(Untuk menambah wawasan mahasiswa, khususnya dalam bidang filsafat pengetahuan dan kebenaran ilmiah melalui Metodologi Penelitian, diunggah tulisan berseri dengan judul “Sains, Sejarah dan Perkembangannya”, diawali tulisan ke-1 di bawah ini) Sains, Sejarah dan Perkembangannya (Tulisan ke-1)

A. Pengantar

Tak seorang pun dapat membantah peran sains atau ilmu dalam kehidupan. Dapat dikatakan bahwa manusia modern saat ini sangat tergantung pada sains dalam berbagai aspek. Sains telah mengubah kehidupan manusia secara mendasar, sehingga abad ini disebut sebagai abad sains. Sains telah menembus dinding-dinding pembatas kehidupan yang dulu, mungkin, misteri menjadi terang benderang. Perkembangan sains modern yang begitu pesat yang memuncak pada awal abad ke-20 dan berpengaruh pada hampir semua aspek kehidupan terutama memunculkan suatu pandangan atau keyakinan yang menganggap sains merupakan satu-satunya cara memeroleh kebenaran dan menyingkirkan cara-cara yang lain, yang disebut saintisme.

Selain terjadi pengaguman terhadap sains secara berlebihan, abad modern ditandai dengan upaya manusia untuk menyingkirkan semua pengetahuan menjadi satu metode, satu bahasa, dan satu kebenaran. Upaya ini tidak pernah berhasil, karena menafikan keniscayaan keragaman masing-masing pengetahuan. Model pemikiran baru bermunculan untuk mereaksi rencana tersebut, seperti eksistensialisme, fenomenologi, neo-Kantianisme dan seterusnya. Apa pun reaksi yang muncul, sains telah menjelma menjadi kekuatan dahsyat yang mengubah tata kehidupan dan cara manusia memandang, memahami dan mengelola dunia.  

Sains atau ilmu adalah produk olah pikir manusiasecara sungguh-sungguh, sistematik dan berkelanjutan yang mengantarkannya mampu membangun kesadaran tentang hakikat keberadaan dan tujuan hidup serta bagaimana menjalankan hidup sehingga dapat mengembangkan peradaban dengan seluruh tata nilainya. Selain memeroleh berbagai kemudahan, melalui ilmu manusia dapat membudayakan diri dan menyumbang bagi pemenuhan kodratnya untuk hidup menjadi lebih bernilai, beradab dan bermartabat.

Kemampuan berpikir dan bernalar adalah anugerah luar biasa yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia. Dengan berpikir, manusia dapat mempertimbangkan dan memutuskan hal yang baik dan buruk, mudah dan sulit, pantas dan tidak pantas untuk dilakukan dan sebagainya. Mungkin kita dapat mengajukan pertanyaan mengapa manusia memiliki kemampuan berpikir? Menurut Andi Hakim Nasoetion (2008: 11) manusia dapat berpikir dan bernalar karena memiliki susunan otak yang paling sempurna dibanding susunan otak berbagai jenis makhluk hidup lainnya. Bisa dibayangkan betapa rumitnya tata kehidupan dunia jika makhluk lain, seperti binatang, diberi kemampuan berpikir sebagaimana manusia. Diyakini binatang, seperti harimau, serigala atau singa, akan lebih dominan karena fisiknya  lebih kuat dibanding fisik manusia. 

Kesempurnaan susunan otak manusia dapat mengembangkan cara berpikir baru yang mengagumkan. Salah seorang filsuf Barat kenamaan dan perintis filsafat pemikiran rasionalisme, Rene Descartes, mengatakan melalui berpikir, manusia mengenal lingkungannya dan bahkan memahami bukan hanya benda-benda atau objek di luar dirinya, tetapi juga dirinya sebagai subjek. Melalui filsafat kesadarannya, Rene Descartes mengatakan ungkapan terkenalnya “Saya Berpikir, maka Saya  Ada” (Cogito ergo sum). Jadi berpikir merupakan ciri hakikat manusia. Karena berpikir, seseorang menjadi manusia. Dengan berpikir serius, manusia dapat melahirkan pikiran-pikiran besar dan bahkan membuat revolusi pemikiran (revolution of thought).                

Menurut Armada Riyanto (2018: 158), Rene Descartes mengembangkan cara berpikir baru dalam fisafat modern yang disebut filsafat kesadaran (conscientia). Menurutnya, berpikir yang semula bertolak dari persoalan esse (ada/realitas/objek), berubah ke persoalan subjek (Aku) yang memikirkan objek. Pengetahuan manusia tentang sesuatu tidak lagi terletak pada korespondensi dengan realitas objektif, melainkan berangkat dari kesadaran subjektif mengenai realitas. Sebagai contoh, sikap kita terhadap sesuatu sangat tergantung pada pemahaman kita terhadap sesuatu itu.

Aktivitas berpikir semacam itu, menurut Sutiman B. Sumitro (2009: 41) merupakan serangkaian proses penalaran, pemahaman, pengalaman, dan kadang juga impresi dan intuisi yang dimiliki. Aktivitas berpikir ini akan menghasilkan pengetahuan atau pemahaman baru yang dianggap benar. Apabila itu menyangkut nilai, pemahaman baru tersebut akan memperbaiki pandangan yang dianggap jauh lebih berharga, menguntungkan, atau menyelamatkan. Sebagai hasil proses berpikir, pikiran dapat dipakai sebagai tolok ukur mengenai kualitas diri seseorang; berpikiran rendah atau berbobot. Pikiran berkualitas rendah jika lingkupnya terbatas, berjangka pendek, sesaat, dan hanya untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya. Sebaliknya, pikiran berkualitas lingkupnya luas, berjangka panjang, dan tidak untuk kepentingan dirinya, melainkan untuk masyarakat luas.

Berpikir memperluas keterbatasan pengetahuan manusia yang semula sempit. Pengetahuan manusia merupakan hasil dari kegiatan inteligensi yang bersifat progresif-revolusioner yang dilandasi oleh adanya kecenderungan untuk mengabdikan ilmu pengetahuan untuk kepentingan hidup sehari-hari dalam segala aspek (Watloly, 2001: 149). Menurut Jujun S. Sumantri (2015: 2) berpikir pada dasarnya merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Jika pengetahuan itu sistematis, runtut dan dapat dinalar secara logis, jadilah sains atau ilmu pengetahuan. Melalui tinjauan filsafat, sajian ini akan memberikan kejelasan yang mendasar mengenai hakikat sains, sejarah dan perkembangannya Uraian dilengkapi dengan konsep dan paradigma keilmuan dalam perspektif Islam, baik secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis. 

Sebagai Worldview, Islam memiliki pandangan tersendiri mengenai ilmu pengetahuan yang bersumber dari al-Quran dan hadits, yang berbeda dengan pandangan filsafat Barat. Kendati demikian, sajian ini tidak bermaksud untuk mempertentangkan kedua pandangan (Barat dan Islam), melainkan justru untuk memperkaya khazanah pengetahuan filosofis mengenai sains atau ilmu bagi para mahasiswa, dosen, penggiat dan pecinta ilmu pengetahuan. Memahami demikian penting peran dan posisi ilmu pengetahuan bagi manusia, selain untuk memahami makna dan hakikat sains atau ilmu pengetahuan secara mendalam dan komprehensif, sajian ini hendak menyampaikan pesan bahwa mencari, memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan adalah panggilan dan tugas kemanusiaan yang menyejarah, bukan semata-mata untuk mengajar prestasi, apalagi gelar akademik.    

B. Sains itu apa?

Siapa tidak mengenal ‘sains’? Istilah ‘sains’ atau ilmu tentu tidak asing bagi siapa pun yang berkecimpung di dunia akademik. Istilah sains atau ilmu sangat popular di masyarakat, sehingga hampir tiap hari kita mendengar atau membaca istilah ‘sains’ di berbagai kesempatan. Tetapi sebenarnya sains itu apa. Pertanyaan ini tampaknya sederhana dan mudah dijawab. Tetapi, kenyataannya kerancuan dan kesalahpahaman tentang makna sains masih sering ditemukan. Pada umumnya orang mengetahui bahwa biologi, fisika, dan kimia adalah sains. Sedangkan seni, musik, teologi tidak dianggap sebagai sains. Para mahasiswa dan dosen umumnya akan memberi jawaban yang sama jika ditanya tentang sains. Secara filosofis, jawaban yang dimaksudkan tentu tidak demikian, karena itu hanya berupa daftar ilmu pengetahuan di mana biologi, kimia dan fisika dianggap sebagai induknya. Jika ditambahkan, astronomi termasuk di dalamnya.

Jawaban terhadap pertanyaan ‘sains itu apa’ bukan dengan membuat daftar ilmu yang tergolong sains seperti di atas, melainkan hakikat sains itu apa. Secara harfiah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 978) sains adalah 1). ilmu pengetahuan pada umumnya, 2). pengetahuan sistematis yang diperoleh dari sesuatu observasi, penelitian, uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang diselidiki, dipelajari dan sebagainya. Filsafat menghendaki jawaban lebih dari itu, mengenai ciri atau karakteristik utama sehingga mengapa sesuatu disebut sains.

Ada yang menyatakan sains ialah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami, menjelaskan dan memprediksi dunia tempat kita tinggal. Jawaban itu tampaknya rasional dan meyakinkan. Tetapi, bukankah agama juga berusaha memahami dan menjelaskan mengenai masa depan alam dan seluruh isinya kepada para pengikutnya? Islam, misalnya, mengajarkan tentang kehidupan lain setelah kematian, yang disebut kehidupan di alam akhirat di mana nasib manusia sangat ditentukan oleh seberapa banyak amal sholeh yang dilakukan di dunia. Tetapi siapa yang menyebut agama sebagai bagian dari sains? Agama mengkaji hal-hal abstrak (ghoib) yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindra. Agama mempercayai hal-hal yang bersifat supranatural. Tuhan adalah sesuatu yang transendental, yang berbeda dengan alam. Bahkan Tuhan dipercaya sebagai sebagai pencipta alam semesta dan seisinya. Selain tentang Tuhan, agama juga membahas makhluk dan alam ghoib lainnya seperti malaikat, surga, neraka dan lain-lain. Ilmu pengetahuan tidak menyediakan alat untuk membuktikan hal-hal semacam itu. Agama adalah persoalan kepercayaan, sehingga kebenarannya tidak lewat metode ilmiah seperti verifikasi atau eksperimentasi.      Begitu juga, astrologi dan ramalan paranormal juga berusaha memprediksi keadaan yang akan datang, tetapi keduanya tidak dapat digolongkan sebagai sains. Ada yang menyebutnya ‘klenik’. Tak terkecuali sejarah, yang berusaha menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu dan belajar darinya untuk masa depan, juga tidak dapat disebut sains, malah ada yang memasukkan sejarah sebagai bagian dari seni. Ada yang menyebut sastra, seni, bahasa, agama, sejarah dan sejenisnya sebagai khazanah pengetahuan, bukan sains.

Visits: 16598
Today: 0

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *