Memahami (Kembali) Studi Kasus

  • Pengantar

Pada judul tulisan di atas, kata ‘kembali’ ditulis di antara tanda kurung, karena sebenarnya naskah yang sama pernah ditulis dan telah diunggah di blog penulis. Respons positif terhadap tulisan tersebut sangat banyak  da diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan menarik. Tampaknya studi kasus menjadi salah satu jenis penelitian yang  sangat populer di kalangan mahasiswa, baik program S1, S2, maupun S3. Dari delapan naskah dan proposal disertasi yang saya baca akhir-akhir ini, enam di antaranya memilih studi kasus sebagai pendekatan. Sebenarnya tidak saja di kalangan  mahasiswa, studi kasus juga sangat populer di kalangan ilmuwan sosial sejak kemunculannya hingga saat ini. Sayangnya minat yang tinggi belum diikuti dengan pemahaman yang komprehensif  sehingga masih terjadi kesalahpahaman dan kerancuan. Akibatnya, tujuan penelitian tidak tercapai sebagaimana diharapkan.  

Menurut   Yin (2018), studi kasus tidak saja populer, tetapi juga merupakan salah satu jenis penelitian yang paling menantang digunakan di berbagai disiplin ilmu sosial, mulai sosiologi, politik, psikologi, sejarah, hingga ekonomi dan sebagainya. Tak ketinggalan para ahli pendidikan juga bisa menggunakan studi kasus sebagai pendekatan penelitian. Lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal seperti pondok pesantren dengan keunikan dan kekhasannya, merupakan  lahan yang sangat subur untuk penelitian studi kasus.

Sajian singkat berikut merupakan penjelasan lebih lanjut dari tulisan sebelumnya dengan beberapa revisi karena perkembangan studi kasus itu sendiri. Perlu disadari bahwa memilih sebuah pendekatan  atau metode dalam penelitian memiliki konsekuensi metodologis yang harus diikuti sejak tahap awal hingga akhir penelitian. Misalnya, bagaimana merumuskan masalah atau pertanyaan penelitian, bagaimana dan dengan cara apa data diperoleh dan dianalisis, dan pada akhirnya bagaimana pula menyusun thesis statement berupa proposisi sebagai hasil penelitian adalah konsekuensi metodologis yang harus diperhatikan.    

Termasuk memilih pendekatan studi kasus pun di dalamnya ada beberapa pertimbangan filosofis dan metodologis yang wajib dipahami oleh peneliti agar diperoleh hasil maksimal sesuai standar ilmiah. Karena itu, memilih suatu pendekatan penelitian tertentu juga bukan karena kebetulan atau dengan tiba-tiba. Bukan pula karena kebanyakan peneliti memilihnya. Ada pertimbangan filosofis yang tepat, sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian yang hendak dicapai. Karena itu, diperlukan perenungan. Jika tidak, studi kasus tidak ada bedanya dengan jenis studi yang lain, seperti etnografi, studi historis, studi tokoh, grounded research dan sebagainya.

Terlepas dari berbagai pro dan kontra mengenai kelebihan dan kekurangannya, studi kasus sangat menarik untuk diketahui, dipelajari dan dikembangkan dalam khasanah metodologi penelitian, baik bagi pemula maupun bagi yang sudah berpengalaman. Bagi pemula, penelitian studi kasus dapat dimulai dengan memilih hal-hal sederhana yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari tetapi memiliki keunikan atau kekhasan tertentu yang darinya dapat dipetik pelajaran berharga baik bagi keilmuan maupun kehidupan.         

  • Mengapa Memilih Studi Kasus?       

Sebelum membahas lebih lanjut mengapa memilih studi kasus berikut, terlebih dahulu dibahas makna studi kasus secara semantik. Studi kasus berasal dari terjemahan bahasa Inggris  ‘A Case Study’ atau ‘Case Studies’. Kata ‘kasus’ diambil dari kata ‘case’ yang  menurut Hornby (1989; 173), diartikan sebagai 1). “instance or example of the occurance of sth., 2). “actual state of affairs; situation”,  dan 3). “circumstances or special conditions relating to a person or thing”. Secara berurutan artinya ialah 1). contoh kejadian sesuatu, 2). kondisi aktual dari keadaan atau situasi, dan 3). lingkungan atau kondisi tertentu tentang orang atau sesuatu.

Masalahnya ialah kasus (case) sendiri itu apa? Yang dimaksud kasus ialah kejadian atau peristiwa, bisa sangat sederhana bisa pula kompleks.  Peneliti memilih salah satu  kasus yang benar-benar spesifik dan peristiwanya  tergolong  ‘unik’.  Creswell (2007: 74) menjelaskan ‘unik’ sebagai “.. the case presents unusual or unique situation”. Untuk menentukan ‘keunikan’ sebuah kasus atau peristiwa, Stake (1995) membuat pedoman sebagai berikut; (1) hakikat atau sifat kasus itu sendiri, (2) latar belakang terjadinya kasus, (3) latar fisik kasus, (4) konteks yang mengelilinginya, meliputi faktor  ekonomi, politik, hukum dan  seni, (5) kasus-kasus lain yang dapat menjelaskan kasus yang dipilih, dan (6) informan yang menguasai  kasus yang diteliti.

Creswell  (2007) menambahkan kasus yang dipilih merupakan ‘bounded system’, artinya terkait dengan kasus lain dalam suatu sistem. Sebuah kasus yang dipilih untuk diteliti merupakan kasus yang tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki tautan atau keterkaitan dengan kasus-kasus lainnya dalam suatu lembaga atau organisasi. Menurut Lincoln dan Guba (1985), dari kasus yang dipilih diyakini ada pelajaran yang dapat dipetik bagi peneliti dan masyarakat luas.      

Studi kasus merupakan salah satu jenis penelitian kualitatif, selain etnografi, fenomenologi, grounded research, etnometodologi, dan studi tokoh  (life history), walau sebenarnya juga bisa digunakan dalam penelitian kuantitatif dengan fokus pada upaya mencari hubungan antar-variabel pada kasus tertentu atau mencari sebab akibat suatu peristiwa dengan analisis statistik atau fokus  pada frekuensi atau penyebaran suatu gejala atau hubungan antara gejala dengan faktor lain. Menurut Creswell, (2007) studi kasus memiliki sejarah sangat panjang dan lahir dari perjumpaan banyak disiplin ilmu, terutama antropologi dan sosiologi.     

Stake (1995) menjelaskan studi kasus merupakan penelitian yang rinci dan mendalam tentang seseorang, sekelompok orang, atau sesuatu unit sosial tertentu di mana peneliti berusaha memahami kegiatan-kegiatan apa yang terjadi dengan menitikberatkan pada kekhususan dan kompleksitasnya dalam suatu lingkungan dan waktu tertentu. Secara lebih rinci, Bogdan (1982) menjelaskan studi kasus  sebagai kajian yang rinci atas suatu latar, atau satu orang subjek, atau satu tempat penyimpanan dokumen, atau satu peristiwa tertentu.    

Sementara Yin, sebagaimana dikutip Aziz SR (1998), mendefinisikan studi kasus secara lebih tegas dan bersifat teknis sehingga sangat membantu para peneliti sebagai suatu penyelidikan empirik mengenai fenomena dalam konteks kehidupan nyata, bilamana; batas-batas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan tegas; dan di mana; multi sumber dimanfaatkan. Studi kasus mengggunakan banyak sumber informasi melalui observasi, interviu, audiovisual, dokumentasi dan laporan-laporan tertulis terkait kasus yang diteliti.

Lingkup studi kasus pun beragam, mulai unit terkecil seperti invidu, beberapa individu, sekelompok individu, keluarga sekolah hingga unit sosial seperti masyarakat dengan berbagai kompleksitas dan keunikannya. Menurut Creswell (2007: 74) studi kasus tidak hanya fokus pada orang (individual), tetapi juga bisa pada kegiatannya (activity). Dalam khasanah metodologi, studi kasus dikenal sebagai studi yang komprehensif, intensif, rinci, dan mendalam serta lebih diarahkan sebagai upaya untuk menelaah masalah-masalah yang bersifat kontemporer dan menjadi perhatian publik. Studi kasus tidak meneliti suatu peristiwa yang telah usang, melainkan peristiwa yang aktual (real-life events) dan yang sedang berlangsung.  

Dari sisi dimensi terdapat dua macam jenis studi kasus; studi kasus longitudinal dan studi kasus cross sectional. Mengutip Hunt, Aziz SR (1998) menjelaskan studi kasus longitudinal berupaya mengobservasi kasus (case) yang dipilih dalam jangka waktu lama (bisa 1 hingga 2 tahun) secara terus menerus, minimal 6 bulan. Dalam rentang waktu panjang itu peneliti bisa mengikuti dengan cermat semua proses, gerak dan dinamika kasus tanpa henti, sehingga dapat menemukan kecenderungan apa yang terjadi. Sebaliknya, studi kasus cross sectional berusaha memperpendek waktu observasi dengan fokus pada beberapa hal khusus dengan melihat kecenderungan atau perkembangan yang terjadi. Seorang peneliti studi kasus bisa memilih longitudinal atau cross sectional, tergantung waktu dan dukungan finansial.

Dilanjutkan  Aziz S.R, dalam studi longitudinal, studi kasus dapat bersifat retrospektif dan prospektif. Studi yang bersifat retrospektif meneliti peristiwa yang telah terjadi dengan menggunakan yang telah ada, misalnya tentang hasil Ujian Nasional (UN). Sedangkan studi prospektif melakukan telaah data yang ada saat ini untuk dilanjutkan dengan pengamatan jauh ke depan dalam jangka waktu tertentu. Studi prospektif memerlukan waktu relatif lebih lama daripada studi retrospektif dan juga kemampuan prediktif peneliti.  

  • Pertanyaan Studi Kasus

Pertanyaan atau rumusan masalah sangat penting dalam penelitian karena dari masalah penelitian dimulai. Karena itu, pertanyaan penelitian harus memperoleh perhatian  serius dari setiap peneliti, termasuk studi kasus. Karena hendak memahami fenomena secara mendalam, bahkan mengeksplorasi dan mengelaborasinya, menurut  Yin (1994: 21) tidak cukup jika pertanyaan studi kasus hanya menanyakan  ‘apa’, (what),  tetapi juga ‘bagaimana’ (how) dan ‘mengapa’ (why).

Ditinjau dari sisi filsafat, studi kasus merupakan jenis penelitian berparadigma fenomenologisme. Dengan fenomenologisme berarti peneliti studi kasus harus memiliki kepekaan dan kecakapan untuk membongkar realitas yang tersembunyi di balik yang tampak. Sebab, fenomena atau praktik sosial sebagai objek penelitian studi kasus dan penelitian kualitatif pada umumnya tidak bersifat mekanistik, tetapi penuh dinamika dan keunikan. Semua terjadi karena ada intensi atau kehendak dari pelakunya dalam bentuk tindakan sosial.     

Terkait dengan pertanyaan penelitian studi kasus, Yin (1994) menekankan penggunaan pertanyaan ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’, karena kedua pertanyaan tersebut dipandang sangat tepat untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang gejala yang diteliti. Kedalaman pemahaman (in depth understanding) merupakan tujuan akhir penelitian studi kasus. Selain itu, bentuk pertanyaan akan menentukan strategi yang digunakan untuk memperoleh data.

Pertanyaan ‘bagaimana’ menanyakan proses terjadinya suatu peristiwa, sedangkan pertanyaan ‘mengapa’ (why) mencari alasan (reasons) mengapa peristiwa tertentu bisa terjadi. Untuk memperoleh alasan (reasons) mengapa sebuah tindakan dilakukan oleh subjek, peneliti harus menggalinya dari dalam diri subjek. Perlu diketahui bahwa peneliti studi kasus ingin memahami tindakan subjek dari sisi subjek penelitian, bukan dari sisi peneliti. Pada tahap ini diperlukan kerja peneliti secara komprehensif dan holistik. Semakin peneliti dapat memilih kasus  atau bahan kajian secara spesifik dan unik, dan diyakini sebagai sebuah sistem yang tidak berdiri sendiri, maka semakin besar pula manfaat studi kasus bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Lewat studi kasus sebuah peristiwa akan terangkat ke permukaan hingga akhirnya menjadi pengetahuan publik. (bersambung)

Visits: 76136
Today: 611

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *