Sains, Sejarah dan Perkembangannya (Tulisan ke-3)

A. Asal Mula Sains Modern

Ilmu pengetahuan (sains) tidak lahir tiba-tiba atau jatuh dari langit, melainkan dari pergumulan panjang para pemikir, filsuf, peneliti dan sebagainya. Namun oleh banyak pihak pendidikan dan pengajaran sains  di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi dinilai  ahistoris. Buku-buku tentang sejarah sains sangat sedikit jumlahnya. Pembahasan sains didominasi oleh aspek epistemologi. Malah tidak sedikit yang meremehkan sejarah sains diajarkan di sekolah dan dianggap buang-buang waktu saja. Sebagian berpendapat sejarah bisa dipelajari sendiri dengan membaca buku. Karena ahistoris, pendidikan sains hanya membahas hal-hal pokok mengenai pengetahuan ilmiah tanpa pengetahuan tentang proses sejarah panjang hingga lahirnya ilmu pengetahuan.

Secara pedagogik, pengajaran semacam itu tidak salah dan sah-sah saja. Tetapi perlu disadari bahwa  memahami sejarah atau asal mula ilmu akan dapat mengantarkan seseorang pada penghargaan yang tinggi dan penjiwaan yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan. Menurut W. Poespoprodjo (1987: 16) lewat sejarahnya, ilmu atau suatu ilmu akan dapat ditangkap secara proporsional, jika dikembalikan pada konteks situasional permunculan dan pertumbuhannya, baik yang menyentuh ruang lingkupnya, kemungkinan-kemungkinan perkembangannya, strukturnya, kegagalannya.

Secara historis dapat dikemukakan  bahwa penyelidikan ilmu telah dimulai  ribuan tahun sebelum masehi. Menurut George J. Mouly, usaha mula-mula di bidang keilmuan telah dilakukan oleh bangsa Mesir Kuno, kira-kira 1200 tahun sebelum masehi, walau sangat dimungkinkan jauh sebelum itu, yaitu kira-kira  15.000- 600 SM di mana kurun waktu 10 000 tahun zaman Purba lahir kerajaan-kerajaan di Mesir, Babilonia, China dan India (Suriasumantri, 1983: 86; Bawani, 2016: 47).

Berdasarkan studi literatur, sekitar 4000 tahun lalu bangsa Mesir sudah dikenal memiliki kebudayaan tinggi. Tidak hanya piramida sebagai peninggalan monumentalnya, tetapi juga sphinx, tulisan herogliph, pengawetan mayat dan sebagainya. Seorang ahli kebudayaan Mesir Kuno bernama J. Perry dalam karyanya “The Children of the Sun” menyatakan bahwa kebudayaan Mesir Kuno merupakan sumber kebudayaan besar yang menyebar ke seluruh dunia, diawali dengan kebudayaan ruhani yang mendorong timbulnya kebudayaan material tinggi. Dari peristiwa banjir sungai Nil yang terjadi secara ajeg setiap tahu, bangsa Mesir Kuno bisa menyusun pengetahuan tentang sistem almanak (kalender), yang di dalamnya ada penanggalan (daftar hari, minggu, bulan, hari-hari raya dalam setahun) yang disertai dengan data keastronomian, ramalan cuaca dan sebagainya. (HM. Arifin, 1994: 10).

Pencapaian bangsa Mesir diikuti oleh bangsa Babilonia (sekarang Iraq). Jejak peradaban bangsa Babilonia berupa lempengan-lempengan tanah liat yang di atasnya ada tulisan bagaimana mereka mengembangkan sistem perkalian, pembagian yang rumit, pecahan, persamaan kuadrat dan kubik. Selain menemukan sistem hitungan dalam matematika, orang Babilonia juga dikenal sebagai bangsa yang pertama kali menulis dari kiri ke kanan.

Tidak hanya bangsa Mesir, bangsa China dan India juga menyumbang kemajuan ilmu. Jika bangsa India kesohor di bidang matematika dan penemuan angka nol, bangsa China menemukan kompas, mesiu dan mesin cetak (Suriasumantri, 1983: 11). Akibat kemajuan itu, banyak pengamat memprediksi China dan India di masa depan akan menjadi negara super power baru di luar Amerika Serikat (Emsan, 2014: 14), dan saat ini sudah terbukti.

Menyempurnakan prestasi bangsa Mesir, pada sekitar 600 tahun sebelum masehi para filsuf Yunani Kuno seperti Socrates (469-399 SM), Plato (428-427 SM), dan Aristoteles (384–322 SM) memelopori pengembangan ilmu dengan titik berat pada upaya ‘pengorganisasiannya’ sehingga menghasilkan ilmu-ilmu astronomi, kedokteran, dan logika formal (silogisme) yang menjadi dasar penjabaran secara deduktif pengetahuan dan pengalaman manusia. Sejak saat itu bangsa Yunani Kuno diposisikan sebagai perintis dan peletak dasar metodologi keilmuan secara sistematis (Bawani, 2016: 47).

Sejarah perkembangan ilmu dalam kebudayaan umat manusia tidak hanya terpusat di suatu tempat tertentu (Mustansyir dan Munir, 2009: 123). Sumbangsih pemikiran para ilmuwan di luar Barat juga banyak. Munculnya aliran pemikiran empirisisme ternyata tidak lepas dari peran filsuf-filsuf muslim. Menurut Suriasumantri (1983: 10) para sarjana muslim seperti al-Kindi (809-873), Al-Farobi (881-961), Ibnu Sina (980-1037), dan Ibnu Rusyd (1126-1198), juga Al-Khawarizmi (780-850) sang ahli aljabar serta Al-Battani (850-923) di bidang geometri adalah para penggagas aliran empirisisme yang sangat berpengaruh dalam dunia pemikiran Barat.

Menariknya, di zaman kejayaan peradaban Islam para filsuf Barat mau belajar ilmu pengetahuan dari Islam melalui karya para filsuf muslim tersebut. Sebagaimana dinyatakan Shawqi Ahmad (dalam James Campbell (2015: 146) masyarakat Barat sangat berhutang budi pada Islam. Ditambahkan oleh Agus Purwanto (2008: 23) para sarjana muslim itu yang menjadi perantara kemajuan Barat melalui renaisans. Melalui dunia Islam, Barat mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern. Bahkan, menurutnya, tanpa peran sarjana muslim klasik, tidak mungkin ada telepon, televisi, mobil, komputer, bahkan pesawat terbang. Tetapi sayang kisah sukses ilmuwan muslim itu tidak berbekas sama sekali di dunia Islam saat ini, kecuali hanya menjadi dongeng untuk anak cucu. Alih-alih kemajuan, dunia muslim malah didera oleh tiga persoalan akut, yaitu keterbelakangan, kemiskinan, dan kebodohan. Ini harus dipahami oleh para warga muslim bahwa ada yang salah dalam memahami ilmu pengetahuan.       

Selain Islam, para pemikir dari Budhisme, Hinduisme, Sintoisme, dan Konfusionisme, yang oleh Armada Riyanto (2018: 14) disebut sebagai filsafat Timur, juga memberi sumbangan pada pengembangan filsafat Barat. Menurut Ravertz (2009: 19) pengaruh para filsuf muslim terhadap pemikiran Barat juga karena Islam dianggap paling relevan bagi ilmu Eropa saat itu. Bukan sekadar karena dekatnya hubungan antara Islam dan Judaisme dan Kristen, melainkan juga karena adanya kontak kultural yang aktif antara negeri-negeri berbahasa Arab dengan Eropa Latin pada masa-masa yang menentukan.

Melalui pemikiran para filsuf Yunani Kuno, menurut (Wignjosoebroto: 1), peradaban Barat berkembang pesat hingga era renaisans atau pencerahan ketika saintis-saintis Barat seperti Galileo Galilei (1564-1642) dan Isaac Newton (1643-1727) muncul untuk mereaksi pemikiran gereja yang bersifat predestinasi, sebuah doktrin yang menyatakan bahwa semua peristiwa di alam semesta ini telah ditentukan oleh Tuhan sehingga bersifat final. Galileo adalah salah satu tokoh terpenting dalam sejarah awal sains modern, terutama dalam bidang fisika dan astronomi. Dia adalah orang pertama yang menggunakan telescope untuk peneyelidikan astronomi. Dia sangat yakin dengan manfaat eksperimentasi fisika dengan menggunakan matematika sebagai alat untuk membuat rumus fisika. Galileo berpendapat bahwa pandangan heliosentris adalah yang benar di mana matahari adalah pusat alam semesta, dan bumi hanya sebuah planet dari banyak lainnya, yang mengitari matahari. Gereja Katolik merasa terusik dan sangat tidak suka dengan pandangan Galileo. Galileo dianggap membahayakan posisi, dominasi dan peran gereja.  

Akibat pandangannya, dua kali Galileo harus menghadapi pengadilan gereja karena dianggap menyebarkan pengetahuan yang menyesatkan. Pengadilan menjatuhkan hukuman tahanan di rumah. Walau telah dihukum, Galileo tidak berubah pandangan. Dia bersikukuh dengan pandangan heliosentrisnya. Dalam perkembangan sains, gagasan Galileo benar. Tetapi, aplikasi pemikirannya baru terjadi pada abad ke-19. Pada 1992, gereja Katolik mengakui kebenaran pandangan Galileo dan memberinya pengampunan serta menerimanya kembali sebagai anggota gereja. Model kerja ilmiah Galileo yang diteruskan oleh Issac Newton ialah menggabungkan antara observasi objektif dengan analisis teoretik rasional yang kini menjadi ciri utama dan menjadi peletak dasar epistemologik bagi perkembangan sains modern. Dengan kata lain, sains ilmiah modern merupakan produk dari metode observasi dan penalaran logis (bersambung).

_________ Malang, 12 Agustus 2021

Visits: 249994
Today: 1198

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *