Polemik Pengukuhan Megawati

Hari-hari ini publik akademik diramaikan oleh pemberitaan pengukuhan Megawati Soekarnoputri sebagai guru besar atau profesor tidak tetap di Universitas Pertahanan RI, Jum’at, 11 Juni 2021. Megawati dikukuhkan sebagai guru besar “Ilmu Pertahanan Bidang Kepemimpinan Strategik”.  Sebagaimana lazimnya, seseorang yang dikukuhkan sebagai guru besar menyampaikan pidato pengukuhan di hadapan senat dan sivitas akademika universitas atau perguruan tinggi yang mengukuhkannya mengenai pokok-pokok pikiran di bidang keahliannya. Dari pidatonya, seorang akan diketahui atau dikenal kepakarannya dalam bidang ilmu tertentu. Misalnya, ahli bidang ilmu pendidikan, hukum, sejarah, sains, politik  dan lain. Dalam pengukuhannya, Megawati menyampaikan pidato berjudul “Kepemimpinan Presiden Megawati pada Era Krisis Multidimensi 2001-2004”. Di bawahnya ada judul dalam bahasa Inggris “The Leadership of President Megawati in the Era of Multidimensional Crisis, 2001-2004”.  

Upacara pengukuhan bukan persyaratan seseorang untuk menyandang jabatan guru besar atau profesor. Malah setahu saya di beberapa perguruan tinggi pengukuhan tidak wajib.  Sebenarnya begitu menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan jabatan guru besar, seseorang sudah berhak menyandang jabatan guru besar atau profesor di depan namanya yang lazimnya disingkat ‘Prof’., tanpa harus menunggu pengukuhan. Secara akademik, pengukuhan hanya bersifat seremonial, layaknya wisuda. Namun demikian, ada perguruan tinggi yang mewajibkan pengukuhan bagi profesor baru, terutama yang jumlah guru besarnya masih sedikit atau belum ada sama sekali. Pengukuhan dimaksudkan sebagai ajang mengenalkan kepakaran sang guru besar di masyarakat, sekaligus media promosi bagi perguruan tinggi yang bersangkutan karena memilki pakar baru di bidang ilmu tertentu.  

Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan pengukuhan guru besar Megawati Soekarnoputri. Sebelumnya, Megawati telah memeroleh gelar doktor kehormatan (Dr. Hc) dari beberapa perguruan tinggi, sehinga secara akademik bisa digurubesarkan. Beberapa tokoh nasional juga telah memeroleh hal yang sama, seperti mantan Presiden SBY menjadi Guru Besar bidang Ilmu Ketahanan Nasional, mantan Kepala BIN Hendropriyono bidang Ilmu Filsafat Intelijen, Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin bidang Ilmu Ekonomi Syariah, Kepala BIN Budi Gunawan bidang Intelijen dan Ketua Mahkamah Agung Muhammad Syarifuddin bidang Ilmu Hukum Pidana dan beberapa lainnya. Sebenarnya saya tidak tertarik mengomentari pengukuhan Megawati sebagai profesor, karena pengukuhan adalah peristiwa akademik biasa. Lagi pula siapa pun warga negara di negeri ini boleh menggapai jabatan puncak akademik itu jika persyaratannya dipenuhi, sebagaimana telah diatur pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek).

Yang menjadi masalah dan menimbulkan polemik ialah isi pidato pengukuhannya. Megawati menulis naskah pengukuhan setebal 16 halaman tentang dirinya sendiri. Saya sendiri belum membaca naskah pidato itu secara utuh, kecuali hanya membaca abstraknya yang tersebar di media sosial. Pertanyaannya ialah bisakah seseorang menulis pengalaman pribadinya sebagai karya ilmiah? Saya ingin menjawab pertanyaan tersebut secara objektif dengan menempatkan diri sebagai seorang pengajar metodologi penelitian kualitatif. Saya tidak memiliki kepentingan apa pun mengenai status akademik Megawati. Secara objektif, profesor atau bukan, Megawati adalah presiden kelima Republik Indonesia dan putri Bung Karno, sang Proklamator dan presiden pertama Indoenesia. Itu tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun selamanya. Saya membuat tulisan ini untuk menjernihkan persoalan yang menjadi polemik di masyarakat, sekaligus untuk pencerahan para kolega dan mahasiswa saya.   

Sebagaimana kita ketahui, dalam khazanah ilmiah karya tulis bisa dibuat dari beberapa sumber. Misalnya, seorang ahli biologi menulis karya ilmiah dari hasil penelitiannya tentang kehidupan tumbuh-tumbuhan atau hewan sesuai konsentrasinya. Ahli ilmu sosial menulis karya ilmiah setelah mengadakan penelitian tentang fenomena kehidupan masyarakat di era pandemi Covid-19. Ahli bahasa menulis karya ilmiah mengenai fenomena linguistik di masyarakat tertentu. Karya ilmiah juga bisa berupa tulisan tentang seorang figur publik yang dianggap inspiratif dan telah berkontribus atau berjasa besar bagi masyarakat. Misalnya, tak terhitung jumlah tulisan, mulai yang biasa hingga disertasi, mengenai Gus Dur baik dalam bidang agama, sosial dan budaya, maupun politik. Melalui tulisan, orang ingin mengetahui lebih dalam mengenai gagasan, pikiran dan tindakan Gus Dur sebagai sang tokoh untuk digunakan sebagai pelajaran. Selain Gus Dur, tokoh-tokoh lainnya juga banyak ditulis oleh para mahasiswa, dosen, dan akademisi di berbagai bidang.

Dalam khazanah keislaman, kita mengenal para filsuf hebat yang terus digali pemikirannya hingga saat ini, seperti Imam Ghazali, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan sebagainya.  Karya tulis demikian disebut studi tokoh atau biografi. (Saya memahami studi tokoh lebih luas daripada biografi). Dalam bahasa Inggris disebut  “biographical study”. Para mahasiswa dan akademisi bidang pemikiran dan filsafat Islam menggali pemikiran para pemikir Islam kontemporer seperti Fazlur Rahman, Muslim Hassan Hanafi, Hamid Abu Zaid, Syed Muhammad Naquib al-Athas, Hasan Hanafi, dan sebagainya. Dari sini lahirlah berbagai tulisan, baik dalam bentuk makalah biasa, skripsi, tesis hingga disertasi yang memperluas khazanah keilmuan Islam.     

Selain itu, seseorang bisa juga menulis tentang dirinya sendiri, mengenai perjalanan hidup dan pengalaman menuju tangga atau puncak prestasi dalam bidang tertentu, Misalnya, seorang manajer perusahaan menulis pengalamannya mengelola dan memimpin perusahaan mulai awal yang kecil hingga menjadi perusahaan besar. Pengalaman yang dimaksud tidak hanya mengenai kelancaran mengelola perusahaan tetapi juga persoalan-persoalan yang dihadapi untuk menjadi pelajaran bagi masyarakat. Kisah Chairul Tanjung menjadi seorang pengusaha sukses dan salah satu orang terkarya di Indonesia saat ini adalah sebuah contoh karya menarik yang dia tulis sendiri dengan judul “Chairul Tanjung, Si Anak Singkong”. Dikisahkan dalam karya tersebut, karena keterbatasan ekonomi orangtuanya, Chairul Tanjung tidak mampu menyewa kamar untuk tempat tinggal selama kuliah sehingga dia tinggal dari satu musholla ke musholla. Bahkan untuk membayar SPP kuliahnya, ibu Chairul Tanjung terpaksa menjual jarik, satu-satunya harta yang bisa dijual saat itu. Melalui kerja kerasnya, kini Chairul Tanjung menjadi pengusaha sukses yang dapat menjadi inspirator kaum muda.            

Kalau begitu, kembali ke judul tulisan di atas, bisakah seseorang (Megawati) menulis pengalaman dirinya selama menjabat sebagai presiden sebagai karya ilmiah? Atas dasar penjelasan di atas, jawabnya ialah “tentu bisa”. Inilah yang disebut “autobiografi”, yakni suatu karya tulis mengenai pengalaman seseorang yang ditulis oleh orang yang bersangkutan. Seseorang menulis tentang dirinya sendiri. Autobiografi termasuk karya tulis atau esai ilmiah, jika tulisan berdasarkan data pengalaman pribadi secara objektif. Pengalaman pribadi disebut objektif, jika benar-benar dilakukan dan ditulis apa adanya. Sebagai presiden, Megawati mengambil langkah-langkah strategis untuk menyelesaikan berbagai krisis yang melanda Indonesia pada tahun 2001-2004.

Jika yang ditulis adalah langkah-langkah konkret pada saat itu apa adanya, Megawati menulis pengalaman secara objektif. Pengalaman objektif itu merupakan data sebuah autobiografi. Masalahnya bisakah seseorang menulis tentang dirinya sendiri dan pengalamannya secara objektif? Pengalaman yang dimaksud tidak hanya mengenai hal-hal yang baik-baik, tetapi juga hal-hal buruk yang dilakukan dan dialami. Inilah persoalan yang menjadi perdebatan mengenai autobiografi sebagai esai ilmiah. Sebab, umumnya orang tidak suka menulis tentang kegagalan atau kendala yang dihadapi dalam perjalanan hidup. Karena itu, sebagai karya dalam metode kualitatif, autobiografi sering dipersoalkan tingkat keilmiahannya, karena unsur subjektivitasnya.    

Mencapai derajat atau kadar objektif dalam penulisan karya ilmiah, lebih-lebih berbentuk autobiografi tidak mudah. Orang bsia saja mengatakan objektif karena yang ditulis adalah yang dilakukan dan dialami sendiri. Tulisan yang baik memerlukan pemahaman mendalam. Penulisan biografi atau studi tokoh yang baik bahkan dapat melampaui pengetahuan sang tokoh yang ditulis. Dalam perspektif hermeneutika, mengalami atau bahkan mengetahui belum tentu memahami. “To experience or to know is not always to understand”.  Bisa saja seseorang punya kebiasaan membaca banyak buku, tetapi belum tentu pembacaan banyak itu melahirkan pemahaman. Pemahaman (understanding) memerlukan penjiwaan dan refleksi diri yang dalam. Sebagai contoh, banyak ahli hukum — yang tentu telah membaca banyak buku tentang hukum — justru terlibat dalam persoalan hukum. Begitu juga tidak sedikit pendakwah yang sehari-hari berbicara tentang moralitas justru terperosok dalam persoalan moral. Masih banyak contoh lainnya. Mengapa itu terjadi? Salah satu sebabnya ialah mereka tidak menjiwai pengetahuan yang mereka peroleh.

Seorang penyair yang menjiwai puisi yang dibaca dapat menghipnotis para pendengar sehingga larut dalam suasana yang dibacakan. Seorang pendakwah yang menjiwai isi materi dakwahnya dengan baik dapat membuat jama’ah tergugah hatinya dan tidak merasa bosan mengikutinya. Bung Karno adalah salah satu contoh pemimpin yang dapat menjiwai setiap kata-kata yang dia ucapkan dalam pidatonya yang heroik, sehingga rakyat tidak bosan mendengarnya hingga saat ini. Dari dunia seni tarik suara, lagu almarhum Chrisye berjudul “Ketika Tangan & Kaki Berkata” adalah contoh syair penuh penjiwaan yang mendalam.                    

Pertanyaan selanjutnya ialah apa standar atau ukuran suaru karya disebut “ilmiah”? Untuk menjawabnya, perlu dijelaskan dulu apa yang dimaksud dengan “ilmiah”. “Ilmiah” adalah segala sesuatu yang bersifat keilmuan, didasarkan pada ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat kaidah pengetahuan. Secara lebih konkret, suatu karya dapat disebut ilmiah jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: sistemik, sistematik, logis, objektif, kontributif, dan prediktif. Sistemik artinya ada  saling keterkaitan antar-unsur dalam langkah penulisan. Sistematik artinya ada urutan logika antar-langkah dan berkesinambungan (mulai judul, masalah, kajian pustaka, metode, analisis data, dan simpulan). Logis artinya segala penjelasan dalam tulisan dapat diterima oleh akal sehat. Objektif artinya tulisan berdasarkan fakta atau keadaan sebenarnya tanpa ada pengaruh pribadi, tidak dikurangi dan ditambah. Kontributif artinya suatu karya ilmiah memberi manfaat baik secara praktis untuk menyelesaikan masalah maupun teoretik untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Sedangkan prediktif artinya suatu karya ilmiah dapat memprediksi apa yang akan terjadi di masa mendatang terkait dengan isu yang diangkat.

Nah, terkait dengan uraian di atas, ilmiahkah naskah pidato pengukuhan Megawati?. Dari abstrak, sebenarnya persyaratan ilmiah telah dipenuhi, mulai judul, masalah, referensi, metode (kualitatif), dan kontribusinya bagi ilmu pengetahuan bidang kepemimpinan. Sayangnya, dari sisi objektivitas naskah pidato itu tercederai oleh pujian yang dibuat penulisnya sendiri. Dengan kata lain, Megawati tidak bisa bersifat objektif ketika memuji dirinya sebagai presiden yang berhasil menyelesaikan krisis multidimensi pada 2001-2004. Padahal, objektivitas merupakan salah satu prasyarat utama karya ilmiah. Seharusnya, Megawati cukup menguraikan pengalaman bagaimana menyelesaikan berbagai persoalan bangsa saat itu secara deskriptif dengan didukung oleh teori-teori atau pendapat para pakar kebijakan publik atau politik yang dia ketahui dan pelajari. Jika ternyata belum ada teori yang dapat dipakai sebagai rujukan untuk menjelaskan bagaimana dia menyelesaikan masalah bangsa yang sedemikian rumit, sebagai ‘profesor’ Megawati dapat menyampaikan pengalamannya sebagai teori baru. Itulah yang dalam metodologi penelitian disebut “novelty”. (Cerita mengenai keberhasilannya cukup disampaikan di depan anak cucu sambil makan di rumah). Megawati mestinya membiarkan publik menilai dirinya sebagai presiden dalam menyelesaikan krisis multidimensi.      

Malah semakin elegan jika Megawati juga menulis kesulitan-kesulitan yang dihadapi  saat itu dan secara metodologis bagaimana menuliskan pengalamannya itu dalam karya ilmiah yang baku. Dialektika antara keberhasilan dan kesulitan dalam menyelesaikan persoalan dapat melahirkan objektivitas. Megawati mungkin lupa — atau tidak sempat disampaikan oleh para pembantunya— jka suatu  karya ilmiah juga menulis kesulitan atau kelemahan-kelemahan (weaknesses)  yang dihadapi pada saat yang sama justru menampilkan kekuatan atau kelebihan karya itu sendiri. Sebaliknya, jika suatu karya ilmiah memuji dirinya sendiri, itu sama artinya dengan menunggu pujian dari orang lain yang belum juga muncul. Menggunakan perspektif hermeneutika, bisa saja Megawati menulis panjang lebar mengenai kisah penyelesaian krisis multidimensi, tetapi tidak ada jaminan dia memahaminya secara mendalam mengenai yang dia alami dan lakukan.

Tulisan bukan sekadar peristiwa linguistik biasa berupa untaian kata menjadi frasa, frasa menjadi kalimat dan selanjutnya menjadi teks.  Di dalam tulisan ada unsur metalinguistik, yakni bertemunya buah pikiran dan simbol melalui gerak jari tangan dengan penuh penghayatan. Di dalam tulisan yang penuh penjiwaan terkandung marwah — sesuatu yang tak terlihat tetapi dapat dirasakan oleh hati pembaca. Sebuah tulisan tanpa penjiwaan dan pemahaman adalah bagaikan permainan kata tanpa makna. Orang mengatakan “tulisan kering”. Kalau begitu, ilmiahkah naskah pidato pengukuhan Megawati sebagai guru besar? Dari uraian di atas para pembaca dapat menilai sendiri ilmiah tidaknya karya tersebut!   

__________ Surabaya, 12 Juni 2021

Visits: 28306
Today: 2

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *