ANALISIS WACANA KRITIS: Studi Wacana Publik seputar Pandemi Covid-19

  • Pengantar

Wabah pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak akhir 2019 akan dicatat manusia sejagad sebagai krisis dahsyat multidimensi. Krisis serupa pernah terjadi pada tahun 1930-an akibat depresi ekonomi yang juga melanda dunia. Dilihat dari sisi jumlah korban, hingga tulisan ini dibuat sudah mencapai 258 juta kasus dengan korban meninggal 5, 16 juta orang di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri total kasus mencapai 4,25 juta orang dengan 144. 000 orang meninggal. Diperkirakan jumlah korban masih akan terus bertambah.  

Wabah ini disebut multidemensi karena tidak hanya menyangkut bidang kesehatan, tetapi juga sosial, ekonomi, politik dan budaya dan lain-lain. Para pakar kesehatan, baik bersifat perseorangan maupun kelembagaan, telah mengerahkan berbagai jurus dan strategi untuk menemukan cara menghentikan virus. Kendati terus terjadi penurunan kasus dan korban meniggal, tetapi hingga saat ini wabah ini masih terus berlangsung.  

Pandemi Covid-19 telah mengubah cara hidup manusia di banyak hal, tak terkecuali di bidang penelitian. Para mahasiswa, dosen, peneliti dan praktisi terhentak. Dunia dan medan sosial tempat manusia hidup dan berinteraksi satu sama lain berubah. Para mahasiswa dan peneliti terhambat dalam menyelesaikan tugas penelitian, karena tidak dapat mengumpulkan  data dari responden atau informan akibat kebijakan pembatasan jarak sosial dan fisik. Karena perubahan tersebut, penelitian dituntut menyesuaikan diri dengan keadaan yang terjadi, khususnya penelitian lapangan (field research). Sementara kegiatan akademik seperti penelitian tidak boleh berhenti, maka para peneliti harus pandai memahami situasi yang berubah ini dalam kegiatan penelitian, tanpa harus mengubah landasan filosofis atau paradigma penelitian.

Pandemi Covid-19 juga menjadi perhatian para ahli dari  berbagai disiplin ilmu. Beragam diskusi, seminar, dan konferensi diselengarakan di berbagai kampus dan lembaga-lembaga pemerintah dan swasta. Tak ketinggalan para pakar juga membuat tulisan tentang pandemi covid-19 dari berbagai sudut pandang berdasarkan kepakaran masing-masing. Walhasil, wabah Covid-19 telah menjadi wacana publik yang mengundang banyak perhatian masyarakat sejak dua tahun terakhir. Saat ini telah masuk tahun ketiga.

Sajian pendek ini akan mengupas wacana publik tentang Covid-19 dalam perpektif Analisis Wacana Kritis. Sebagai pendekatan analitik yang sedang berkembang, analisis wacana kritis (CDA) digunakan untuk membongkar relasi kuasa yang terjadi di dalam proses bahasa, khususnya isu-isu yang terkait dengan pandemi Covid-19. Individu bukan subjek netral yang dapat memproduksi dan memaknai bahasa secara bebas sesuai kehendaknya, karena dipengaruhi konteks sosial yang ada di masyarakat. Setelah pengantar, secara berurutan sajian dimulai dengan uraian tentang studi wacana dan analisis wacana kritis, pendekatan analisis wacana, wacana publik tentang pandemi Covid-19, analisis judul berita, diakhiri dengan simpulan.        

  • Studi Wacana dan Analisis Wacana Kritis  

Istilah wacana sangat populer di masyarakat dan banyak disebut oleh berbagai kalangan. Tetapi istilah wacana tidak dipahami dan dihayati dalam makna dan cara pandang yang sama. Para pejabat pemerintah dan penulis-penulis populer sering mengartikan wacana sebagai gagasan yang masih dalam angan-angan dan belum menjadi keputusan akhir. Istilah wacana juga dapat digunakan untuk berkelit para pejabat publik ketika kebijakannya menuai protes masyarakat. Ungkapan “Ini sekadar wacana, maka tenang saja” sering kali kita temukan.

Istilah wacana diperkenalkan dan digunakan oleh para linguis di Indonesia dan negeri-negeri berbahasa Melayu lainnya sebagai terjemahan dari istilah bahasa Inggris discourse. Maka discourse analysis diterjemahkan menjadi analisis wacana (Oetomo, 1993: 4). Mengutip Brown dan Yule, Irwanto (1994: 128) menyatakan analisis wacana  sebagai suatu upaya penelitian penggunaan bahasa, baik sebagai medium pernyataan fakta maupun perasaan dari seseorang kepada orang lain. Pengertian ini dapat dipakai dalam konteks acuan teori psikologi social yang digunakan, yaitu interaksionisme simbolik. Perspektif ini membantu kita dalam mengamati penggunaan bahasa sebagai sarana untuk memahami posisi sosial (sendiri dan orang lain) karena identitas pribadi pemakai bahasa tersebut.        

Selain dalam linguistik, istilah wacana juga dipakai di disiplin-disiplin lainnya, politik, sosiologi, sastra, psikologi, komunikasi, dan sebagainya. Masing-masing kadang-kadang memiliki perbedaan dalam konsep dan pendekatan yang dipakai. Dalam sosiologi, wacana merujuk terutama pada hubungan antara konteks sosial dari pemakaian bahasa. Tetapi umumnya para sosiolog lebih banyak menggunakan istilah diskursus beserta adjektivanya, yakni diskursif. Para ilmuwan Indonesia mulai memperhatikan diskursus sejak pertengahan 1980-an dengan naik daunnya ancangan pascastrukturalis dalam antropologi, sosiologi, dan ilmu politik.

Dalam linguistik, Oetomo (1993: 4), dan Kartomihardjo (1993: 23) mengartikan istilah wacana sebagai suatu rangkaian sinambung bahasa (khususnya lisan) yang lebih besar daripada kalimat. Jadi, unit itu bisa berupa paragraf, undangan yang ditulis dalam kartu undangan atau media tulis lainnya, percakapan, cerita pendek dan lain sebagainya. Konsep ini merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal yang lebih memperhatikan unit kata, frase atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur-unsur tersebut. Dalam psikologi, wacana diartikan sebagai pembicaraan. Wacana di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya.

Dalam politik, istilah wacana yang diterjemahkan dari kata discourse tidak bisa dilepaskan dari pemikiran Foucault (1972) yang melihat realitas sosial sebagai arena diskursif (discursive field) yang merupakan kompetisi tentang bagaimana makna dan pengorganisasian institusi serta proses-proses sosial itu diberi makna melalui cara-cara khas. Wacana merujuk pada berbagai cara yang tersedia untuk berbicara atau menulis untuk menghasilkan makna yang di dalamnya melibatkan beroperasinya kekuasaan untuk menghasilkan objek dan efek tertentu (Sparringa, 2001: 1).

Dengan demikian, telaah wacana memusatkan pada penggunaan bahasa. Sebab, bahasa merupakan aspek sentral dari penggambaran suatu subjek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya. Menurut Rakhmat (1996: 50) tak berlebihan dikatakan bahwa ideologi membentuk dan dibentuk oleh bahasa. Karena itu selain bahasa, ideologi juga merupakan konsep sentral dalam Analisis Wacana. Sebab, teks, percakapan, dan lainnya adalah bentuk dari praktik ideologi atau pencerminan ideologi tertentu (Eriyanto, 2001: 13).

Selain mengalami pergeseran makna, istilah wacana acapkali dipertukarkan dengan istilah teks. Dalam tradisi berbahasa Inggris, teks lebih mengacu pada bahasa tulis, sedangkan wacana pada bahasa lisan, walaupun perbedaannya terletak pada soal penekanan. Dari sudut lain, wacana kerapkali menyiratkan wacana interaktif, sedangkan teks menyiratkan monolog noninteraktif. Perbedaan lain dilakukan oleh Halliday dan Hassan (1976), yakni bahwa wacana cenderung panjang, sedangkan teks dapat singkat sekali, seperti tanda “Pintu Darurat”. Lain lagi halnya dengan Widdowson (1979), yang membedakan keutuhan (kohesi) wacana, yang berlaku antara tindak-tindak wicara yang mendasarinya (batin). Sebaliknya, van Dijk (1977) menggunakan teks untuk merujuk pada konstruk teoretik yang abstrak, yang diwujudkan dalam wacana, sedangkan bagi Halliday, justru teks yang mengacu pada perwujudan lahir (Oetomo, 1993: 4).

Menurut Kartomihardjo (1993: 23-24), wacana lisan biasanya diiringi oleh berbagai faktor termasuk faktor-faktor non-bahasa seperti situasi dan suasana di mana para peserta ujaran berinteraksi, hubungan pribadi sehingga banyak pengetahuan bersama yang dipahami bersama, variasi bahasa yang digunakan dengan intonasi tertentu dan berbagai macam piranti para-linguistik. Dengan demikian, wacana lisan sering pendek-pendek dan terdiri atas unit-unit yang juga pendek-pendek dan sering kurang lengkap dan kurang gramatikal. Sebaliknya, wacana tulis biasanya lengkap dan lebih gramatikal, penuh informasi penjelas agar tidak disalahtafsirkan oleh pembaca. Apabila wacana lisan penuh dengan bentuk informal, wacana tulis lebih banyak menggunakan bentuk baku, kecuali wacana yang memang disengaja oleh penulisnya untuk menonjolkan bentuk yang informal untuk efek tertentu, seperti dialog di dalam cerita pendek atau novel, surat kepada keluarga dekat atau teman akrab, wacana yang mengungkapkan kelucuan dan sebagainya.

Namun demikian, terdapat pula wacana tulis yang bentuknya sangat mirip dengan bentuk wacana lisan, seperti label advertensi, label berbagai hasil produksi pabrik obat-obatan dan makanan, manual, pemberitahuan atau peringatan yang dipasang di tempat tertentu dan lain sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan secara sederhana analisis wacana adalah suatu kajian terhadap satuan bahasa di atas kalimat. Para analis wacana mengkaji bagian lebih besar bahasa dengan mempertimbangkan konteks dan bagaimana konteks mempengaruhi makna kalimat.

  • Pendekatan Analisis Wacana

Seperti dialami oleh semua cabang kajian dalam ilmu-ilmu kemanusiaan (human sciences), pendekatan analisis wacana juga terpilah berdasarkan paradigma kajian (paradigm of inquiry) yang mendasarinya. Secara umum ada tiga paradigma kajian yang berkembang dan saling bersaing dalam ilmu-ilmu kemanusiaan, yaitu  analisis wacana positivisme (positivist discourse analysis), analisis wacana interpretivisme (interpretivist discourse analysis), dan analisis wacana kritisisme (critical discourse analysis).[1]

Bersandar pada paradigma positivisme, bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Terkait dengan analisis wacana, para peneliti bahasa tidak perlu mengetahui makna-makna atau nilai subjektif yang mendasari suatu pernyataan. Analisis wacana positivistik memperhatikan dan mengutamakan pemenuhan seperangkat kaidah sintaksis dan semantik. Kebenaran semantik dan ketepatan sintaksis menjadi takaran utama dalam aliran ini. Karena itu, analisis wacana positivistik diarahkan pada penggambaran tata-aturan kalimat dan paragraf beserta kepaduan makna yang diasumsikan berlaku umum. Bagaimana kalimat yang baik harus disusun? Bagaimana paragraf yang baik harus ditulis? Bagaimana pula wacana yang baik harus dikembangkan? Bertolak dari masalah-masalah ini, kohesi dan koherensi menjadi tolok-ukur utama dalam setiap analisis wacana positivistik.[2]

Penganjur paradigma interpretivisme menolak pemisahan manusia sebagai subjek dengan objek. Bahasa tidak dapat dipahami terkecuali dengan memperhatikan subjek pelakunya. Subjek manusia diyakini mampu mengendalikan maksud-maksud tertentu dalam tindak berwacana. Karena itu, setiap pernyataan pada hakikatnya adalah tindak penciptaan makna. Dalam perspektif ini pula berkembang teori tindak-tutur, serta keberlakuan kaidah-kaidah kejasama dalam percakapan.[3] Analisis wacana dimaksudkan untuk mengungkap maksud-maksud dan makna-makna tertentu dari subjek. Dalam perspektif ini, bila berkehendak memahami suatu wacana, maka tidak ada jalan masuk lain kecuali pengkaji mampu mengembangkan empati terhadap subjek pelaku wacana.

Penganjur paradigma kritisisme menilai bahwa baik paradigma positivisme maupun paradigma interpretivisme tidak peka terhadap proses produksi dan reproduksi makna. Kedua paradigma tersebut mengabaikan kehadiran unsur kekuasaan dan kepentingan dalam setiap praktik berwacana. Karena itu, alih-alih mengkaji ketepatan tata-bahasa menurut tradisi positivisme atau proses penafsiran sebagaimana tradisi interpretivisme, paradigma kritisisme justru memberi bobot lebih besar terhadap pengaruh kehadiran kepentingan dan jejaring kekuasaan dalam proses produksi dan reproduksi makna suatu wacana. Baik sebagai subjek maupun objek praktik wacana, individu tidak terbebas dari kepentingan ideologik dan jejaring kekuasaan.[4]

Analisis wacana kritis mengoreksi tradisi aliran positivisme dan interpretivisme yang mengabaikan proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis dan belum menganalisis factor-faktor hubungan kekuasaan yang melekat dalam setiap wacana yang selanjutnya membentuk jenis perilaku subjek.

Meskipun ada banyak ranting aliran (variance) dalam paradigma ini, semuanya memandang bahwa bahasa bukan merupakan medium yang netral dari ideologi, kepentingan dan jejaring kekuasaan.[5] Karena itu, analisis wacana kritis dikembangkan dan digunakan sebagai piranti untuk membongkar kepentingan, ideologi, dan praktik kuasa dalam kegiatan berbahasa dan berwacana. Analisis wacana kritis memperlakukan bahasa tidak sebagaimana analisis linguistik tradisional, tetapi menghubungkannya dengan konteks, termasuk bagaimana bahasa digunakan sebagai  piranti efektif memperoleh kuasa. Di antara sejumlah ranting dalam aliran wacana kritis, buah karya Norman Fairclough dan Teun A. van Dijk dianggap jauh lebih jernih dalam merinci struktur, komponen, dan unsur-unsur wacana.

  • Komponen Struktural Wacana

Sebagaimana telah disinggung di muka jika analisis wacana positivistik menekankan  kohesi sebagai tautan atau hubungan antar bagian sehingga menjadi satu kesatuan, analisis wacana kritis menekankan struktur wacana yang terdiri atas tiga aras dan membentuk satu kesatuan, yaitu struktur makro, super struktur, dan struktur mikro. Struktur makro menunjuk pada makna keseluruhan wacana (general meaning) yang dapat dicermati dari topik atau tema yang diangkat dalam wacana, super struktur menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika (lazimnya dimulai dari pendahuluan/pengantar, dilanjutkan dengan pembahasan isi pokok sebagai badan wacana, diikuti dengan kesimpulan dan diakhiri dengan penutup). Bagian mana yang didahulukan tergantung selera pembuat wacana.

Struktur mikro menunjuk pada makna setempat (local meaning) suatu wacana yang dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika. Aspek semantik suatu wacana mencakup latar, rincian, maksud, pengandaian, dan nominalisasi. Misalnya, wacana tentang kekerasan polisi. Itu terlalu umum dan abstrak. Sebab apa yang dimaksudkan dengan kekerasan tidak jelas. Karena itu, harus diperjelas ke lebih detail mengenai apa tindakan nyata yang sebenarnya dilakukan polisi sehingga disebut melakukan kekerasan.

Aspek sintaksis berkenaan dengan bagaimana frase dan kalimat disusun untuk dikemukakan. Ini menyangkut bentuk kalimat, koherensi dan penggunaan sejumlah kata ganti (pronoun). Aspek stilistika menunjuk pada pilihan kata dan gaya yang digunakan oleh produser wacana. Terakhir, aspek retorik berkaitan dengan siasat dan cara yang digunakan oleh pelaku wacana untuk memberikan penekanan pada unsur-unsur atau makna yang ditonjolkan. Ini menyangkut penampilan grafis, bentuk tulisan, metafora, serta ekspresi yang digunakan.

Dengan menganalisis keseluruhan struktur wacana sebagaimana diuraikan akan dapat diketahui kognisi sosial pembuat wacana, jenis kekuasaan yang beroperasi, dan bagaimana kekuasaan dijalankan. Guna memberikan gambaran nyata bagaimana analisis wacana kritis dilakukan dan bagaimana hasil interpretasi, berikut disajikan judul wacana publik tentang pandemi Covid-19 selama tahun 2021 yang dimuat di berbagai media nasional.      

  • Wacana Publik seputar Pandemi Covid-19

Dalam sajian ini pokok bahasan tidak sampai pada isi wacana, melainkan judul berita tentang pandemi Covid-19 yang dimuat di media, seperti Kompas, Tempo, Republika, Jawa Pos, Tribune, Merdeka, Cnn. Indonesia dan sebagainya berjumlah 28 media yang dianggap cukup mewakili semua media nasional. Ada yang berupa judul pemberitaan oleh wartawan dan opini penulis, baik yang dalam bentuk cetak maupun online melaluiwebsite media. Secara acak dikumpulkan 50 judul berita sepanjang tahun 2021 yang disajikan secara berurutan. Wacana publik tahun 2021 sengaja dipilih karena pada tahun 2021 ini jumlah kasus dan korban meninggal naik tajam dibanding tahun sebelumnya tahun 2020. Sebagai data, pada tahun 2020 yang merupakan tahun kedua pandemi Covid-19, jumlah kasus di Indonesia adalah 743.198 dan korban meninggal 22.138 orang. Pada tahun 2021, sebagaimana dipaparkan di awal sajian ini, sampai tulisan ini dibuat jumlah kasus  mencapai 4, 253 juta orang dengan 143. 753  orang meninggal. Asumsinya ialah dengan jumlah kasus dan korban meninggal lebih banyak daripada tahun sebelumnya, wacana publik tentang pandemi Covid -19 di tahun 2021 semakin  ramai dengan ditandai dengan kehadiran wacana pendukung, wacana tandingan (counter discourse) dan wacana netral sebagaimana data berikut: 

JUDUL BERITA DI MEDIA SEPUTAR PANDEMI COVID-19

    TAHUN 2021

No.Judul BeritaMediaPenulisTanggal Terbit
 7 Tips mengajar yang efektif selama pandemiRuangguru.comTedy Rizkha H.17/09/2020
 Kisah inspiratif penyintas Covid-19 menulis buku selama isolasi mandirim.liputan6.comTim liputan605/12/2020
 Kisah perjuangan kakek 95 tahun di Pontianak, berjibaku melawan virus hingga sembuh dari Covid-19m.liputan6.com           Aceng Mukaram05/12/2020
 Tantangan Pendidikan di masa pandemi, semua orang harus jadi guruKemenkopmk.go.id11/12/2020
 Pandemi ciptakan badai pengangguranJawaPos.comRomys Binekasri31/12/2020
 Virus Corona, Indonesia, dan lelucon yang tak lucuNews.detik.comHarison Haris11/02/2021
 Satu Tahun Pandemi: Jumlah pengangguran nyaris 10 juta, angka kemiskinan tembus 10 persenKompas.comMutia Fauzia02/03/2021
 Perubahan media online di masa pandemi Covid-19m.kumparan.comTia Indah Evitrilia28/04/2021
 Akibat Covid-19 yang mempengaruhi system pembelajaran bagi masyarakat Indonesiam.kumparan.comNabillah Novi Mellinda29/04/2021
 Foto: Mural bertema pandemi Covid-19 hiasi tembok di sunterm.liputan6.comArnaz Sofian02/06/2021
 Daftar plesetan PPKM, netizen bucin hingga sebut JokowiCnnindonesia.comAdi Maulana06/07/2021
 Mengeruk untung dari Covid-19 di media sosialRepublika.co.idJoko Sadewo13/07/2021
 Penanganan pandemi Covid-19 jadi alasan kritik pengamatKontan.co.idSiti Masitoh20/07/2021
 8 Plesetan PPKM alla netizen Indonesia ini kocak abis, bikin bosan jadi hilangWolipop.detik.comVina Oktiani21/07/2021
 Industri kreatif mampu hadapi tantangan pandemiKominfo.go.idDoni22/07/2021
 Kritik Penanganan Pandemi, Muhaimin: Semua Serba PemerintahKompas.comArdito Ramadhan23/07/2021
 Pendidikan di masa pandemi Covid-19: Pemerintah gagal, pelajar dan mahasiswa jadi korbanSuara.comAgung Sandy. L04/08/2021
 Mahasiswa bagikan bantuan untuk warga dan rekannya yang isolasi mandiriKompas.tvKompas Tv Banjarmasin15/08/2021
 Selain Jokowi 404: Not Found, ada juga mural dipaksa sehat di negara yang sakitTribunnews.comTheresia Felisiani16/08/2021
 Puan kritik pemerintah: Satu suara ambil kebijakan, jangan bikin rakyat bingungMerdeka.comReporter Merdeka16/08/2021
 Ini terobosan kreatif guru mengajar di masa pandemi Covid-19Sindonews.comAtik Untari18/08/2021
 Kritik penanganan pandemi, mahasiswa aksi simbolik di depan kantor dinas sosialKompas.tvKompas Tv Banjarmasin24/08/2021
 Mural jadi sarana ekspresi warga untuk survive, sikap aparat juga bertahan di masa pandemiKompas.comTatang Guritno27/08/2021
 Pemerintah terus upayakan pemulihan ekonomi, namun tetap waspada terhadap pandemi CovidKemenkeu.go.idnug/mr/hpy31/08/2021
 Sindir penanganan pandemi, spanduk kritik pemerintah dibentangkan di flyover Banjarmasin Kompas.tvKompas Tv Banjarmasin31/08/2021
 Pengamat politik apresiasi mahasiswa yang kritik pemerintah terkait penanganan pandemiKompas.tvKompas Tv Banjarmasin01/09/2021
 Unjuk Rasa Kritik Penanganan Pandemi, Pemerintah Dituding Tidak Serius  Kompas.tvKompas TV Banjarmasin01/09/2021
 Masyarakat somasi pemerintah terkait pembelajaran tatap mukaKompas.idEster Lince N.03/09/2021
 Politisi PKS kritik pemerintah soal pengelolaan anggaran selama pandemi Covid-19Tribunnews.comReza Deni06/09/2021
 Survei Cigna: Akibat pandemi Covid-19, indeks persepsi kesejahteraan Indonesia terus menurunKompas.comKiki Safitri29/09/2021
 Kemenkeu: Indonesia sudah melewati keterpurukan ekonomi akibat pandemi Covid-19Kontan.co.idSiti Masitoh02/10/2021
 Ditutupnya pasar dalam kondisi Covid-19 menjatuhkan kesejahteraan masyarakatm.kumparan.comAditya Pratama26/10/2021
 Menkes minta masyarakat tetap waspadai meski pandemi Covid-19 menurunJawaPos.comGunawan Wbisono15/11/2021
 Dampak pandemi Covid-19, masalah kesejahteraan sosial di Bantul meningkatSuarajogja.idEleonora17/11/2021
 Presiden: Kunci pertumbuhan ekonomi 2022 hanya pengendalian pandemiKominfo.go.idDoni18/11/2021
 Indonesia mulai uji vaksin booster dengan Sinovac awal 2022Cnnindonesia.comMuhammad Adimaja18/11/2021
 Cara Erik Thohir wadahi ekspresi warga di tengah pandemi lewat lapangan muralm.merdeka.comReporter Merdeka22/11/2021
 Jokowi khawatir lonjakan kasus Covid-19 bisa tekan pertumbuhan ekonomi IndonesiaKontan.co.idAbdul Basith Bardan23/11/2021
 Tak ada penyekatan akhir tahun, Polri optimalkan pos-pos PPKM di daerahNews.detik.comAdhyasta Dirgantara23/11/2021
 Menkes: Pandemi buka peluang kolaborasi dunia perkuat system Kesehatanm.antaranews.comAndi Firdaus23/11/2021
 Kemenkes: Secara teori RI belum capai Herd ImmunityCnnindonesia.comSafir Makki23/11/2021
 Kritik untuk Jokowi dalam Tangani Pandemi, Bermain Istilah Sampai Minim RencanaNasional.tempo.coFriski Riana24/11/2021
 Aturan lengkap PPKM selama Nataru: Larang mudik hingga tutup alun-alunCnnindonesia.comMaulana Surya24/11/2021
 Pemerintah larang pawai dan arak-arakan perayaan tahun baru 2022Cnnindonesia.comSafir Makki24/11/2021
 Jokowi: Waspada pandemi gelombang 3, Covid-19 di Eropa sedang tinggi-tingginyaNasional.kompas.comFitria Chusna F.24/11/2021
 Natal-tahun baru, sekolah diimbau tak liburkan siswa secara khususNasional.kompas.comFitria Chusna F.24/11/2021
 Aturan terkait libur natal-tahun baru, pemerintah meniadakan mudikNasional.kompas.comDeti Mega P.24/11/2021
 Pro-kontra: Setujukan PPKM level 3 diterapkan di seluruh RI saat Nataru?Health.detik.comNafilah Sri Sagita K.24/11/2021
 Pakar IDI sentil anggapan PPKM level 3 tak diperlukan: Lihat SingapuraHealth.detik.comNafilah Sri Sagita K.24/11/2021
 Kegiatan seni budaya dan olahraga ditiadakan, alun-alun ditutup pada Natarum.kumparan.comTim kumparan24/11/2021
  • Analisis Judul Berita Wacana Publik seputar Pandemi Covid-19

Membaca masing-masing judul berita wacana publik tentang pandemi Covid-19 melalui analisis struktur makro, kita segera mendapatkan tema dan topik wacana secara umum. Setidaknya terdapat tiga kelompok besar para pembuat wacana. Pertama pihak yang bersikap pro terhadap pemerintah, kontra dan netral. Dari 50 judul berita terdapat 24 judul yang bersikap pro, 25  kontra dan  1 netral.

Wacana Pro Pemerintah

No.Judul BeritaMediaPenulisTanggal TerbitKata Kunci
 Kemenkeu: Indonesia sudah melewati keterpurukan ekonomi akibat pandemi Covid-19Kontan.co.idSiti Masitoh02/10/2021melewati
 Jokowi khawatir lonjakan kasus Covid-19 bisa tekan pertumbuhan ekonomi IndonesiaKontan.co.idAbdul Basith Bardan23/11/2021khawatir
 Menkes minta masyarakat tetap waspadai meski pandemi Covid-19 menurunJawaPos.comGunawan Wbisono15/11/2021waspadai
 Menkes: Pandemi buka peluang kolaborasi dunia perkuat system Kesehatanm.antaranews.comAndi Firdaus23/11/2021kolaborasi
 Pemerintah terus upayakan pemulihan ekonomi, namun tetap waspada terhadap pandemi CovidKemenkeu.go.idnug/mr/hpy31/08/2021pemulihan
 Cara Erik Thohir wadahi ekspresi warga di tengah pandemi lewat lapangan muralm.merdeka.comReporter Merdeka22/11/2021wadahi
 Tantangan Pendidikan di masa pandemi, semua orang harus jadi guruKemenkopmk.go.id11/12/2020Tantangan
 Ini terobosan kreatif guru mengajar di masa pandemi Covid-19Sindonews.comAtik Untari18/08/2021terobosan kreatif
 7 Tips mengajar yang efektif selama pandemiRuangguru.comTedy Rizkha H.17/09/2020mengajar yang efektif
 Pemerintah larang pawai dan arak-arakan perayaan tahun baru 2022Cnnindonesia.comSafir Makki24/11/2021larang pawai dan arak-arakan
 Aturan lengkap PPKM selama Nataru: Larang mudik hingga tutup alun-alunCnnindonesia.comMaulana Surya24/11/2021Larang mudik
 Kemenkes: Secara teori RI belum capai Herd ImmunityCnnindonesia.comSafir Makki23/11/2021belum capai
 Indonesia mulai uji vaksin booster dengan Sinovac awal 2022Cnnindonesia.comMuhammad Adimaja18/11/2021mulai uji vaksin booster
 Jokowi: Waspada pandemi gelombang 3, Covid-19 di Eropa sedang tinggi-tingginyaNasional.kompas.comFitria Chusna F.24/11/2021Waspada
 Natal-tahun baru, sekolah diimbau tak liburkan siswa secara khususNasional.kompas.comFitria Chusna F.24/11/2021diimbau tak liburkan
 Tak ada penyekatan akhir tahun, Polri optimalkan pos-pos PPKM di daerahNews.detik.comAdhyasta Dirgantara23/11/2021Optimalkan
 Pakar IDI sentil anggapan PPKM level 3 tak diperlukan: Lihat SingapuraHealth.detik.comNafilah Sri Sagita K.24/11/2021sentil
 Kegiatan seni budaya dan olahraga ditiadakan, alun-alun ditutup pada Natarum.kumparan.comTim kumparan24/11/2021Ditiadakan
 Kisah inspiratif penyintas Covid-19 menulis buku selama isolasi mandirim.liputan6.comTim liputan605/12/2020Inspiratif
 Kisah perjuangan kakek 95 tahun di Pontianak, berjibaku melawan virus hingga sembuh dari Covid-19m.liputan6.com           Aceng Mukaram05/12/2020Perjuangan
 Perubahan media online di masa pandemi Covid-19m.kumparan.comTia Indah Evitrilia28/04/2021Perubahan
 Industri kreatif mampu hadapi tantangan pandemiKominfo.go.idDoni22/07/2021Mampu
 Presiden: Kunci pertumbuhan ekonomi 2022 hanya pengendalian pandemicKominfo.go.idDoni18/11/2021Pengendalian
 Dampak pandemi Covid-19, masalah kesejahteraan sosial di Bantul meningkatSuarajogja.idEleonora17/11/2021Meningkat

Pihak pro pemerintah  menulis judul berita dengan memilih kalimat yang mengandung ajakan untuk tetap tenang, optimis, tidak panik, dan meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah mampu mengatasi persoalan wabah pandemi. Tema “menenangkan” masyarakat tetapi akhirnya dianggap blunder sebenarnya sudah bisa dilihat sejak awal kemunculan pandemi di Wuhan China melalui ungkapan-ungkapan kontroversial seperti “belum ada virus Corona terdeteksi di Indonesia, dan ini harus disyukuri”, “virus Corona tidak akan masuk ke Indonesia karena tiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal”, dan “pencegahan virus dengan memperbanyak wudhu dan baca Qunut saat sholat”. Banyak pihak menyayangkan ucapan yang bernada bernada meremehkan dan berdampak pada langkah-langkah tidak efektif pemerintah dalam menghadapi wabah  Covid.        

    Judul berita dari Kemenkeu “Indonesia melewati keterpurukan ekonomi akibat pandemi Covid-19” menunjukkan sikap pro terhadap pemerintah melalui kata “melewati”. Pemilihan diksi ‘melewati” sengaja digunakan untuk membangun opini mengenai “keberhasilan” pemerintah menyelesaikan persoalan wabah Covid-19. Menariknya, tidak dijelaskan secara rinci dan detail bagaimana cara “melewatinya” dan apa ukuran keberhasilan telah melewatinya. Padahal, kenyataannya jumlah kasus dan korban meninggal terus bertambah.

Tampak jelas wacana “keberhasilan” pemerintah didukung oleh wacana lain melalui judul berita “Menkes: Pandemi buka peluang kolaborasi dunia perkuat sistem kesehatan”. Wabah Covid-19 ini dianggap berkah karena muncul peluang kerjasama untuk memperkuat sistem kesehatan. Wacana ini sengaja dibangun untuk menghibur masyarakat yang sebenarnya sedang gelisah akibat Covid-19 melalui ungkapan “muncul peluang”. Ini artinya sebelum ada pandemi Covid-19 peluang itu tidak ada dan baru muncul justru ketika terjadi wabah pandemi, sehingga secara tersirat dapat dimaknai pandemi juga membawa keberuntungan, khususnya di bidang sistem kesehatan.                

Upaya menenangkan masyarakat juga terlihat melalui judul berita “Menkes minta masyarakat tetap waspada meski pandemi Covid-19 menurun”. Memilih diksi “menurun” adalah siasat untuk menenangkan masyarakat agar tidak panik menghadapi  pandemi Covid-19 karena pandemi sudah hampir berakhir. Jika bersikap netral, pilihan diksinya adalah “berkurang”, bukan “menurun”.

Judul-judul berita seperti “Pemerintah terus upayakan pemulihan ekonomi, namun tetap waspada terhadap pandemi Covid”, “Ini terobosan kreatif guru mengajar di masa pandemi Covid-19”, “7 Tips mengajar yang efektif selama pandemi”, “Kisah inspiratif penyintas Covid-19 menulis buku selama isolasi mandiri”, “Kisah perjuangan kakek 95 tahun di Pontianak berjibaku melawan virus hingga sembuh dari Covid-19”,  “Industri kreatif mampu hadapi tantangan pandemi”,  dan “Dampak pandemi Covid-19, masalah kesejahteraan sosial di Bantul meningkat” adalah bukti wacana “menenangkan” dari pemerintah yang disajikan secara terstruktur dan sistematis. Disebut terstruktur dan sistematis karena antar-wacana saling mendukung untuk membangun wacana “keberhasilan” pemerintah dalam mengendalikan Covid-19.

Aspek semantik pada pilihan kata wacana pendukung pemerintah seperti “terus upayakan”, “terobosan”, “efektif”, “inspiratif”, “perjuangan”, “mengeruk untung”, “mampu”, dan “meningkat” mudah dibuat sebuah generalisasi adanya upaya bersama untuk menunjukkan bahwa pemerintah mampu dan berhasil mengendalikan Covid sehingga masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan.

Selain untuk menentramkan masyarakat, siasat tersebut juga dimaksudkan untuk mempengaruhi makna yang muncul berupa protes dan kritik tentang tindakan pemerintah dalam menangani wabah Covid yang terjadi di beberapa tempat. Pemerintah bukan tidak sadar terhadap munculnya ketidakpuasan masyarakat dalam menangani Covid. Karena itu, wacana keberhasilan disuarakan secara masif, sistematis dan terstruktur.                           

Wacana Kontra Pemerintah

No.Judul BeritaMediaPenulisTanggal TerbitKata Kunci
 Pandemi ciptakan badai pengangguranJawaPos.comRomys Binekasri31/12/2020Ciptakan badai
 Satu Tahun Pandemi: Jumlah pengangguran nyaris 10 juta, angka kemiskinan tembus 10 persenKompas.comMutia Fauzia02/03/2021Nyaris & tembus
 Virus Corona, Indonesia, dan lelucon yang tak lucuNews.detik.comHarison Haris11/02/2021Lelucon
 Mural jadi sarana ekspresi warga untuk survive, sikap aparat juga bertahan di masa pandemiKompas.comTatang Guritno27/08/2021sarana ekspresi
 Selain Jokowi 404: Not Found, ada juga mural dipaksa sehat di negara yang sakitTribunnews.comTheresia Felisiani16/08/2021Dipaksa
 Foto: Mural bertema pandemi Covid-19 hiasi tembok di sunterm.liputan6.comArnaz Sofian02/06/2021Hiasi
 Daftar plesetan PPKM, netizen bucin hingga sebut JokowiCnnindonesia.comAdi Maulana06/07/2021Plesetan
 8 Plesetan PPKM ala netizen Indonesia ini kocak abis, bikin bosan jadi hilangWolipop.detik.comVina Oktiani21/07/2021Plesetan
 Pendidikan di masa pandemi Covid-19: Pemerintah gagal, pelajar dan mahasiswa jadi korbanSuara.comAgung Sandy. L04/08/2021Gagal & korban
 Masyarakat somasi pemerintah terkait pembelajaran tatap mukaKompas.idEster Lince N.03/09/2021Somasi
 Unjuk Rasa Kritik Penanganan Pandemi, Pemerintah Dituding Tidak Serius  Kompas.tvKompas TV Banjarmasin01/09/2021Dituding
 Kritik Penanganan Pandemi, Muhaimin: Semua Serba PemerintahKompas.comArdito Ramadhan23/07/2021Kritik
 Kritik untuk Jokowi dalam Tangani Pandemi, Bermain Istilah Sampai Minim RencanaNasional.tempo.coFriski Riana24/11/2021Minim rencana
 Penanganan pandemi Covid-19 jadi alasan kritik pengamatKontan.co.idSiti Masitoh20/07/2021Alas an
 Puan kritik pemerintah: Satu suara ambil kebijakan, jangan bikin rakyat bingungMerdeka.comReporter Merdeka16/08/2021Kritik
 Politisi PKS kritik pemerintah soal pengelolaan anggaran selama pandemi Covid-19Tribunnews.comReza Deni06/09/2021Kritik
 Pengamat politik apresiasi mahasiswa yang kritik pemerintah terkait penanganan pandemicKompas.tvKompas Tv Banjarmasin01/09/2021Apresiasi
 Sindir penanganan pandemi, spanduk kritik pemerintah dibentangkan di flyover Banjarmasin Kompas.tvKompas Tv Banjarmasin31/08/2021Sindir
 Kritik penanganan pandemi, mahasiswa aksi simbolik di depan kantor dinas sosialKompas.tvKompas Tv Banjarmasin24/08/2021Kritik
 Mahasiswa bagikan bantuan untuk warga dan rekannya yang isolasi mandiriKompas.tvKompas Tv Banjarmasin15/08/2021Bagikan
 Ditutupnya pasar dalam kondisi Covid-19 menjatuhkan kesejahteraan masyarakatm.kumparan.comAditya Pratama26/10/2021Menjatuhkan
 Aturan terkait libur natal-tahun baru, pemerintah meniadakan mudikNasional.kompas.comDeti Mega P.24/11/2021Meniadakan
 Akibat Covid-19 yang mempengaruhi sistem pembelajaran bagi masyarakat Indonesiam.kumparan.comNabillah Novi Mellinda29/04/2021mempengaruhi
 Survei Cigna: Akibat pandemi Covid-19, indeks persepsi kesejahteraan Indonesia terus menurunKompas.comKiki Safitri29/09/2021Menurun
 Mengeruk untung dari Covid-19 di media sosialRepublika.co.idJoko Sadewo13/07/2021Mengeruk

   Pihak kontra terhadap sikap pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 tampak pada judul-judul di atas. Melalui analisis struktur makro dengan mudah ditemukan tiga jenis wacana kontra, yaitu  keras dan terus terang, normati, dan sindiran berupa pelesetan. Wacana kontra melalui pilihan diksi sangat keras seperti “badai”, “pengangguran capai 10 juta”, “pemerintah gagal”, “pemerintah tidak serius”, “masyarakat somasi pemerintah”, dan “menjatuhkan kesejahteraan masyarakat”.  Wacana dengan ungkapan normatif seperti “indeks persepsi kesejahteraan Indonesia terus menurun”. Yang menurun ialah indeks persepsi mengenai kesejahteraan, bukan indeks kesejahteraan.

Ada judul berita “Mengeruk untung dari Covid-19 di media sosial” ditulis Republika sebenarnya dapat diartikan sebagai kritik terhadap suatu ketidakpantasan atau ketidakpatutan. Bagaimana seseorang bisa meraih untung di tengah-tengah kesulitan orang lain. Menariknya dari pihak kontra terhadap pemerintah juga terdapat ungkapan-ungkapan plesetan seperti PPKM menjadi “Pak Presiden Kapan Mundur”, “Pedekate Pacaran Kandas Melulu”, Lock down menjadi “Lauk Daun”, “Pala Pusing Kurang Money”, dan sebagainya.

Penggunaan plesetan mengingatkan kita pada penggunaan plesetan di era rezim otoriter Orde Baru. Rezim. Ketika rakyat merasa terhimpit oleh sikap otoriter penguasa Orde Baru saat itu banyak bertebar ungkapan-ungkapan mengejek, menyindir, dan memrotes penguasa melalui plesetan. Menggunakan perspektif James C. Scott “Weapons of the Weak”, plesetan ialah cara masyarakat melakukan perlawanan terhadap penguasa dan siasat menarik perhatian pemerintah .  

Analisis semantik terhadap wacana kontra dengan mudah pula menemukan generalisasi sikap tidak suka dan tidak puas terhadap cara pemerintah menangani pandemi. Penggunaan kata-kata keras dan terus terang, kata-kata normatif dan satire atau sindiran menjadi satu kesatuan bangunan wacana kontra terhadap pemerintah.    

Wacana Netral

No.Judul BeritaMediaPenulisTanggal TerbitKata Kunci
 Pro-kontra: Setujukah PPKM level 3 diterapkan di seluruh RI saat Nataru?Health.detik.comNafilah Sri Sagita K.24/11/2021Setujukah

Dari 50 judul berita ditemukan satu wacana netral yang menanyakan sikap masyarakat atas perpanjangan PPKM level 3 untuk diberlakukan di seluruh Indonesia.  Kata kunci “setujukah” menggambarkan sikap netral terhadap kebijakan perpanjangan PPKM. Analisis ini akan lebih menarik jika wacana netral bisa lebih banyak lagi, sehingga dapat ditemukan wacana imbang (balanced discourse) sehingga masyarakat tidak terbelah pada dua pihak pro dan kontra.       

  • Simpulan

Sebagaimana tampak dari contoh-contoh di atas, melalui analisis wacana kritis menjadi begitu jelas bagaimana bahasa telah digunakan sebagai piranti kepentingan. Isu pandemi Covid-19 telah dengan nyata dijadikan wacana publik tempat orang dengan berbagai kepentingan dan telah menjadi wacana politik. Sekali lagi bahasa telah terbukti bukan sebagai medium netral untuk mengungkapkan pendapat. Di satu sisi pemerintah berusaha keras membangun wacana agar tetap terjaga kepercayaannya dari masyarakat dan meyakinkan publik bahwa pandemi dapat diatasi. Upaya membangun wacana secara masif, terstruktur dan sistematis melalui wacana yang saling mendukung menjadi siasat ampuh untuk mengendalikan keadaan. Melalui wacana “keberhasilan” dan “menentramkan”, pemerintah merekayasa dunia batin masyarakat lahir dan batin. Sebaliknya, bagi pihak yang kontra wacana digunakan untuk melakukan perlawanan atau setidaknya sikap tidak suka pada pemerintah.

Melalui analisis wacana kritis, menjadi semakin mudah untuk memahami wacana dan kontra wacana seperti hegemoni dan kontra hegemoni. Pelajaran penting lain dari analisis wacana kritis ini ialah betapa sulit mencapai makna bersama (shared meaning) dan pandangan yang sama (shared perspectives) di masyarakat dalam menghadapi isu yang sama. Penguasa selalu ingin menancapkan kekuasaannya melalui pembangunan wacana keberhasilan. Sebaliknya, pihak di luar pemerintah selalu memaknai berbeda apa pun yang dilakukan pemerintah. Walhasil, kepiawian membangun wacana melalui pilihan diksi, struktur sintaksis dan retorika yang tepat merupakan strategi jitu bagi penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya.


[1] Mohammad AS. Hikam.1999. “Bahasa, Politik dan Penghampiran ‘Discursive Practice’: Sebuah Catatan Awal”, dalam Demokrasi dan Civil Society. Jakarta: LP3ES.

[2] Gillian Brown and George Yule. 1989. Discourse Analysis. Cambridge: Cambridge University Press.

[3] J. L. Austin. 1962. How to Do Things with Words. Cambridge, Mass.: Harvard University Press; , H. P. Grice. 1989. Studies in the Way of Words. Cambridge, Mass.: Harvard University Press.

[4] Teun A. van Dijk. 2003. Ideology and discourse: A Multidisciplinary Introduction. Internet Course for the Oberta de Catalunya (UOC).

[5] Periksa Sakban Rosidi. “Violence Discourse or Discursive Violence? Toward a Reciprocal Model of Relationship between Language and Violence”, Poetica Journal of Language and Literature, Volume 1, No. 1 August 2001. Periksa pula Eriyanto. 2000. Kekuasaan Otoriter: Dari Gerakan Penindasan Menuju Politik Hegemoni. Yogyakarta: Insist.

Visits: 179068
Today: 14

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *