Tantangan Penelitian Sosial di Era Post-Truth

Seiring dengan perubahan masyarakat yang begitu cepat, penelitian sosial yang objek utamanya masyarakat dan objek di dalamnya, baik dengan metode kuantitatif, kualitatif maupun kritis, menarik untuk dibahas. Walau tidak semaju penelitian ilmu-ilmu alam, penelitian sosial memiliki prospek dan tantangan tersendiri. Sebagai aktivitas ilmiah, penelitian tidak bisa dilepaskan dari  ruang dan waktu atau konteks kapan dan di mana penelitian dilakukan, lebih-lebih penelitian sosial bersifat socially and culturallybound.

Penelitian sosial merupakan proses yang melakukan perbaikan terus menerus dan berlangsung secara siklus ( a cyclus improving process), lazimnya terdiri atas tujuh tahapan saling terkait, yaitu  masalah penelitian, hipotesis, desain penelitian, pengukuran, pengumpulan data, analisis data dan generalisasi. Karena masing-masing tahapan  itu saling terkait, satu tahapan tidak akan dapat dikerjakan tanpa tahapan lainnya. Sebagai contoh, hipotesis — yang digunakan di dalam metode penelitian kuantitatif— tidak dapat dikerjakan sebelum masalah penelitian dirumuskan dengan baik. Begitu juga tahap-tahap selanjutnya.       

Lokus dan situasi penelitian yang berubah meniscayakan perubahan prosedur dan teknik penelitian seperti observasi, penarikan kesimpulan, generalisasi dan analisis yang semuanya merupakan bagian inti dari metode penelitian. Tak satu pun orang mengingkari bahwa metode penelitian dianggap sebagai cara yang paling syah untuk memeroleh pengetahun ilmiah. Pengetahuan ilmiah ialah pengetahuan yang diperoleh dari kerja ilmiah, dapat dibuktikan baik oleh nalar logis maupun pengalaman melalui observasi dan selanjutnya bisa diverifikasi. Secara ringkas dapat dikatakan objek yang diteliti dalam penelitian  empirik harus harus logis, empirik, dan dapat diverifikasi (logical, observable, and verifiable). Sebagai contoh, mahasiswa yang akan melakukan penelitian untuk menyusun disertasi di bidang manajemen pendidikan Islam, atau pendidikan bahasa Arab, dan bidang-bidang lainnya harus memilih tema atau objek penelitian yang rasional, fenomenanya dapat diobservasi atau kasat mata, dan dapat diverifikasi oleh siapa pun.      

Dapat ditambahkan bahwa penelitian dengan metode yang tepat dan proses yang benar serta data yang valid dan dapat dipercaya (valid and trustworthy) akan berkontribusi besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Metode penelitian juga akan menentukan tingkat keilmiahan suatu pengetahuan. Menurut Nachmias dan Nachmias (1976: 9), ilmu pengetahuan dapat membantu kita untuk menjelaskan, memprediksi, dan memahami peristiwa-peristiwa atau gejala yang menjadi perhatian kita. Seorang ahli gempa, misalnya,  dapat memprediksi terjadinya gempa dengan mencermati fenomena alam yang terjadi dalam pola yang ajek, sehingga dapat menyelamatkan masyarakat dari korban gempa melalui sistem peringatan dini. Setelah mengamati gejala ekonomi bertahun-tahun ahli ekonomi juga dapat memberi peringatan kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadi resesi  berdasarkan pola-pola tertentu.

Selain itu, ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi masyarakat. Melalui ilmu pengetahuan, sesuatu yang masih samar-samar atau tidak diketahui sebelumnya dengan jelas dapat dikenali sekarang dan menjadi pengetahun baru,  walaupun yang kita sebut ‘baru’ itu akan terus diperbaiki atau  direvisi karena muncul hal-hal baru. Sesuatu yang disebut ‘baru’ pada saat penelitian dilakukan menjadi tidak baru lagi pada kurun lima atau sepuluh tahun sesudahnya. Ini terjadi karena gejala, baik alam, sosial maupun kemanusiaan,  telah berubah.

Adalah metode penelitian yang menentukan suatu pengetahuan ilmiah atau tidak, bukan pengetahuannya itu sendiri. Menurut Nachmias dan Nachmias (1976: 15) ilmu pengetahun  tidak terbangun oleh objeknya, melainkan oleh metodologinya. Melalui analisis data, peneliti akan menarik kesimpulan yang akan menjadi pengetahuan baru bagi masyarakat. Hasil penelitian yang benar dalam bidang apa pun akan sangat bermanfaat bagi masyarakat dan dalam skala yang lebih luas ia akan menyumbang peradaban manusia. Karena itu, betapa pentingnya ilmu tentang penelitian atau metodologi penelitian bagi pecinta ilmu atau siapa saja yang mengabdikan diri dan menggeluti ilmu pengetahuan.  

Selain itu, metodologi penelitian menuntun masyarakat (baca: ilmuwan) untuk dapat berpikir sistemik, sistematik, logis dan membiasakan diri mengambil inferensi atas dasar data, bukan opini yang biasanya bersifat subjektif serta membuang jauh-jauh hal-hal bersifat mitos dan tahayul. Sikap demikian merupakan modal utama kemajuan masyarakat. Sebagai contoh, kemajuan masyarakat Barat tidak lepas dari kebiasaan berpikir logis, kritis dan cermat dalam mengambil kesimpulan terhadap suatu masalah. Sikap cermat, logis dan tidak mudah menyimpulkan sesuatu yang belum pasti telah menjadi budaya masyarakat Barat yang sangat besar perannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Tak mengherankan jika masyarakat Barat merupakan sumber sebagian besar pengembangan ilmu pengetahuan.  Berpikir rasional atas dasar bukti empirik telah menjadi tradisi berpikir masyarakat Barat sejak era Renaisans.      

Dalam situasi normal di mana sendi dan tata kehidupan masyarakat berjalan lancar, nalar sebagai instrumen utama penelitian dapat bekerja dengan baik sehingga penelitian dapat menghasilkan temuan yang benar (kebenaran ilmiah)  dan tidak menyesatkan. Kebenaran ilmiah hakikatnya adalah kebenaran berdasar bukti (evidence), dengan menggunakan metode dan teori yang tepat untuk menjelaskannya.  Kerja nalar akan terganggu ketika di masyarakat berkembang informasi yang riuh dan membingungkan bagi peneliti.

Kini masyarakat dunia memasuki sebuah era yang disebut era pasca-kebenaran (post-truth era). Sebagaimana kita ketahui istilah post-truth sudah dikenalkan oleh Steve Tesich pada tahun 1992, sehingga tidak baru sama sekali. Tahun 2004, istilah post-truth dikenalkan lagi oleh Ralph Keyes, yang artinya kurang lebih menggambarkan sesuatu itu seolah-olah benar, padahal tidak benar sama sekali. Cirinya adalah sebuah kebohongan atau kepalsuan diceritakan berkali-kali hingga akhirnya dianggap sebuah  kebenaran. Opini dianggap lebih penting daripada fakta melalui olah emosi dan perasaan. Post-truth kini seolah telah menjelma sebagai mazhab baru cara berpikir hingga sebagian masyarakat tidak sadar bahwa dirinya telah menjadi korban kebohongan.    

Kebohongan diciptakan melalui permainan bahasa. Sesuai dengan sifatnya, bahasa memang dapat menjelaskan sesuatu yang ramang-ramang menjadi terang benderang. Tetapi sebaliknya, ia bisa menjadi alat sangat efektif untuk mengubah opini menjadi fakta melalui pilihan kata-kata yang sangat canggih. Berbagai macam kebohongan, mulai dari hal-hal yang sederhana hingga dusta mewarnai kehidupan masyarakat di era post-truth. Didukung oleh media sosial yang menginformasikan berita secara massif, dengan sangat mudah sesuatu yang masih bersifat pandangan orang atau opini berubah seolah sebuah kebenaran yang dipercaya. Padahal, beda antara opini dengan fakta itu jauh sekali. Penelitian tidak boleh menggunakan opini untuk menarik kesimpulan. Bahaya yang lebih besar dari era post-truth ialah matinya akal sehat. Ketika akal sehat telah mati, masyarakat tidak lagi bisa berpikir rasional dan berjalan tanpa arah. Padahal, akal sehat merupakan komponen utama kerja penelitian.     

Penelitian sosial, termasuk keagamaan, saat ini dihadapkan pada situasi semacam itu. Untuk menghadapinya, sangat diperlukan kecerdikan, ketajaman dan  kejernihan nalar peneliti. Metode ilmiah menuntut kompetensi bernalar logis dan analisis yang tajam. Dengan didukung oleh beragam referensi, termasuk fakta-fakta terkait, kedalaman dan keluasan berargumentasi, serta pandangan para ahli,  nalar logis akan dapat mengenali sesuatu sebagai kebohongan atau kebenaran.  

Nalar adalah karunia Tuhan sangat agung yang diberikan kepada manusia untuk dapat digunakan berbagai keperluan: berpikir logis, kritis, memilah yang benar dan salah, membedakan antara opini dan fakta, Menurut mazhab rasionalisme, nalar memiliki kemampuan untuk menentukan sesuatu benar dan salah, tanpa harus didahului oleh bukti empirik — sebagaimana dianut oleh mazhab empirisisme. Menurut Nachmias dan Nachmias (1976: 7), selain mampu mehahami fenomena, nalar manusia mampu mengenali dirinya, dan orang lain. Nalar melahirkan metode deduktif, yakni penarikan kesimpulan berdasarkan logika. Dalam deduksi kesimpulan yang benar diturunkan dari dua kenyataan yang dianggap benar atau memang merupakan suatu kenyataan yang diturunkan dari pengalaman. Nasoetion (2008: 53) memberi penjelasan tentang deduksi bahwa kesimpulan mengenai suatu hal diperoleh dengan menurunkannya dari pernyataan-pernyataan lain yang disebut premis (alasan) yang mendasari argumen.

Kerja nalar untuk menghasilan pengetahuan yang benar dan logis dapat ditunjang oleh rasa ingin tahu peneliti terhadap masalah yang menjadi pokok bahasan penelitian. Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, seseorang akan berusaha dan berkerja keras menemukan sesuatu yang dicari.  Jika yang dicari adalah sesuatu yang benar, maka seseorang akan berusaha dengan gigih mencari kebenaran. Untuk itu, seorang peneliti tidak begitu saja percaya pada informasi sekilas dari satu sumber atau teknik perolehan data. Yin (2018) menyebutkan beberapa sumber data sangat penting, terutama dalam penelitian kualitatif, untuk memeroleh data atau bukti yang handal, yaitu domumentasi, catatan arsip, wawancara, observasi langsung, observasi partisipatif, dan artifak fisik, Yin menyarakan berbagai sumber dan metode pengumpulan data dapat dipakai secara simultan.     

Penelitian adalah kegiatan yang berlangsung secara siklus. Sesuai namanya, research, (re+search) kegiatan mengumpulkan data hingga benar-benar diperoleh data yang handal  dan kredibel dilakukan berulang-ulang. Jika  merasa ada keraguan baik pada kualitas data dan analisis data, seorang peneliti bisa terus mengulang dengan melakukan pengecekan data dan kesimpulan yang dihasilkan. Peneliti akan berhenti melakukan pengulangan jika diyakini tidak ada hal-hal yang meragukan.

Ciri kerja penelitian adalah ditemukannya hal baru pada ilmu yang ditekuni, yang lazim disebut sebagai novelty. Apa yang disebut dengan kebaruan (novely) dalam penelitian? Apa baru sama sekali? Tentu tidak. Merevisi atau menambah sesuatu yang sudah ada sebelumnya bisa dianggap sebuah novelty. Hindari penelitian yang hanya berupa repetisi, imitasi apalagi plagiasi. Kebaruan (novelty) mengandung inovasi. Karena itu, penelitian yang  menghasilkan hal yang sama dengan sebelumnya tidak berkontribusi sama sekali dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Biasanya peneliti pemula atau yang belum berpengalaman mengatakan “temuan penelitian saya sesuai atau mendukung temuan penelitian sebelumnya oleh Mr X”. Dengan menyatakan temuan penelitiannya “sesuai” atau “mendukung” temuan sebelumnya berarti tidak ada inovasi sama sekali.  Kerja penelitian semacam ini tidak bernilai sama sekali bagi pengembangan ilmu pengetahuan, walau ditulis beratus-ratus halaman. 

Menghadapi situasi perubahan masyarakat saat ini, meminjam ungkapan LT Handoko, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagaimana dikutip Burhani (Kompas, 8/1/2022), diperlukan budaya riset di kalangan masyarakat, berupa keingintahuan yang besar, peka pada masalah di sekitarnya, kreatif mencari solusi, dan kompeten membuktikannya secara ilmiah yang diakui komunitasnya. Seorang penelti sosial bisa berkontribusi membentuk masyarakat berbudaya meneliti (a research society) agar terhindar dari berbagai kebohongan.                                    

 Selain itu, untuk menghindarkan diri dari kesalahan penarikan kesimpulan akibat kebohongan atau kepalsuan yang berkembang, peneliti harus banyak membaca referensi terkait tema pokok yang menjadi fokus penelitiannya. Pengetahuan berkembang secara berkesinambungan dari seorang ilmuwan ke ilmuwan berikutnya, dari satu generasi ke generasi berikutnya dan seterusnya. Karena itu, secara etis suatu penelitian bidang ilmu apa pun mesti dikembangkan dari penelitian-penelitian sebelumnya. Seorang peneliti harus mengenali peneliti-peneliti sebelumnya dalam bidang ilmu sejenis, mulai siapa melakukan apa, rumusan masalahnya, metode, dan teori yang digunakan, hasil dan  rekomendasinya apa. Kapan dan di mana penelitian dilakukan peneliti sebelumnya juga perlu diketahui. Bagian akhir ini yang lazim disebut sebagai state of the arts dalam penelitian.

Melalui state of the arts, peneliti akan terhindar dari penyebutan dirinya sebagai peneliti terbaru di bidangnya dan belum ada peneliti sebelumnya. Sangat sembrono dan tidak etis bagi peneliti yang mengatakan dirinya sebegai peneliti pertama dan belum ada penelitian sebelumnya.  Seorang ilmuwan itu berdiri di atas ilmuwan-ilmuwan sebelumnya. Ilmuwan itu selalu berdiri di atas kerja dan temuan-temuan ilmiah sebelumnya, Dalam ungkapan Ahmad Najib Burhani, ilmuwan itu “standing on the shoulders of giants”.          

Dengan menggunakan sumber dan metode perolehan data yang beragam dan dilakukan berulang-ulang, nalar yang logis dan analisis yang tajam ditopang oleh argumentasi yang kuat didukung oleh referensi dan bukti empirik yang handal, peneliti sosial akan terhindar dari kebohongan dan kepalsuan yang mengalir begitu deras. Menggunakan potensi kekuatan nalar atau akal akan dapat mendorong seseorang bersikap teliti dalam mengelola berbagai informasi, jernih dalam berpikir, tajam dalam memandang sesuatu, dan tepat memprediksi serta cermat dalam mengamati gejala yang diteliti.  Kebohongan atau kepalsuan akan terkalahkan oleh kekuatan nalar yang dapat dimanfaatkan dengan baik!  

__________________

Daftar Pustaka

Ahmad Najib Burhami. 2022. “Budaya Riset” , Kompas, 8/1/2022.

Nachmias, David dan Chava Nachmias, 1976, Research Methods in the Social

Sciences. New York: St. Martin’s Press.

Nasoetion, Andi Hakim. 2008. Pengantar ke Filsafat Sains. Bogor: Litera

AntarNusa   

Yin, Robert K. 2018. Case Study Research and Applications. Design and

Methods. Thousand Oaks, California: Sage  Publications, Inc.

Visits: 34388
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *