan penafsiran yang ditawarkan tidak saling bertentangan. Kekritisan membuktikan bahwa penelaahan berhasil membongkar suatu wacana hingga ke akarnya. Kebernalaran  membuktikan bahwa penafsiran tandingan yang diajukan memiliki landasan penalaran yang kokoh.

E. Garis Besar Penyajian

Bila dicermati, sejumlah langkah kerja tersebut sebenarnya belum lengkap, sebab masih ada satu kegiatan lagi yang justru merupakan puncak dari kegiatan kajian. Puncak kegiatan yang dimaksud adalah menulis laporan kajian, termasuk di dalamnya menulis dan menerbitkan artikel jurnal ilmiah. Dengan menulis laporan, makalah atau artikel penelitian, pengkaji bermaksud menginformasikan kepada khalayak, sehingga memberikan sumbangan bagi pengayaan khasanah pengetahuan keilmuan.

Sesuai dengan kaidah ketersuratan (explicitness), maka setiap laporan kajian sekurang-kurangnya harus bisa menjawab pertanyaan: (1) mengapa suatu masalah perlu diteliti, (2) apa masalah dan tujuan kajiannya, (3) bagaimana masalah tersebut didekati secara teoretik, (4) bagaimana kajian diselenggarakan, (5) apa saja hasil kajian dan analisisnya, (6) apa makna hasil dan temuan kajiannya, dan (7) apa simpulan dan implikasinya?

Lazimnya, butir persoalan pertama dan kedua, termasuk aspek-aspek terkaitnya, disajikan dalam bagian pendahuluan (introduction). Butir kedua disajikan dalam bagian tinjauan teoretik dan kajian terdahulu (theoretical framework and review of related studies). Butir ketiga disajikan dalam bagian proses kajian (research process) atau metode kajian (research method). Butir kelima disajikan dalam bagian paparan dan analisis data (data description and analysis) atau paparan hasil kajian (description of research findings). Butir keenam disajikan dalam bagian pembahasan (discussion) atau penafsiran (interpretation). Sedangkan butir ketujuh disajikan dalam bagian simpulan dan saran (conclusion and recommendation).

Walaupun ada sejumlah besar kesamaan inti laporan penelitian, tetap harus diperhatikan adanya sejumlah perbedaan, baik karena sifat dasar bahan telaah maupun karena rincian langkah kerjanya. Jadi, karena perbedaan sifat dasar, dan langkah-langkah kerja penelitian bahasa dan kajian sastra, maka bentuk pelaporannya pun cenderung berbeda.

Sebagaimana telah disinggung, hasil kajian yang ditulis dalam bentuk artikel yang akan dimuat dalam jurnal ilmiah memiliki perbedaan dengan laporan penelitian. Laporan penelitian dituntut untuk memuat seluruh proses dan hasil penelitian, sehingga jauh lebih tebal bila dibandingkan dengan artikel ilmiah.Sebaliknya, hasil penelitian yang disajikan dalam bentuk artikel ilmiah, karena keterbatasan ruangnya, dituntut untuk hanya menyajikan bagian-bagian yang penting saja.

F. Muatan dan Susuan Karya Ilmiah

Konvensi yang secara umum berlaku atau diberlakukan oleh jurnal ilmiah menunjukkan beberapa unsur utama dalam artikel ilmiah. Masing-masing adalah: (1)bagian awal yang terdiri dari judul,  nama penulis, sponsor, abstrak, dan kata kunci, (2) bagian inti yang terdiri daribagian pendahuluan, metode, hasil, diskusi, kesimpulan dan implikasi, dan (3) bagian akhir yang memuat rujukan dan lampiran bilamana sangat diperlukan.

Judul artikel harus cukup informatif, lengkap, tetapi tidak terlalu panjang. Biasanya dianjurkan antara 5 – 15 kata. Acapkali penambahan sub-judul dilakukan untuk mempertegas perpektif, lokasi dan atau subjek penelitian. Berikut adalah contoh judul artikel jurnal ilmiah informatif dan lengkap, tetapi tidak terlalu panjang atau terlalu pendek: “Evaluating the Quality of an Elementary School inRural Thailand:Villagers’ Perspective”.

Gelar akademik ataupun gelar lain tidak dicantumkan dalam nama penulis, sedangkan nama lembaga tempak penulis berafiliasi, ditulis dalam bentuk catatan kaki pada halaman pertama. Beberapa jurnal ilmiah, dengan pertimbangan kesetaraan kontribusi, membolehkan pencantuman lebih dari dua nama, sedangkan jurnal ilmiah lainnya, hanya membolehkan pencatuman maksimal dua nama penulis. Bila artikel ditulis lebih dari dua orang, maka nama penulis lainnya dicantumkan sebagai catatan kaki.

Seringkali suatu penelitian mendapatkan sponsor dari pemerintah atau lembaga donatur. Untuk itu, penulis harus mencantumkannya sebagai catatan kaki pada halaman pertama. Lazimnya, nama sponsor diletakkan mendahului nama lembaga asal penulis.

Abstrak merupakan uraian satu paragraf, dan lazimnya berbahasa Inggris, berisi pokok-pokok pikiran penting dari kajian yang diselenggarakan, yaitu: permasalahan atau tujuan penenelitian, prosedur dan subjek penelitian, dan ringkasan hasil, kesimpulan penelitian, dan implikasi teoretik. Kata kunci, biasanya diletakkan di bawah abstrak, memuat beberapa istilah yang menggambarkan kawasan atau bidang penelitian.

Walaupun masih ada beberapa jurnal ilmiah yang membolehkan penggunaan sub-judul “Pendahuluan”, sebagian besar jurnal ilmiah terkemuka meminta penulis langsung menyajikannya setelah abstrak. Bagian tanpa sub-judul ini memuat: latar belakang atau alasan penelitian, permasalahan dan kadang-kadang kebermaknaan penelitian. Bila penyajian telaah pustaka tidak dikehendaki menempati ruang tersendiri, maka bentuk sangat ringkas dari telaah pustaka dan kerangka berpikir disatukan dalam latar belakang penelitian.

Bagian metode, yang biasanya disajikan dengan sub-judul, menguraikan seara ringkas cara dan proses penelitian. Beberapa jurnal ilmiah memberi peluang untuk menggunakan sub-bagian, sedangkan jurnal ilmiah lainnya, lebih menghendaki tanpa sub-bagian.Rancangan penelitian, subjek penelitian atau sumber dara, metode dan alat pengumpulan data, serta metode analisis data merupakan inti uraian dalam bagian metode.Sesuai dengan karakteristiknya, pada penelitian kualitatif juga menyertakan pengaruh kehadiran peneliti, lokasi penelitian, lama penelitian, dan upaya meningkatkan keabsahan data.

Bagian hasil merupakan bagian utama artikel ilmiah. Karena itu, lazimnya bagian ini merupakan bagian terpanjang dalam naskah. Pada intinya, bagian ini berisi paparan data dan hasil analisis data, baik untuk keperluan uji hipotesia maupun bukan. Tabel dan bagan yang sangat membantu kejelasan uraian bisa pula disertakan, tetapi harus dalam bentuk sangat ringkas dan disertai pembahasan akan arti tabel atau bagan tersebut.

Bila hasil penelitian sangat panjang, seperti dalam penelitian kualitatif, penyajian bisa dilakukan dengan memilahnya menjadi sub-bagian-sub-bagian sesuai dengan penjabaran masalah penelitian. Bila tidak cukup panjang, penyajian bagian ini bisa disajikan dengan diskusi.

Sebagai bagian terpenting, bagian diskusi diuraikan untuk: (1) menjawab masalah penelitian, (2) menafsirkan temuan-temuan, (3) mengintegrasikan temuan penelitian ke dalam bangunan pengetahuan yang sudah ada, dan (4) menyusun teori baru atau menyempurnakan teori yang ada.

Penafsiran terhadap temuan dilakukan dengan menggunakan pendekatan logis-deduktif, atau berdasarkan teori-teori yang ada. Proses pengintegrasian temuan dilakukan dengan membandingkannya dengan teori yang sudah ada atau temuan-temuan penelitian lain. Khusus untuk penelitian interpretif, bagian ini memuat gagasan-gagasan teorisasi peneliti, yang pada dasarnya merupakan penelusuran tali-temali antar kategori atau label yang berhasil ditemukan.

Bagian kesimpulan menyajikan secara ringkas jawaban terhadap permasalahan dan makna teoretiknya. Lebih dikehendaki bila kesimpulan tidak lagi menampilkan angka, contoh, dan rujukan, melainkan dalam bentuk pernyatan verbal.

Berdasarkan seluruh langkah, bisa ditarik implikasi teoretik dari penelitian yang dilakukan. Implikasi teoretik ini bisa bersifat meneguhkan teori yang sudah ada, menolak teori yang sudah ada, merevisi teori yang sudah ada, atau menghaluskan teori yang sudah ada. Dari implikasi teoretik ini pula penulis bisa mengajukan saran penelitian lanjutan serta saran  pemanfaatan hasil penelitian.

Daftar rujukan harus lengkap dan sesuai dengan dirujuk dalam batang tubuh artikel ilmiah. Bahan pustaka yang ada dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam batang tubuh artikel. Sebaliknya, semua kutipan langsung maupun tak langsung dalam batang tubuh harus disajikan dalam daftar rujukan.

G. Bahasa dalam Penulisan Ilmiah

Tidak kalah pentingya dari uraian di atas ialah bahasa. Dalam penulisan ilmiah, bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa ilmiah atau bahasa baku. Jika menggunakan bahasa Indonesia, pakailah bahasa Indonesia ragam baku, baik dalam penulisan ejaan kata maupun penyusunan kalimat. Begitu juga jika menggunakan bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahsaa Arab, atau bahasa asing lainnya, pilihlah kosakata dan aturan baku dalam bahasa tersebut. Penggunaan ragam baku menuntut kalimat yang baku dan efektif, serta organisasi ide yang runtut dan logis. Karena penelitian adalah kegiatan untuk memeroleh jawaban ilmiah atas persoalan yang diangkat, bukan jawaban absolut,  penggunaan kata atau kalimat yang bersifat absolut perlu dihindari. Sebab, kesalahan  bahasa bisa merusak ide tulisan. OLeh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut:

  1. Hindari kesalahan penulisan kata depan atau kata sambung “di”, “ke, dan “ter” dalam kalimat. Misalnya, “dirumah”, seharusnya “di rumah”, “kepasar”, seharusnya “ke pasar”,  “ter jatuh”, seharusnya “terjatuh”, dan sebagainya.
  2. Hindari mengawali kalimat dengan kata “sehingga”, dan “dan”, seperti “Sehingga dia tidak lukus ujian” dan “Dan dia tidak mengerti apa persoalannya”. 
  3. Hindari penggunaan pernyataan yang bersifat absolut sebagai berikut:
    • “Penelitian saya ini paling baru, dan belum ada orang lain yang melakukannya”, dapat diubah menjadi:“Penelitian saya ini dapat menyempurnakan penelitian-penelitian sebelumnya”.
    • “PTK adalah satu-satunya cara untuk mengatasi persoalan guru dalam mengajar di kelas”, dapat diubah menjadi “PTK merupakan salah satu cara untuk mengatasi persoalan guru dalam mengajar di kelas”.
    • “Pandemi Covid-19 pasti menyebabkan kualitas pendidikan menurun”, dapat diubah menjadi: “Pandemi Covid-19 bisa menjadi salah satu sebab menurunnya kualitas pendidikan”.
    • “Makanya saya sampaikan kepada Bapak Jokowi (presiden). Mas Jokowi, Bapak Presiden, Bapak itu pasti masuk surge. Tidak usah lagi Bapak itu beramal ibadah”, (kata Isran Noor, dikutip dari Kompas, Kamis, 8/4/2021).  
  4. Hindari sikap “solipsisme”. Solipsisme ialah sikap meyakini hanya karyanya yang paling benar, dan yang lain salah. Misalnya “Karya saya adalah satu-satunya yang terbaik dalam bidang ini”. Dalam dunia ilmiah, sikap solipsisme harus dihindari, karena tidak etis. Sebab, seseorang secara moral tidak bisa mengklaim dirinya paling benar dan yang lain salah. Ilmu pengetahuan terbentuk dari kumpulan pengetahuan orang lain sebelumnya, baik yang benar maupun salah. “Knowledge is a collection of previous knowledge”.
  5. Hindari sikap ragu-ragu. Misalnya pernyataan “Demikian kira-kira hasil penelitian yang saya temukan”, dapat diubah dengan kalimat lugas “Demikian hasil penelitian yang dapat saya temukan”.
  6. Hindari istilah asing jika sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Misalnya, “Background pendidikan saya adalah madrasah”, dapat diubah menjadi “Latar belakang pendidikan saya adalah madrasah”.
  7. Hindari kalimat dengan subjek yang tidak jelas. Misalnya:
    1. “Bagi siswa yang ingin pulang awal diminta melaporkan diri”, dapat diubah menjadi “Siswa yang ingin pulang awal diminta melaporkan diri”.
    2. “Dalam situasi demikian, akan merusak tatanan sosial”, dapat diubah menjadi “Situasi demikian akan merusak tatanan sosial”, atau “Dalam situasi demikian, orang yang melanggar aturan akan merusak tatanan sosial”.      
  8. Hindari kalimat dengan kata sambung ganda. Misalnya, ‘Karena sakit, maka dia tidak masuk sekolah”, bisa diganti “Karena sakit, dia tidak masuk sekolah”.
  9. Hindari pernyataan amfiboli (amphibolia), yakni konstruksi kalimat yang maknanya bercabang. Misalnya:
    1. “Istri mudanya lebih tua dari istri tuanya”.
    2. ‘Belok kiri jalan terus”.
  10. Hindari logical fallacy (sesat pikir) atas dasar argumentum ad populum, yaitu merasa melakukan sesuatu yang benar karena banyak orang melakukannya. Misalnya, “Saya memilih metode penelitian ini karena banyak orang lain menggunakannya juga”.
  11. Hindari pernyataan dengan membuat generalisasi berlebihan (overgeneralization). Misalnya “Anak-anak SMP sekarang sudah kecanduan narkoba. Buktinya, itu anak tetangga saya yang masih di SMP”.             

H. Penutup

Menulis karya ilmiah baik dalam bentuk makalah atau artikel yang akan dimuat di jurnal ilmiah maupun buku bukan semata persoalan memahami langkah-langkah menyusun karya ilmiah, melainkan pemahaman atas pemikiran yang mendasarinya. Dengan ungkapan lain, pemilihan bentuk dan cara penulisan sekadar persoalan cita rasa dan kesukaan perorangan. Selebihnya, teknik penulisan itu sendiri juga dipilih berdasarkan pertimbangan tentang tradisi keilmuan bidang tertentu, permasalahan yang dikaji, serta khalayak sasaran yang diharapkan menjadi pembaca karya ilmiah dimaksud.

_________

Visits: 438
Today: 3

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *