PERTARUNGAN ANTARA LOGOS DAN MITOS DAN URGENSINYA BAGI PENELITIAN

Dalam sejarah filsafat Barat sudah lama terjadi diskusi menarik mengenai kisah pertarungan dua kekuatan besar peradaban manusia, yaitu antara logos dan mitos. Dalam pertarungan tentu saja masing-masing pihak ingin menjadi pemenang dan menancapkan pengaruhnya di pihak yang lain. Pemenang akan mengontrol dan menguasai pihak yang kalah, dengan berbagai cara, mulai yang kasar hingga yang halus. Dengan cara yang halus, Antonio Gramsci menyebutnya sebagai “hegemony” dan cara yang kasar disebut “coercion”. Dengan kekuatannya, sang pemenang akan menghegemoni pihak yang kalah. Bahasa adalah satu instrumen sangat efektif untuk melakukan hegemoni. Pemilihan kosakata yang tepat bisa membuat seseorang tidak merasa dirinya sedang dihegemoni orang lain, sehingga menuruti kemauan orang tersebut.          

Kapan waktu tepatnya pertarungan antara mitos dan logos dimulai tidak diketahui secara pasti. Orang hanya mengatakan sejak zaman Yunani Kuno. Yang diketahui justru akhir dari pertarungan di mana logos tampil sebagai pemenang. Logos mewakili rasionalitas. Rasio merupakan kekuatan sangat dahsyat yang melahirkan pikiran dan penalaran. F. Budi Hardiman (1994) menyebut logos tampil dalam baju sains. Dalam perjalanannya sains berkembang sangat pesat dan melahirkan teknologi. Melalui kemenangannya atas mitos, logos pelan-pelan menyingkirkan hal-hal irasional dan berbau mistik yang dianggap mengganggu kemajuan peradaban manusia. Kemenangan logos juga meneguhkan pandangan bahwa penelitian merupakan satu-satunya cara yang paling syah untuk memperoleh kebenaran ilmiah. Tanpa penelitian, mitos akan terus dianggap sebagai kebenaran.           

Sains dan teknologi terbukti menjadi penguasa baru dalam kehidupan manusia. Dengan sains dan teknologi, manusia mampu mengubah bumi menjadi dunia yang menarik bagi penghuninya. Dunia adalah planet sosial yang bukan sekadar tempat berkumpulnya objek atau benda secara empirikal, melainkan fakta-fakta. Menurut Wittgenstein (dalam Kaelan, 2004: 10) fakta menunjukkan “the existence of affairs”, yaitu adanya keberadaan suatu peristiwa yang selanjutnya dilukiskan dalam bahasa. Keberadaan fakta-fakta membuat dunia menjadi tempat pertarungan berbagai kepentingan. Berbagai konflik tidak lain adalah pertarungan dan perebutan fakta-fakta duniawi yang tampak menarik.              

Kemenangan logos atas mitos berpengaruh besar terhadap prinsip penalaran dan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Calne (dalam Cecep Sumarna, 2005: 81), pengaruh aliran ini baik secara langsung maupun tidak, telah melahirkan pengetahuan yang membuat manusia modern dapat terbang keliling dunia dalam waktu kurang dari dua hari. Penalaran bahkan telah menyumbang kepada umat manusia bagaimana mereka harus membuat keputusan. Meski nalar saat ini sudah dianggap melampaui batas kewenangannya—sebagai suatu kuasa yang mandiri, eksternal dan tertinggi, penalaran telah berdiri menjadi dewa yang Maha Kuasa — namun dia juga mampu memberi kearifan dan kebaikan. Penalaran telah berhasil membongkar sesuatu yang tersembunyi untuk menjadi pengetahuan dan mengganti mitos dan dongeng yang lucu-lucu dan malah membuat daya kritis melemah.

Mitologi bukan hanya terjadi dalam cerita-cerita atau dongeng di masyarakat, tetapi juga masuk di ranah pengetahuan. Sebagai contoh, studi tentang asal usul bahasa juga tidak lepas dari mitos. Misalnya, dikatakan bahwa bahasa terbentuk akibat suara alam, suara binatang di hutan, pemberian  dewa dan lain-lain. Ada teori “bow-wow” (bunyi nyalak anjing), teori “ding-dong” yang mencoba mencari hubungan mistik antara bunyi dan makna, dan teori “pooh-pooh” yang berpendapat bahwa asal mula bahasa asli manusia dari dorongan dan ungkapan emosi. Semuanya tanpa ada bukti karena berangkat dari hal-hal yang samar. Wajar spekulasi tersebut memperoleh banyak bantahan. Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih masuk akal tentang asal usul bahasa (Bambang Yudi Cahyono, 1995:  5). Walau hingga saat ini pengetahuan mengenai asal usul bahasa masih tetap samar, studi bahasa telah dilakukan secara ilmiah, terutama setelah Ferdinand de Saussure pada tahun 1916 melahirkan gagasan aliran linguistik struktural.  Aliran ini dianggap sebagai peletak dasar linguistik modern dan studi bahasa bisa dilakukan secara ilmiah.  Karya Saussure membuktikan rasionalitas mampu membongkar kenyataan yang masih remang-remang menjadi jelas dan dapat diterima nalar.     

Dalam perspektif Islam, keberhasilan manusia membangun dunia menjadi berkemajuan berarti telah menjala nkan perannya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Kekhalifahan itu bisa dilihat dari kemajuan peradaban manusia, mulai era primitif hingga super modern saat ini. Dengan sains manusia dapat menikmati kehidupan dengan mengubah kondisi dan keadaan bumi serta lingkungan sekitarnya untuk disesuaikan dengan kebutuhannya. Berbeda dengan makhluk hewan yang tidak punya logos, mereka hidup dengan menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungannya. Tetapi kehebatan sains ternyata melahirkan mitos baru, yang disebut “saintisme”, yakni sebuah kepercayaan yang menganggap metode ilmiah dapat diterapkan untuk segala macam urusan dan menyingkirkan metode apa pun di luar cara ilmiah.

Saintisme bukan agnostisisme. Istilah agnostisisme dicetuskan oleh Protagoras (filsuf Yunani pada abad ke-5 SM) yang berarti sebuah pandangan di mana seseorang tidak bisa berpikir tentang ada atau tidak adanya Tuhan. Ada dan tidak adanya Tuhan adalah suatu yang tidak dapat diketahui karena Tuhan  itu bersifat abstrak, dan karena itu tidak mungkin dapat dibuktikan secara empirik.  Agnostik sendiri berarti tanpa pengetahuan. Alasan agnostisisme ialah pemikiran manusia tidak dapat memberikan landasan yang kuat untuk membenarkan keyakinan bahwa Tuhan itu ada atau tidak ada. Lebih lanjut agnostisisme beranggapan bahwa seseorang tidak bisa mengatakan bahwa dia mengetahui sesuatu yang dia sendiri tidak mengetahuinya, dan apalagi dia tidak mengerti mengapa dia tidak mengetahuinya. Seorang agnostic tidak dapat menerima doktrin agama. Menariknya, penganut agnostsisme tidak menolak, tetapi tidak begitu saja percaya Tuhan.            

Saintisme yang lebih bersifat positivistik menjanjikan kehidupan yang jauh lebih baik dibanding kehidupan sebelumnya. Tetapi saintisme gagal memenuhi janjinya.  Dunia yang dia janjikan tidak terwujud. Bahkan menurut Adorno dan Horkheimer, sebagaimana dikutip F. Budi Hardiman (1994) dua Perang Dunia merupakan produk saintisme. Bukan hanya Perang Dunia, Revolusi Industri yang terjadi pada tahun 1750-1850 juga produk saintisme — yang juga terbukti gagal menyejahterakan manusia secara hakiki. Karena itu, para filsuf ilmu sosial memberi tawaran baru dengan menawarkan teori-teori sosial kontemporer untuk menyelesaikan persoalan kehidupan seperti fenomenologi, hermeneutika, teori kritis, filsafat analitik dalam studi bahasa, dan sebagainya. Teori-teori tersebut dianggap mampu menandingi saintisme dengan mengandalkan kemampuan rasio manusia.

Sebagai contoh, hermeneutika sebagai aliran pemikiran dalam filsafat dan sekaligus metode penafsiran teks memberi ruang begitu luas kepada penafsir untuk melakukan penziarahan makna teks. Dengan mengandalkan kekuatan rasio, para hermeneut bisa menafsir dan memaknai teks jauh lebih luas daripada makna yang dibuat oleh penulis teks sekali pun. “The author is dead” adalah ungkapan Roland Barthes, seorang kritikus sastra Perancis, yang sering kali digunakan para ahli hermeneutika sebagai dasar untuk menafsirkan teks. Secara ringkas, konsep tersebut dapat diartikan bahwa penulis teks bukan satu-satu pihak yang dapat menentukan makna teks. Pembaca teks merupakan pihak lain yang juga ikut menentukan makna teks. “An author’s intentions should hold no special weight in determining an interpretation of his/her writing”. Bahkan menurut Recoeur, sebuah teks tidak berakhir dengan pembacaan. Sebuah teks justru akan melahirkan teks baru setelah dibaca. Bisa saja teks baru yang dimaksud itu dalam bentuk lisan atau sudah ditulis, tetapi juga yang masih dalam imajinasi pembaca yang disebut sebagai “an imagined text”, yakni teks yang masih dalam benak seorang pembaca.        

Makna lebih jauh dari ungkapan Barthes ialah teks yang sudah dilempar di ruang publik sudah bukan milik penulisnya lagi. Ibaratnya penulisnya telah tiada, sehingga menjadi milik publik. Dengan demikian, publik dapat menafsirkannya dan memberi makna dengan leluasa, bahkan dapat melampaui makna yang dimaksud sang pengarang teks. Ungkapan Barthes tidak terbatas hanya pada teks tulis, tetapi juga lisan. Dengan demikian, ucapan yang sudah keluar dari lidah sudah bukan lagi milik pengucapnya. Dia sudah menjadi milik pendengar yang dapat dengan leluasa memberi pemaknaan. Karena itu, berhati-hati dengan kata yang diucapkan. Manusia dapat menguasai dan menaklukkan semua binatang buas. Tetapi tak satu pun orang sanggup menaklukkan lidah. Orang bisa saja menyadari dan kemudian meminta maaf atas kesalahan kata atau kalimat yang diucapkan. Tetapi permintaan maaf tidak serta merta menghapus makna ucapan. Makna tidak seperti kata atau kalimat yang bisa dihapus. Makna senantiasa akan tetap ada hingga suatu saat terlupakan. Tetapi terlupakan bukan berarti terhapus.     

Kembali ke logos dan mitos. Mitos memang menjadi pihak yang terkalahkan. Tetapi tidak berarti dapat dihapuskan dari kehidupan manusia. Terbukti bahwa para filsuf Yunani kenamaan pra-Sokratik, seperti Thales, Xenophanes, Herakleitos, Pythagoras, dan Parmenides adalah para genius yang memperkenalkan cara berpikir melawan mitos. Namun demikian, mereka tidak seratus persen meninggalkan mitos. Misalnya, Permenides yang masyhur sebagai perintis metafisika yang kemudian dikembangkan oleh filsuf agung seperti Plato dan Socrates berfilsafat dengan bernafaskan agama misteri. Sampai Permendines membuat simpulan dengan ungkapan terkenal bahwa “yang Ada itu ada, dan yang Tidak Ada tidak mungkin ada” (F. Budi Hardiman, 1994: 3). Sampai saat ini kita masih dapat menyaksikan mitos masih melekat dan tumbuh di masyarakat, tak terkecuali masyarakat Indonesia.  

Sebagai pemenang, logos menggunakan pendekatan ala ilmu-ilmu alam (sains) dengan basis empirik-logik. Sedangkan mitos sebagai pihak yang kalah menggunakan pendekatan spekulatif tanpa bukti empirik. Kemenangan logos tidak hanya menjadikan penalaran sebagai cara berpikir baru yang melahirkan masyarakat modern berbasis sains, tetapi juga terjadinya demitologisasi kekuasaan dalam praktik politik. Demokratisasi adalah buah manis kemenangan logos yang saat ini dipilih oleh sebagian besar masyarakat dunia. Dampaknya, negara atau bangsa yang tidak menganut sistem demokrasi akan terkucil dari pergaulan dunia.

Saat ini semua orang mendambakan demokrasi dalam semua hal. Kejatuhan Orde Baru yang kemudian berganti menjadi era reformasi juga atas dasar seruan demokrasi. Masyarakat telah muak dengan sistem otoritarianisme di bawah Orde Lama selama 32 tahun dan menginginkan kehidupan yang lebih demokratis sebagai pilihan. Demokrasi dianggap sebagai sistem politik terbaik dan dianggap dapat menyelesaikan berbagai permasalahan karena semua orang memiliki hak yang sama di mata negara. Karena itu, perusak demokrasi sama sekali tidak memahami hasil perjuangan logos mengalahkan mitos.    Pertanyaannya ialah akankah demokratisasi menjadi mitos baru, sebagaimana sains menjadi saintisme? Bukankah sains menjadi saistisme ketika sains dianggap sebagai satu-satunya cara menyelesaikan semua persoalan dan menafikkan semua cara di luar sains? Jawabnya tidak sekarang. Kita semua akan menjadi saksi dan bahkan mungkin pelaku pengembangan peradaban manusia yang terus berjalan!

________

Surabaya, 22 Maret 2021           

Daftar Pustaka

Bambang Yudi Cahyono. 1995. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Airlangga University Press.   

Cecep Sumarna. 2005. Rekonstruksi Ilmu. Dari Empirik-Rasional Ateistik ke Empirik-Rasional Teistik. Bandung: Benang Merah Press.     

F. Budi Hardiman, 1994. “Ilmu-Ilmu Sosial dalam Diskursus Modern dan Pasca-Modernisme”, dalam Ulumul Qur’an, Jurnal Ilmu dan Kebuadyaan. Nomor 1, Vol. V, Th. 1994.  

Aholiab Watloly. 2001. Tanggung Jawab Pengetahuan. Mempertimbangkan Epistemologi secara Kultural. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Visits: 191051
Today: 4

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *